3 srikandi3 SRIKANDI 3.8/5 Stars
“Merayakan Perjuangan Pahlawan Olahraga Bangsa”

Selain MD Pictures, Multivision Plus‎ juga terlihat tidak ingin ketinggalan dengan merilis 3 Srikandi. Jadwal penayangan yang berdekatan dengan Olimpiade di Rio de Janeiro, Brazil Agustus ini menjadi contoh kecil langkah yang tepat dalam jadwal rilis. Tim produser, Raam Punjabi dkk pun mengundang para pejabat (termasuk Ahok) dalam pemutaran perdananya, untuk mendapat respon positif, yang kemudian dapat menjadi bahan berita alias sarana promosi di berbagai media.

Aksi tepat lainnya jelas menggabungkan Reza Rahadian & Bunga Citra Lestari (BCL) di film ketiga mereka. Habibie & Ainun dan My Stupid Boss adalah bukti kesuksesan duo Reza-BCL yang cukup menghibur sesuai genrenya, dibuktikan dengan raihan penonton masing-masing film mereka lebih dari 3 juta penonton dan kedua film tersebut masuk 5 besar Film Indonesia Terlaris Sepanjang Masa!

Faktor kebintangan Reza-BCL sangat memungkinkan menjadi jalan awal 3 Srikandi untuk menembus angka 1 juta penonton. Faktor Reza-BCL saja tidak cukup menghipnotis para penonton untuk berbondong-bondong ke bioskop jika memang secara materi atau konten film tidak baik. Nyatanya, kisah trio wanita pemanah yang berjuang di Olimpiade Seoul 1988 ini sudah memiliki basis cerita yang mengagumkan. Layak untuk diangkat ke layar lebar sehingga akan jauh lebih banyak lagi publik yang mengetahui sejarah pencapaian mereka.

3 Srikandi mencoba untuk mengenalkan tiga srikandi pemanah kita dengan problema masing-masing: Nurfitriyana (BCL) yang masih harus sibuk latihan sambil mengerjakan skripsi, belum lagi mendapat pertentangan dari sang ayah; Kusuma Wardani (Tara Basro), mantan pramuniaga yang memilih menjadi atlet daripada menerima tawaran sebagai PNS yang sudah digenggamnya; Lilies (Chelsea Islan) yang memiliki orangtua mantan atlet namun hubungan kasihnya dengan atlet lainnya belum mendapatkan restu.

Ketiganya mengikuti seleksi pelatnas di bawah bimbingan Donald Pandiangan (Reza Rahadian), yang lebih dikenal sebagai “Robin Hood Indonesia”. Bang Pandi, panggilannya‎ sempat menghilang setelah kecewa dengan pemerintah yang memboikot Olimpiade Moskow 8 tahun sebelumnya, sehingga membuatnya kehilangan kesempatan meraih medali. Yang awalnya meragu bahkan menolak, Bang Pandi pun akhirnya setuju melatih tim putri asalkan metodenya tidak dicampuri siapa pun, termasuk pengurus persatuan panahan, Pak Udi (Donny Damara).

Perjuangan 3 srikandi berlatih di bawah tempaan fisik dan mental Bang Pandi ini bukan main. Butuh proses, keuletan yang konsisten dalam berjuang. Unsur komedi dan romansa sempat dihadirkan sebagai penyela, tanpa mengganggu banyak plot utama.

Sayangnya masih banyak adegan klise khas film Indonesia bermunculan di sepanjang durasi 122 menit.‎ Drama pertentangan Yana dengan sang ayah, bahkan subplot perjodohan Lilies ditampilkan ala sinetron yang sangat umum. Belum lagi adegan jotos Bang Pandi dengan pelatih panahan lainnya dan tampilan korban kecelakaan salah satu keluarga atlet yang digambarkan hanya luka diperban di kening, tanpa terlihat buruk di depan layar. Hal-hal yang sebenarnya sekilas sepele namun makin lama makin mengganggu kepadatan cerita yang sebenarnya punya potensi untuk menjadi jauh lebih baik.

Tahapan tepat lain dari para produser yaitu dengan menggandeng komposer dan pencipta lagu ternama, Andi Rianto untuk menggubah lagu tema ‘Di Puncak Dunia’ yang juga dinyanyikan salah satu bintang utamanya, BCL. Ciri khas dramaturgi Andi Rianto di lagu ini sangat kentara dan bisa jadi menjadi salah satu soundtrack terbaik tahun 2016 sejauh ini.

Selain hattrick bagi pasangan Reza-BCL, 3 Srikandi juga menjadi hattrick bagi duo Reza-Chelsea. Sebelumnya mereka telah berbagi layar di Guru Besar Tjokroaminoto dan baru saja menjalin kasih tak sampai di Rudy Habibie. Interpretasi Reza terhadap tokoh Bang Pandi sesungguhnya semacam menyaksikan gabungan karakter Rudy Habibie dan Bossman. Bukan hal yang baru namun sekali lagi, Reza tampil di atas rata-rata.

Seandainya saja drama yang tidak perlu dapat diminimalkan dan scene ala sinetron bisa murni dihilangkan, maka 3 Srikandi akan berpotensi bukan saja sebagai salah satu dari sedikit film bertema olahraga‎ yang menginspirasi, namun juga menjadi film yang utuh sebagai karya seni. 3 Srikandi jelas bukan film terbaik tahun ini, namun pencapaian para srikandi pemanah Indonesia ini patut dirayakan dengan dibuatkan film yang pantas. Yana, Suma dan Lilies ialah pahlawan olahraga tanah air. 3 Srikandi cukup layak menjadi gambaran perjuangan mereka, walau masih jauh dari kata sempurna.

Text by Pikukuh
Photo by 21cineplex[dot]com

Tinggalkan Balasan