AMERICAN ASSASSIN 3.1/5 Stars
“Hambarnya Aksi Balas Dendam”

Adegan pertama memperkenalkan Mitch Rapp (Dylan O’Brien) sebagai pemuda paling berbahagia di muka bumi. Lamarannya baru diterima sang pujaan hati saat sedang berlibur di pesisir pantai. Tak butuh waktu lama hingga keadaan berbalik. Sang kekasih meninggal di pelukan Mitch. Ia menjadi korban tembakan acak oleh teroris yang menggila.

18 bulan kemudian Mitch bertransformasi. Ia membiarkan rambut di sekujur wajahnya tumbuh lebat, bentuk tubuhnya dipenuhi otot, hingga fasih berbahasa Arab. Ia melakoninya demi dapat menuntaskan balas dendam kepada teroris yang membuat kekasihnya meninggal.

Mitch kini direkrut wakil direktur CIA, Irene (Sanaa Lathan). Ia pun digembleng di bawah arahan Stan (Michael Keaton). Pernah dinas di Angkatan Laut, sekaligus bertugas di Perang Teluk, Stan menggembleng Mitch dengan teknik tak biasa. Karakter Mitch yang pemberontak memicu konflik emosi dengan Stan.

Stan berulangkali menegaskan agar Mitch menjalankan tugasnya tanpa emosi dan menjauhkan dirinya dari hal personal. Ironisnya hal personal yang sedang ada di pikiran Stan. Mantan anak didiknya, Ghost (Taylor Kitsch) membelot dan sedang beraksi meluncurkan nuklir radioaktif yang akan meluluhlantakkan Amerika. Sekali lagi, motif Ghost bernama dendam.

Sebagai sebuah action thriller, film berdurasi 111 tak menampilkan hal baru dari seluruh lini. Di era penuh sesak agen rahasia Jason Bourne, 007 hingga Kingsman, American Assassin tampil nyaris tanpa inovasi. Adegan aksinya memang tak membuat ngantuk, tetapi biasa saja.

O’Brien telah berupaya keluar dari zona nyaman sebagai remaja idola saat berperan di seri The Maze Runner. Keaton tampak sekali lagi bersungguh-sungguh menerjemahkan karakternya, setelah tahun ini ia berlakon di Spider-Man: Homecoming. Keaton terlihat berupaya total dengan jeli memilah peran yang sesuai dengan kapasitasnya. Ironisnya Kitsch sebagai antagonis, justru digambarkan tak membekas. Kesadisan ditampilkan 2 dimensi saja, seolah tanpa jiwa.

Skenario yang kopong dan plot yang standar tertebak menambah parah tontonan ini ke tingkat menjemukan. Padahal landasan kisah Mitch Rapp ini bersumber dari novel karya Vince Flynn. Jika sukses secara komersil, maka berpotensi dibuatkan sekuelnya, sekaligus sebagai franchise baru keluaran kolaborasi Lionsgate dan CBS.

Judul yang sangat umum, American Assassin juga tak menggambarkan spesifikasi yang mampu menarik penonton untuk penasaran mendatangi bioskop. Keseluruhan hal medioker yang sering terjadi dengan diakhiri adegan akhir (hiperbolik?) yang membuat karakter Mitch kian super.

Film aksi kelas B ini hanya tampil sebagai hiburan ringan pelepas penat. Absennya greget sesuai dengan ekspektasi penonton yang memang tak berharap banyak. Karya sutradara Michael Cuesta (pemenang Emmy Award lewat drama seri Homeland) ini dirasa hambar dan tanpa nilai tambah.

Text by Pikukuh
Photo by hollywoodlife[dot]com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *