Punggung saya sudah agak nggobyos oleh keringat ketika tiba di 97.1 FM Life Radio Surabaya hari Sabtu (19/8) lalu. Maklum, saya mesti muter-muter sambil panas-panasan dulu demi mencari lokasi radio tersebut. Ditambah lagi harus mendaki tangga hingga lantai ketiga untuk menuju studionya. Phew. Tapi semangat saya tak surut, sebab hari itu adalah hari pertama pelaksanaan kegiatan #FreeBroadcastingLesson Vol.4 (#FBL4). Semangat tersebut bahkan sudah menyala-nyala sejak hari Senin (14/8), saat nama saya diumumkan sebagai satu dari enam peserta terpilih yang berhak mengikuti acara ini.

Sesuai judulnya, #FreeBroadcastingLesson Vol.4 ini adalah acara pelatihan broadcasting yang diadakan tanpa dipungut biaya alias gratis. Penggagasnya adalah komunitas Sing Your Mind yang memang bergerak dan dibentuk oleh orang-orang yang berkecimpung di bidang media dan penyiaran. Dalam tiga kali pertemuan selama tiga minggu, peserta yang telah melalui proses seleksi akan mendapat kesempatan untuk belajar tentang seluk-beluk dunia broadcasting langsung dari praktisi profesional. I am very fortunate to be one of the selected candidates.

Instruktur hari itu adalah Fabian Yudhistira, penyiar sekaligus music director dari 97.1 FM Life Radio Surabaya. Kak Fabian (yang sepintas mirip sekali dengan David Naif) membawakan materi tentang dasar-dasar siaran radio. Setelah sesi perkenalan singkat diantara semua peserta dan fasilitator, kak Fabian pun mulai memaparkan materi yang meliputi teknik olah vokal, konsep siaran, & air personality. Sesekali, kak Fabian menyelipkan contoh praktikal atau membagi beberapa pengalamannya yang masih berkaitan dengan materi yang diajarkan.

Usai sesi teori, tibalah waktunya praktik.

Sebelum pertemuan pertama #FBL4 berlangsung, kami sebagai peserta telah terlebih dahulu diberi pre-lesson project alias PR untuk membuat dua script siaran, satu topik umum dan satu topik tentang musik. Rekaman simulasi siaran dari script tersebut sudah dikirim ke grup WhatsApp. Tetapi, dalam pertemuan kemarin, kami diminta untuk membawakan kembali satu script tersebut di hadapan yang lain agar bisa langsung dikomentari dan diberi masukan. Saya pun ditodong jadi yang pertama tampil.

The thing is, membuat rekaman jauh lebih mudah karena (1) bisa dibuat di kamar atau di rumah, jadi nggak ada tekanan dari “penonton” (2) kalau salah bisa diulangi berkali-kali, lalu tinggal pilih take mana yang paling bagus untuk dikirim. Berhubung kali ini dituntut tampil secara live, meskipun cuma di hadapan segelintir orang, rasa grogi pun tak ayal datang menyerang. Sekalipun berbekal script, tetap aja pas ngomong agak belepetan. Baru call sign di awal aja udah salah. Hehehe

Akhirnya kami tampil bergiliran satu-persatu. Masing-masing penampilan akan dikomentari oleh satu peserta lain dan kak Fabian sebagai instruktur. Untuk penampilan saya, komentarnya adalah: mulut kurang dibuka, membaca masih terlalu cepat (karena grogi!), dan intonasi plus aksentuasi masih perlu diperbaiki. Komentar untuk peserta lain tentu berlainan, meski sebagian besar problemnya masih mirip-mirip: bagaimana cara membawakan script agar tidak terkesan “membaca”.

Kak Fabian membantu sekali dengan beberapa kali memberi contoh cara membawakan script dengan lebih luwes dan “berjiwa”. Dan jam terbang memang tidak bisa bohong. Script yang persis sama terdengar dan terasa jauh berbeda ketika dibawakan oleh penyiar asli yang sudah kawakan, dibanding peserta-peserta yang masih pupuk bawang. Sepertinya reremahan rengginang seperti saya ini memang harus berlatih sebanyak dan sesering mungkin untuk bisa mencapai level tersebut.

Setelah sesi praktik, acara masih dilanjutkan dengan diskusi tentang air personality dan professional attitude. Selain kak Fabian sebagai guest facilitator, kak Octian (@octian) dan kak Ian sebagai regular facilitator dari Sing Your Mind juga banyak memberi kiat bagi para peserta terkait cara membentuk karakter seorang penyiar saat sedang tampil on air. Sebagai media yang hanya bisa dinikmati secara audio, radio tak pelak membutuhkan orang-orang yang dapat menghidupkan theatre of mind dalam benak pendengarnya. Sebab itulah, karakter seorang announcer saat sedang siaran menjadi penting. Para fasilitator juga tak ketinggalan memberi nasihat soal professional attitude. Mereka mengingatkan, jika kelak kami berhasil berkarir di dunia broadcasting (aamiin), kami harus mampu menjaga sikap rendah hati dan keinginan untuk mau terus belajar.

Tanpa terasa dua jam telah berlalu. Dua jam yang terasa singkat. Sesungguhnya saya merasa masih “gatal” ingin menggali lebih banyak lagi pelajaran, tetapi paling tidak hari itu saya sudah bisa pulang dengan membawa bekal pelajaran yang keren dan pengalaman baru yang menyenangkan.

Kami pun menutup pertemuan pertama hari itu dengan sesi foto bersama. Pertemuan kedua dijadwalkan berlangsung pada hari Sabtu berikutnya (26/8), dengan instruktur dan lokasi yang berbeda. Ah, saya rasanya sudah tidak sabar!

Text by Ronny Fauzi (alumni #FreeBroadcastingLesson Vol.4)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *