32qGuj8SNGENEST 4/5 STARS
“Berdamai Dengan Masa Lalu dengan Menertawakan Kepahitan Hidup”

Pasca kesuksesan #Comic8 (2014), para komika mendapat tiket menuju popularitas sekaligus tawaran karier yang terbentang jauh lebih lebar daripada sebelumnya. Beberapa dari mereka tampil sebagai peran pendukung di banyak genre film, namun hanya sedikit saja yang beruntung‎ menjabat sebagai peran utama. Jika Kemal Pahlevi gagal total menarik simpati pada #TakKemalMakaTakSayang maka kini giliran Ernest Prakasa sebagai pemeran utama.

Komika keturunan Tionghoa ini sebelumnya telah meluncurkan buku (trilogi) bertitel #Ngenest yang secara mengejutkan menjadi best seller. Sesuai tagline-nya “‎Kadang Hidup Perlu Ditertawakan”, maka itulah yang terjadi di hampir sepanjang film. Kisah non fiksi hasil pengalaman pribadi Ernest ini dituangkan dalam film berdurasi 91 menit. Ceritanya yang ringan tapi bergizi membuat penonton tidak perlu berpikir rumit, sekaligus bukan suatu keharusan membaca bukunya terlebih dahulu.

Inti film ini sederhana. Ernest kecil memiliki trauma di-bully hanya karena sesuatu yang tidak dapat ia ubah: dilahirkan dalam etnis Cina. Kondisi fisiknya ini membuatnya tidak tahan, hingga memiliki kaul agar menghentikan lingkaran bullying sampai ke anak cucunya, dengan cara: mencari (calon) isteri pribumi. Logika Ernest: jika sang isteri adalah seorang pribumi, maka akan terdapat kemungkinan sang anak tidak bermata sipit dan tidak perlu merasakan penderitaan yang didapatnya sedari kecil.

Tak disangka Ernest berkenalan dengan Meira (Lala Karmela) yang jelas-jelas pribumi. Tidak mudah bagi Ernest memenangkan hati ortu Meira yang keturunan Sunda dan memandang sebelah mata keturunan Tionghoa. Singkat cerita, berkat kegigihannya, perjuangan Ernest menuai hasil memuaskan.

Setelah menikah, hubungan Ernest-Meira bergeser menjadi ‎konflik pasutri di mana setelah beberapa tahun menikah, Ernest masih belum siap memiliki anak. Di sisi lain, Meira dan orangtua mereka sudah mengharap hadirnya momongan. Konflik pun kian meruncing hingga terjadi perselisihan yang cukup menyesakkan.

Layaknya seorang tokoh utama, Ernest memiliki hopeng, Patrick yang setia sedari SD hingga dewasa. Plot hubungan bromance Ernest-Patrick dibangun dengan solid dan menjadi penunjang alur selanjutnya. Termasuk ketika adegan‎ menjelang klimaks, Patrick dan Ernest saling meluapkan emosi di tempat persembunyian mereka dari dunia. Terungkaplah beberapa hal yang membuat bonding mereka kian dinamis.

Sebagai pendatang baru Lala Karmela sanggup memerankan sosok Meira yang love-able sekaligus membumi. Chemistry Lala-Ernest menjadi sajian yang hangat dan menyenangkan di sepanjang kemunculan mereka di layar.

Sedangkan sosok Ernest ditampilkan jauh dari sempurna. Terkadang menyebalkan, namun tetap mengundang empati. Di sinilah salah satu kelebihan film ini, bahwa sang protagonis, tokoh utama, tidak dideskripsikan paling baik hati atau sengsara menahun demi tujuan menarik perhatian penonton. Ernest telah ‘memanusiakan’ karakternya sendiri. Mengakui kesalahan dan menampilkannya dengan wajar berhasil membuat penonton memahami kondisi emosional Ernest di kala itu.

Menjabat multi tasking sebagai sutradara, pemain utama, penulis skenario sungguhlah mengurasi fisik dan mental sang pengarang.‎ Di luar dugaan Ernest telah menunaikan tugas-tugas maha dashyatnya itu dengan nilai cemerlang! Terlihat bahwa kisah film ini dirancang dengan kejujuran dan dibuat dengan hati. Kesungguhan itu sampai terasa di benak penonton, bahkan ketika telah meninggalkan kursi bioskop.

Bagaimana ia merangkai beberapa konflik dengan seimbang, tidak memusingkan sekaligus‎ menjadi berbobot. Contohnya, konflik bullying SARA atau ketakutan atas ketidaksiapan memiliki keturunan sebenarnya menjadi isu yang sensitif, bahkan tidak mudah disampaikan.

Skrip yang dirancang juga terlihat luwes. Perhatikan bagaimana dialog interaksi saat Ernest dan Meira jadian, atau ketika konflik Ernest-Meira dan Ernest-Patrick ber‎jalan menemui titik puncaknya. Penonton pun secara tidak sadar dibawa bergantian tertawa dan menangis, mungkin sampai beberapa kali. Hanya seniman berbakat nan handal yang dapat membawa emosi penonton layaknya naik rollercoaster.

Dukungan lagu tema dari @TheOvertunes jelas sesuai dengan proporsi dan kebutuhan cerita. Banyaknya komika lain bertaburan di sepanjang film berusaha menambah unsur komedik. Beberapa tokoh pendukung yang sebenarnya tidak perlu,atau bahkan sedikit mengganggu pun dapat dimaafkan.‎ Poster film ini sebenarnya terkesan main-main, mengingatkan akan poster #KapanKawin yang juga terkesan remeh temeh, namun menyimpan amunisi luar biasa pada trio Adinia Wirasti-Reza Rahadian-Adi Kurdi.

Ernest telah sukses dalam debut film karya perdananya ini. Konon,ia banyak berguru ilmu pada seniornya, Raditya Dika. Bedanya jika Raditya Dika selama ini lebih banyak mengupas alter ego-nya sebagai jomblo yang tidak tampan namun berusaha tampil lucu dalam usahanya memikat lawan jenis, Ernest justru memposisikan diri untuk mengajak penonton bersama dirinya menertawakan masa lalunya. Menertawakan diri sesungguhnya ialah terapi jitu untuk berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu.

Besar harapan Ernest akan sukses selan‎jutnya di luar kisah non-fiksi-nya ini. Tidak sekedar one‎ hit wonder atas film perdananya yang menjanjikan, penuh ironi sekaligus hangat dan cerdas!


Text by @pikukuh22
Photo by Ngenest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *