BAYWATCH 2.5/5 Stars
“Nostalgia dengan Formula Usang”

Tak sedikit jumlah serial televisi yang coba diangkat “kelas”-nya ke medium layar lebar. Bermotif jualan nostalgia ke penggemar lama sekaligus menggarap unsur kekinian untuk merebut hati penonton baru generasi milenial. The A-Team menjadi contoh gagal, dan dwilogi 21 Jump Street terbilang sukses. Akan mengikuti jejak versi film manakah Baywatch ini?

Adegan pertama film berating R (Restricted, khusus dewasa) ini saja langsung menggambarkan kepahlawanan jagoan kita, Mitch Buchannon (Dwayne Johnson). Deskripsi heroik berkarakter tanpa cela ini berbanding terbalik dengan sosok rekrutan baru Matt Brody (Zac Efron): peraih 2 medali emas Olimpiade yang congkak, egois, plus sembrono. Persamaan mereka hanyalah fisik penuh otot tanpa lemak.

Matt terpilih menjadi anggota anyar Baywatch bersama 2 rekannya, Summer (Alexandra Daddario) yang berdedikasi tinggi, dan Ronnie (Jon Bass) yang sudah dua kali tak lolos seleksi. Mereka bertiga bergabung dengan Stephanie (Ilfenesh Hadera) serta C.J. (Kelly Rohrbar) yang lebih dulu bergabung dan kini menjadi mentor.

Masalah yang perlu diselesaikan awak Baywatch ternyata tak sedangkal “hanya” menyelamatkan turis yang tenggelam. Hadirnya pencuri biasa hingga sindikat narkoba yang hendak menguasai properti di pesisir pantai pun dirasa menjadi tanggungjawab mereka. Tugas tambahan tersebut membuat para penjaga pantai berparas rupawan ini tak jarang harus berbenturan dengan pihak berwajib yang juga merasa berkepentingan.

Sosok antagonis di film arahan Seth Gordon ini diperankan oleh Priyanka Chopra. Karakter dan motifnya membawa penonton kepada pada era film bioskop atau televisi beberapa dekade lalu. Masih di seputar intrik perebutan aset, pemerasan, hingga transaksi narkoba.

Penggarapan konflik bergulir sangat biasa hingga ke taraf membosankan. Penyelesaian linear tak sepenuhnya salah jika ditangani penuh greget dan mengundang empati pada para tokohnya. Kedua hal inti tersebut yang absen di film ini. Tak ada nilai tambah yang coba ditawarkan pada versi bioskopnya, kecuali beberapa ornamen yang terlihat sekilas kekinian. Beberapa lelucon lumayan, namun lebih banyak pengulangan serta guyonan yang kian lama terasa biasa.

Formula nostalgia yang ingin disampaikan tim produksi rupanya menjalar hingga ke plot film yang usang dan penuh unsur kebetulan. Tak hanya ketinggalan jaman, namun juga justru mengkhianati penonton yang membayar tiket dan berharap lebih dari sekedar parade aktor-aktris kece. Rasanya seperti datang ke pesta reuni yang loyo, tanpa unsur keseruan.

Text by Pikukuh
Photo by thebaywatchmovie[dot]com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *