aadc2
ADA APA DENGAN CINTA 2 3.8/5 STARS
“Berdamai itu Memang Tak Pernah Mudah”

Tahun 2002, Ada Apa Dengan Cinta menjadi salah satu pelopor tren kebangkitan film nasional, khususnya genre drama romansa (remaja), dengan raihan penonton lebih dari 2 juta orang. Kesuksesan AADC terletak pada kisah keseharian seperti drama persahabatan dan asmara remaja tanpa perlu bersusah payah t‎erlihat keren. Pemilihan para pemain yang tepat serta skenario berbalut puisi yang sudah lama tak digemari remaja menjadi sesuatu menyegarkan pada saat itu. Tidak heran Ada Apa Dengan Cinta menjadi salah satu dari sedikit film epik yang dapat menjadi “penanda” pada jamannya.

Tidak adanya rencana sama sekali untuk membuat sekuel Ada Apa Dengan Cinta dari para produser, membuat penggemar Ada Apa Dengan Cinta menyerukan harapannya kepada para produser utama, Mira Lesmana dan Riri Riza‎, terlebih di jejaring media sosial. Setelah selesai menggarap Pendekar Tongkat Emas dan melihat minat publik yang sedemikian nyaring, Mira dan Riri pun luluh juga. Mereka merasa memang perlu ada yang dikisahkan kembali pasca 14 tahun Rangga pergi ke New York meninggalkan Cinta.

Harapan publik akan kelanjutan kisah Cinta dan Rangga berbuah manis. Dian Sastrowardoyo berkali-kali mengungkapkan antusiasmenya di media sosial mulai sejak membaca pertama kali skenario yang disodorkan kepadanya.‎ Kelanjutan cerita Cinta dan Rangga sempat ditampilkan sekilas melalui salah satu media chat online. Sarana promosi yang cerdas, untuk kemudian dilanjutkan menjadi film utuh sebagai sekuelnya.

Kursi sutradara beralih dari Rudi Soedjarwo ke Riri Riza. Penulisan naskah dipegang oleh Mira Lesmana sendiri‎ dengan dibantu oleh Prima Rusdi. Memang, yang paling mengetahui karakter Cinta, Rangga dan tokoh-tokoh lainnya adalah Riri dan Mira. Konflik apa saja yang layak diangkat ke dalam film yang paling dinanti publik tahun ini dan bagaimana perkembangan para tokoh selama 14 tahun menjadi sesuatu hal menarik.

Layaknya sebuah film reuni, maka Mira dan Prima memutar otak bagaimana membuat sinkronisasi para tokoh yang telah tumbuh dewasa dan terpisah satu dengan yang lain. Untuk mendapat interaksi antar tokoh yang intens, dibawalah Cinta dan geng-nya dari hiruk pikuk ibukota ke kota lain yang menyimpan sejuta eksotisme, Yogyakarta. Dengan argumen bahwa mereka berlibur, pemilihan kota lain sebagai setting sungguh sangat sah dan mendukung alur cerita. Di Yogyakarta, hubungan antar Geng Cinta secara lebih karib dapat dibangun sebagai pondasi cerita yang kokoh‎ pada bagian awal film.

Tidak hanya teman-teman Cinta, Rangga pun (tidak sengaja) menyusul ke Yogya! Rangga yang selama ini tinggal di New York memutuskan ke Yogyakarta‎ karena ada isu lain dari masa lalunya yang masih mengganjal. Pertemuan Rangga dan Cinta untuk pertama kalinya setelah sekian tahun berpisah menjadi adegan (pertama) yang paling ditunggu-tunggu dan membuat penasaran!

Banyak kisah yang belum diungkap antara Rangga dan Cinta. Mira dan Prima mengemasnya menjadi suatu dialog perjalanan yang kian mendekatkan mereka selama sehari semalam. Permintaan maaf, ungkapan kekesalan, celotehan cerita dan bertukar kabar‎ mengenai banyak hal menjadi topik bahasan yang tidak membosankan untuk ditonton. Tengok ekspresi silih berganti Dian Sastro dan tatapan Nicholas Saputra yang menyiratkan kedalaman, tanpa harus banyak berucap.

Momen-momen emas banyak ditebar selama rekonsiliasi hubungan Cinta-Rangga, termasuk kecermatan produser dalam pemilihan sudut-sudut daerah di sekitar Yogyakarta yang jarang diketahui publik. Pada akhirnya ketika pagi menjelang dan Cinta harus kembali berpisah dengan Rangga, penonton siapa yang rela menyaksikannya? Chemistry Dian-Nicholas dibangun dengan solid.

Meski begitu, Ada Apa Dengan Cinta 2 masih menyimpan beberapa ganjalan penting. Di‎ jaman yang sudah dengan mudah terhubung via media sosial, tampaknya beberapa pesan yang sebenarnya bisa jauh lebih mudah disampaikan melalui aplikasi, rupanya harus dikomunikasikan bertatap muka langsung kepada si penerima berita. Tengok bagaimana salah satu anggota keluarga harus jauh-jauh pergi ke New York “hanya” untuk menyampaikan kabar kepada Rangga. Apa tidak bisa melalui aplikasi chat atau media sosial? Apakah jarak Yogyakarta-Jakarta-New York (dan sebaliknya) semudah naik ojek berbayar ke tempat tujuan?

Belum lagi terdapat konflik drama tambahan yang tidak perlu saat menjelang akhir film.‎ Ending-nya sendiri belum terlalu memuaskan dalam artian berbeda dari kebanyakan film sejenis. Kejutan emosi justru didapat ketika Rangga akhirnya memberanikan diri memutuskan berdamai dengan masa lalunya dengan mengunjungi tempat tujuan sebenarnya di Yogyakarta. Pada adegan tersebut, Nicholas menunjukkan performa akting terbaiknya, justru di saat tidak ada tokoh Cinta!

Tidak hanya Rangga yang harus berdamai dengan masa lalunya, ‎Cinta pun juga dihadapkan untuk bisa berdamai dengan Rangga yang telah men”jahat”inya (sesuai dialog mengena di trailer Ada Apa Dengan Cinta 2). Opsi yang sungguh tidak mudah dan tidak instant. Perbaikan hubungan Cinta dan Rangga selama hampir 24 jam menunjukkan tidak mudahnya proses berdamai itu sendiri.

Jika film adalah proses membuat-percaya (make-believe) suatu rangkaian kisah yang dibangun bersama maka Ada Apa Dengan Cinta telah membuat para penonton percaya. Percaya bahwa pertemuan Rangga-Cinta dan gengnya di Yogya adalah memang logis dan harus terjadi. Percaya akan‎ setiap ucapan dialog yang diungkapkan para karakter. Percaya bahwa sekuel ini memang dibuat karena kebutuhan cerita, bukan semata-mata karena alasan komersil saja.

Yang juga patut mendapat pujian ialah penempatan produk iklan yang sangat halus selama durasi 124 menit bergulir. Dari produk kecantikan, air mineral, es krim hingga maskapai penerbangan‎ disisipkan dengan halus tanpa terasa dipaksakan. Bandingkan dengan film Indonesia akhir-akhir ini yang sibuk narsis menjadi etalase produk sponsor di banyak adegan tidak perlu.

Unsur peran pendukung juga dieksekusi oleh Titi Kamal, Ardina Wirasti dan Sissy Prescillia sesuai tugasnya. Drama Karmen-Cinta dan sisi komedik Milli menjadi pelengkap yang tidak dapat disepelekan. Absennya tokoh Alya juga dijelaskan dengan baik.

Dengan raihan 200.000 penonton di hari pertama peredarannya, Ada Apa Dengan Cinta 2 menjadi kandidat kuat Film Terlaris 2016. Hitsmaker Riri dan Mira kian menguatkan posisinya di peta perfilman nasional yang dapat menyeimbangkan antara kualitas dan sisi komersil. Bravo!

Text by Pikukuh
Photo by [at]milesfilm

Tinggalkan Balasan