DETROIT 4.1/5 Stars
“Perenungan Sejarah Kelam yang Masuk Akal”

Luka kelam bagi Amerika Serikat ternyata tak hanya peristiwa 9/11. Tercatat pernah terjadi kerusuhan terbesar sepanjang sejarah Negara Paman Sam itu pada Tahun 1967 di Detroit, tentang isu perbedaan ras.

Kisah nyata yang mencoreng keperkasaan negara adidaya ini dirasa layak diangkat ke layar lebar. Pemilihan Kathryn Bigelow, sutradara wanita berkulit putih, memicu pertentangan tersendiri. Ditakutkan sudut pandang yang bukan dari para korban kulit hitam itu akan mengarahkan gambaran yang berbeda. Mampukah sutradara yang juga mantan isteri James Cameron itu mengubah sangkaan masyarakat?

Cerita berfokus pada insiden di Hotel Algiers. Tembakan iseng yang berasal dari hotel ditujukan kepada sekelompok polisi. Pistol yang diduga hanya mainan belaka berujung pada teror yang berlangsung mulai malam hingga dini hari menjelang.

Pemimpin grup vokal Larry (Algee Smith) dan rekannya yang setia Fred (Jacob Latimore) terjebak di hotel setelah audisi yang gagal berantakan. Mereka hanya berada di tempat dan waktu yang salah.

Lalu ada 2 gadis kulit putih Julie (Hannah Murray) dan Karen (Kaitlyn Dever) yang tertangkap tangan sedang berada 1 kamar dengan pria kulit hitam Greene (Anthony Mackie). Pada masa sensitif (pria dan wanita berbeda ras berada bersama) adalah hal tabu, terlebih di kamar hotel.

Pencetus penggrebekan hotel berada di tangan Krauss (Will Poulter). Polisi bertemperamen tinggi itu berinisiatif memakai teknik interogasi khusus. Para penghuni hotel yang mayoritas kulit hitam diperlakukan tak layak. Pada akhirnya korban jiwa pun tak dapat dihindari.

Tak hanya penghuni hotel yang kena imbasnya. Penjaga keamanan berkulit hitam Dismukes (John Boyega) yang kebetulan berada di sekitar lokasi penembakan juga ikut terseret. Ia malah diduga sebagai komplotan pelaku. Hubungan dengan tragedi Hotel Algiers berlanjut hingga adegan persidangan dan setelah vonis.

Duet Bigelow – Mark Boal (penulis skenario) telah terbukti apik lewat The Hurt Locker (yang memberi mereka Oscar) dan Zero Dark Thirty (yang juga menempatkan nama mereka di daftar nominasi Oscar). Kolaborasi mereka di Detroit kini menuai ujian tersendiri. Respon publik tak sepenuhnya menyambut positif, meski kritikus memberi nilai di atas rata-rata.

Alur yang lambat di 1 jam pertama film menjadi pilihan Bigelow – Boal. Walaupun dirasa tak efisien, namun sebenarnya duet pemenang Oscar itu sedang memberi ruang pondasi kokoh bagi para karakter. Sekaligus menjelaskan asal muasalnya konflik kericuhan sejak hari pertama. Akibatnya durasi pun molor menjadi 143 menit.

Kelambanan dinamika plot ditebus Bigelow – Boal di 1 jam terakhir film. Konflik penghuni hotel versus Krauss dan anak buahnya berhasil mencapai titik puncak. Kisah nyata ini ditutup dengan akhir, yang ironisnya kian menegaskan kesenjangan ras.

Detroit memang bukan film terbaik Bigelow – Boal. Namun sebagai karya seni, film ini lahir dari pergumulan dan keresahan para produser. Film yang beredar di Indonesia sejak  15 September lalu ini menjadi persembahan tersendiri. Tribut berupa sejarah kelam dari sebuah negara yang konon (sempat?) mengagung-agungkan perbedaan.

Wujud keberanian plus kesungguhan Bigelow-Boal dan tim produksi yang masih masuk akal untuk direnungkan di era terkini sekalipun. Salut!

Text by Pikukuh
Photo by maxlazebnik[dot]com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *