a copy of my mindA COPY OF MY MIND 3.6/5 STARS
“Puisi Cinta Berbalut Satir Politik”

Joko Anwar, sutradara yang lebih giat menggarap film ber-genre thriller (Kala, Pintu Terlarang, dan Modus Anomali), kali ini berputar haluan menggarap drama romantis yang terasa unik. Seperti Janji Joni, film ini terasa intim bagi dunia Joko. Jelas, karena berhubungan dengan dunia film (termasuk DVD bajakan) sekaligus sebagai bentuk surat, bahkan puisi cinta (namun benci) terhadap kehidupan Jakarta termasuk carut marut politiknya. Sudut pandang Joko dimanifestasikan ke dalam kehidupan kaum bawah yang cenderung polos namun tidak selalu bodoh.

Sari (Tara Basro, mendapat nominasi Aktris Terbaik FFI 2015 di film ini), seorang mbak-mbak pegawai salon spesialis facial dan lulur memiliki hobi nonton film (serupa dengan Joko!), terutama film bertema monster. Kegemarannya dituangkan di kosnya nonton lewat TV cembung jadul berukuran mini dan pemutar DVD merk Cina yang ala kadarnya. Impiannya sederhana yaitu TV layar datar berukuran raksasa. Tapi kamar kosnya sangatlah ala kadarnya, di hunian berisi 100-an kamar namun harus berbagi 10 kamar mandi.

Seruan sholat subuh membangunkannya setiap pagi untuk segera melakukan kegiatan rutinnya, termasuk mampir ke toko DVD bajakan‎ untuk mencari tontonan terbaru. Suatu ketika, DVD bajakan yang dibelinya memiliki teks (subtitle) Indonesia yang buruk. Ketika ia protes keesokan harinya, dipertemukanlah ia dengan sang penerjemah, Alek (Chicco Jerikho, pemenang Aktor Terbaik FFI 2014 Cahaya dari Timur Beta Maluku).

Alek adalah pria yang menopang hidup dengan bekerja sebagai penerjemah teks DVD bajakan level kroco dan menetap di kos “gratis” karena mengurus Bude‎, induk semang yang linglung serta dilupakan anak-anak kandungnya. Pertemuan Alex dengan Sari berlangsung cair yang membawa mereka ke pertemuan-pertemuan berikutnya. Pagutan mesra dan hubungan yang lebih intim membawa penonton untuk merasakan euforia cinta kaum urban yang terpinggirkan di tengah kerasnya kehidupan kota Jakarta.

Kebiasaan mengutil Sari membawanya ke masalah baru yang lebih kompleks. DVD salah satu kliennya yang dikiranya sebagai film monster ternyata adalah kepingan rekaman bukti pertemuan lobi politik beraroma korupsi yang melibatkan makelar proyek dan calon presiden yang sedang giat berkampanye. Barang bukti yang vital tersebut justru menyeret kehidupan Sari, bahkan Alek ke konsekuensi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Film ini menjadi menarik berkat chemistry kedua aktor-aktris utama yang saling membangun, dengan ditopang skenario yang luwes. Menggilanya cinta mampu menyeret penonton ke dalam dunia mereka, yang apa adanya. Walaupun cukup apik, chemistry Tara-Chicco‎ masih kalah dibandingkan Vino Bastian-Fahrani yang maha dashyat (Radit dan Jani) .

Film berbudget sangat tipis (total sekitar 250 juta saja dari dana sponsor dan 2 orang produser) ini menyatakan diri sebagai film yang efisien dan efektif. Minim kejutan memang, tidak seperti karya Joko Anwar sebelumnya. Gaya Joko Anwar tidak sejelas film-film sebelumnya namun banyak sentuhan yang tetap terasa signature-nya. Kecintaan Joko terhadap dunia film dan kota Jakarta, serta keprihatinannya terhadap politik suap, hingga potret realitas kejadian pemilu 2014 coba direkam senyata mungkin.

Departemen ilustrasi musik pendukung berusaha menciptakan detil bebunyian yang seorisinil mungkin ketika sang tokoh berada di tengah hiruk pikuknya Jakarta, di dalam metro mini hingga suara latar lagu dangdut yang ‎menaungi tempat tinggal Alek. Tidak heran persiapan pasca produksi membutuhkan waktu beberapa bulan, sedangkan proses syuting hanya beberapa hari saja.

Pada akhirnya Joko berhasil mengabadikan peristiwa di tengah Jakarta yang cukup nyata namun romantis dan destruktif di sisi lain. Kerja keras dari tim berbuah 7 nominasi Piala Citra 2015 sekaligus berkesempatan diputar di Festival Film Venice, Toronto dan Busan.‎ Film yang telah lebih dahulu berjaya di internasional ini, baru dapat dirilis luas di publik Indonesia mulai 11 Februari 2015. Film yang patut ditunggu,walau bukan film terbaik dari sineas seunik Joko Anwar.

PS: penulis mendapat kesempatan emas menyaksikan film ini bersama Juri FFI lainnya sekaligus bertemu dengan Joko Anwar dan Tara Basro, Senin 16 Nov 2015. Such an honor!

Text by @pikukuh22
Photo by merdeka[dot]com

Tinggalkan Balasan