SUSAH SINYAL 3.8/5 Stars
“Hubungan Berjarak, Konflik Memuncak”

Oma Agatha (Niniek L. Karim) menjadi penyeimbang sekaligus jembatan dalam keluarga Tirtoatmojo. Oma menjadi tempat bersandar sang cucu, Kiara (Aurora Ribero), di saat sang ibu (sekaligus orangtua tunggal) Ellen (Adinia Wirasti) sibuk mengejar karir. Terlebih Ellen sedang bersiap membuka kantor pengacara baru bersama Iman (Ernest Prakasa).

Isu besar muncul ketika Oma mendadak tutup usia. Hubungan berjarak Ellen-Kiara mau tidak mau, suka tidak suka, harus mulai dihadapi. Strategi liburan bersama pun coba diambil untuk mengurai masalah. Perbedaan karakter hingga jurang generasi menimbulkan percikan konflik dari hal sederhana, hingga memuncak di babak ketiga.

Karya ketiga Ernest ini tetap mengambil formula yang serupa. Jika di Cek Toko Sebelah, konflik drama bermuara di hubungan ayah-anak lelaki & kakak-beradik, maka fokus Susah Sinyal lebih sempit: relasi ibu-anak perempuan. Kedalaman konflik Ellen-Kiara digali perlahan diselingi dengan bumbu komedi oleh deretan komika di sepanjang durasi 110 menit.

Sayang, tak sedikit yang lelucon yang dragging, lalu berujung hit & miss, tak bernyawa (terutama tokoh Ge Pamungkas). Untungnya masih tertolong berkat akting paripurna Adinia Wirasti yang terlihat menelan habis karakter Ellen. Di tangan Adinia, tokoh Ellen tampak tangguh namun rapuh (baca: takut) ketika berhadapan dengan darah dagingnya sendiri.

Kemunculan barisan aktor pendukung tak sepenuhnya efektif. Asri Welas yang di Cek Toko Sebelah tampil singkat namun (amat) mencuri perhatian, justru muncul kurang greget meski ironisnya durasi tampilnya lebih banyak. Terlebih Chew Kin Wah yang karakternya sangat karikatural dan tak bertenaga, jauh performanya bila dibandingkan dengan Koh Afuk (Cek Toko Sebelah). Pencuri perhatian kali ini ialah Refal Hady yang mampu memerankan tokoh pemuda asli Sumba dengan luwes.

Elemen drama yang dipanggul  Adinia Wirasti menjadi pondasi yang solid berkat skenario tulisan pemenang Citra, Ernest Prakasa yang berkolaborasi dengan istrinya, Meira. Beberapa dialog ketika adegan drama tak diduga justru lebih mengesankan dibandingkan sekuens komedi yang terlihat terseret-seret.

Salah satu poin lebih Susah Sinyal adalah ketika Ellen & Iwan menangani kasus persidangan perceraian artis stripping. Solusi pilihan ditampilkan menjelang ending terlihat anti mainstream, sekaligus pantas dan mudah dipahami.

Ernest Prakasa terbukti konsisten menekuni bidangnya dengan berupaya membagi porsi drama & komedi dalam setiap karyanya (plus OST yang terdengar manis). Sebuah kisah kuat butuh alur drama yang relevan, menghangatkan hati, dan mampu terhubung dengan para penonton. Dalam hal ini, Ernest & Meira telah berhasil, walaupun masih banyak PR dari sisi komedi yang perlu dirombak.

Catatan: Adegan tambahan saat credit title adalah bloopers terkocak selama 2017!

Text by Pikukuh
Photo by detik[dot]com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *