DUNKIRK 4.1/5 Stars
“Puitisnya Ketegangan Bertahan Hidup”

Satu armada tempur tertembak armada Jerman. Pesawat yang dikendarai Collins (Jack Lowden) segera mendarat darurat di atas air. Perjuangan belum usai. Collins masih harus berjibaku menyelamatkan diri karena air laut terus menggenangi kokpitnya, sementara panel untuk keluar tak berfungsi. Penutup kaca yang melindunginya selama ini coba ia pecahkan, namun tak kunjung berhasil.

Insiden Collins bertahan hidup tersebut hanyalah satu dari berbagai adegan menegangkan yang dialami banyak tokoh dalam film berlatar belakang Perang Dunia II Tahun 1940 ini. Yang menjadi tulang punggung ketegangan tersebut jelas komposer Hans Zimmer. Iringan ilustrasi musiknya terdengar di nyaris seluruh durasi film. Tentunya dengan ritme sesuai kebutuhan alur. Tak sampai ke tahap yang mengganggu, tapi gubahan Zimmer justru membangun atmosfer solid.

Alur kisahnya sangat sederhana. Tommy (Fionn Whitehad) dan rekan-rekan seperjuangan di darat mewakili kawanan tentara muda yang terjebak di medan perang, menunggu tim penyelamatan datang. Lalu pria paruh baya, Mr Dawson (pemenang Oscar, Mark Rylance) berinisiatif menjadi sukarelawan perang dengan kapal pribadinya, hingga aksi heroik Farrier (Tom Hardy) saat menerbangkan pesawat tempur menggempur pilot Jerman.

Ketiga cerita utama tersebut dikisahkan bergantian dengan rentang waktu yang nantinya saling berkaitan sebelum atau sesudah subplot lainnya. Syukurnya tak ada drama berlebihan atau subplot romansa tak perlu. Tanpa basa-basi.

Dengan deretan aktor yang tak sedikit, film ini ironisnya kurang mampu memberikan sentuhan personal kepada para tokohnya. Memang penonton berhasil dibuat berharap-harap cemas seluruh tentara selamat dari serbuan Jerman, namun hanya sebatas itu. Empati kepada para tokoh tak mampu dikaitkan lebih erat lagi. Itu adalah konsekuensi dari penokohan seluruh karakter, yang penonton memotretnya hanya sebagai “para pria yang berjuang bertahan hidup”.

Film berdurasi 106 menit ini (durasi kedua terpendek dari seluruh filmografi Christopher Nolan) sangat unggul dari sisi teknis. Selain ilustrasi musik karya Zimmer yang mendukung, ketegangan perang mampu digambarkan dengan indah melalui gambar-gambar puitis. Sinematografi Hoyte Van Hoytema mampu memberikan sudut pandang yang luas, detil, termasuk adegan pada pesawat tempur.

Penyuntingan gambar, tata suara, dan penyuntingan suara menjadi kategori teknis lainnya yang patut mendapat nominasi Oscar. Dentuman ledakan, tembakan, riak ombak hingga deru mesin pesawat menjadi pengalaman sinematik tersendiri yang seolah menempatkan penonton di tengah medan perang.

Selain penokohan yang (tampaknya disengaja?) tak optimal, para aktor utama yang wajahnya masih cukup bersih (sebelum terkena cairan minyak) mengingatkan penonton akan sosok Gal Gadot yang masih jelita saat di medan tempur. Plot yang sederhana mengalir lancar, tetapi skenario yang ditulis juga oleh Nolan ironisnya belum mampu berbicara banyak.

Nolan memiliki visi jelas (ia pun juga menjadi salah satu produser film ini) dan paham bagaimana mengeksekusinya. “Tanda tangan” Nolan bertaburan di sepanjang film. Keunggulan dari departemen teknis belum cukup diimbangi dari non teknis, terutama akting dan naskah. Bagaimanapun juga, Dunkirk adalah pilihan yang spesifik, penuh presisi dan layak diapresiasi.

Text by Pikukuh
Photo by griffonmerlin[dot]com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *