10 Cloverfield Lane

10 CLOVERFIELD LANE 3.5/5 STARS
“Efisiensi Thriller yang Belum Mampu Menggedor Nurani”

 Mendengar judul Cloverfield, pikiran langsung tertuju pada thriller tahun 2008 yang menggabungkan gaya pengambilan gambar found-footage dengan teror kehadiran makhluk misterius yang menyerang New York. Pada jamannya, Cloverfield cukup mengguncang, meski kalau dilihat sekarang akan terlihat sangat payah. Kini, film yang diproduseri oleh J.J. Abrams (spesialis seri Star Trek, Mission Impossible, hingga yang terbaru Star Wars: The Force Awakens) ini dibuatkan varian gres-nya, 10 Cloverfield Lane. Sama-sama mengangkat istilah Cloverfield, apa saja persamaan kedua film ini dan jenis kesegaran apa yang coba ditawarkan film terbarunya ini?

Sedari awal film, penonton langsung dilihatkan tokoh utama kita, Michelle (Mary Elizabeth Winstead) yang sedang berkendara dan mengalami kecelakaan serius. Saat tersadar, ia sudah dalam keadaan tak berdaya, di sebuah bilik yang dikuasai oleh Howard (John Goodman). Howard mengaku kalau ia lah yang menyelamatkan Michelle, membawanya ke bunker sekaligus melindunginya dari udara yang beracun karena pengaruh nuklir atau radioaktif yang telah menjalar. ‎Mereka tidak sendiri, ada Emmet (John Gallagher Jr), yang turut diselamatkan Howard dan juga bersembunyi di dalam bunker.

Yang menarik justru bagaimana hubungan interpersonal antar 3 tokoh utama Michelle-Howard-Emmet. Bahkan sebenarnya tidak ada tokoh lain yang cukup berperan sebagai penggerak selain mereka bertiga. Fokus kisah yang menjadi karya perdana sang sutradara, Dan Trachtenberg ini berjalan lambat namun mengundang rasa penasaran akan dibawa kemana plot nasib Michelle? Penonton pun diajak menyimak melalui perspektif Michelle yang menemukan kepingan puzzle atas apa yang sesungguhnya terjadi. Mana yang menjadi kawan atau lawan? Siapakah lawan sesungguhnya?

Ketegangan coba dihadirkan melalui ruang sempit, motif antar tokoh yang serba abu-abu hingga teror misterius di luar bunker yang masih tidak jelas keberadaan atau bentuknya sekalipun. Menjelang 30 menit terakhir, ‎di saat ketegangan meningkat dan tabir misteri diurai, fokus penceritaan menjadi melebar dan berakhir dengan tidak mengesankan.

Mary Elizabeth Winstead bermain pas sesuai porsi, mengingat ternyata ia adalah satu-satunya pilihan produser untuk peran Michelle. John Goodman yang dulu pernah dikenal sebagai peran ikonik, Fred Flinstone, bermain bertenaga sekaligus me‎mbuat bingung Michelle sekaligus penonton yang mencoba merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Michelle.

Film yang hanya bermodalkan sekitar $15 juta namun mampu meraup $65 juta lebih di Amerika Utara dan Kanada ini memang menjual nama tenar sang produser, J.J. Abrams sebagai nilai tambah yang mengundang para penonton.‎ Abrams sendiri menganggap film ini masih “berhubungan darah” dengan Cloverfield (2008). Bukan hal yang salah, namun tampaknya sang sutradara debutan, Trachtenberg masih harus belajar banyak dari Abrams.

Dari sisi efisien dalam penokohan, film ini telah berhasil menunaikan tugasnya. Sayangnya, film ini belum dapat efektif dan konsisten untuk fokus membidik apa yang sesungguhnya terjadi, untuk kemudian menggedor benak penonton. Apakah sebenarnya monster yang lebih mengerikan daripada sekedar makhluk asing yang tidak kita kenal itu manusia?

Text by Pikukuh
Photo 10cloverfieldlane[dot]com

Tinggalkan Balasan