Kapan terakhir kali berolahraga?

Pertanyaan yang singkat, tapi bisa jadi kamu perlu waktu lama untuk menjawabnya! Karena sudah terlalu lama tidak berolahraga, sehingga kamu perlu waktu lama untuk memutar kenangan di otak dan mengingat kembali kapan terakhir kali berolahraga.

Tenang! Kalau kata penggemar tim sepakbola Liverpool: “You’ll Never Walk Alone” atau kamu tidak sendiri. Saya pernah ada di titik itu 3 tahun yang lalu. Sibuk bekerja, sehingga lebih memilih tidur daripada mengisi waktu luang untuk berolahraga.

Cara pandang itu berubah, setelah saya memutuskan untuk aktif kembali menjadi fasilitator komunikasi (MC, pembicara, dan juri). Menjadi publik figur (meski masih tingkat kelurahan hehe), mau tidak mau membuat saya harus menjaga penampilan. Memang, tujuan utama yang dicari oleh peserta atau penonton adalah kualitas ilmu dan nilai yang disampaikan dalam acara pelatihan atau hiburan. Tapi bukan rahasia umum, sosok tampilan fisik dari fasilitator menjadi hal pertama yang menentukan apakah suatu acara layak dihadiri atau tidak.

Sejak hari itu, saya mengubah pola hidup menjadi lebih sehat, dengan menerapkan 2 kebiasaan baru: olahraga secara rutin dan menjaga pola makan.

Olahraga (minimal) 3 Kali Seminggu.

Saya memilih olahraga lari. Membutuhkan waktu yang sedikit, tapi bisa mendapatkan hasil yang banyak. Cukup lari sepanjang 3 kilometer dengan kecepatan tinggi di pagi hari, membuat banyak keringat yang bercucuran berbanding lurus dengan kalori yang terbakar. Tidak banyak membuang waktu, sehingga saya bisa kembali bekerja dan berkumpul dengan keluarga.

Cheating Day (Hari Bebas) di Akhir Pekan.

Di hari kerja, Senin sampai Jumat, saya memulai pagi dengan mengkonsumsi buah-buahan.

Tidak lapar? Jawabnya: “Kalau lapar, saya isi lagi dengan buah, begitu seterusnya!”

Jam 11, saya baru menyentuh makanan berat seperti nasi beserta lauk pauknya. Hal yang sama saya ulang di malam hari, sekitar pukul 7. Prinsipnya makan berat hanya 2 kali dalam sehari. Jika mendadak lapar di luar jam makan berat, mengkonsumsi kudapan menjadi sah-sah saja, dengan syarat memilih kudapan yang sehat tanpa bahan pengawet. Pun minuman yang saya konsumsi hanyalah air putih, jus, atau air jeruk. Teh, kopi, apalagi soda, juga mimuman berbahan pengawet lainnya haram dikonsumsi di hari kerja.

Berbanding 180 derajat dengan aktivitas di akhir pekan. Semua makanan dan minuman yang sama sekali tidak saya lirik ketika hari kerja itu menjadi bebas saya konsumsi. Makan apapun yang ingin dimakan! Kecuali makan teman! hehe.

Pola makan berat juga tidak baku hanya 2 kali sehari. Mie instan, makanan favorit semasa kuliah, tidak pernah absen dari menu wajib di akhir pekan. Sabtu dan Minggu benar-benar menjadi hari yang ditunggu-tunggu.

Bukti yang Hakiki

Rutin melakukan 2 kebiasaan sehat itu membuat berat badan terkendali. Sampai hari ini, jumlah kilogram relatif tidak berbeda dengan semasa kuliah. Usia sudah memasuki kepala tiga, tapi pakaian semasa kuliah masih muat dipakai.

Selain membuat penampilan luar enak dipandang, pola hidup sehat juga bermanfaat untuk menjaga “keamanan” saldo rekening. Karena saya tidak perlu menyiapkan dana berlebih untuk belanja pakaian baru sebagai pengganti sandang lama yang sudah tidak muat. Sehari-hari, padu padan pakaian baru dan lama sudah cukup membuat saya tampil percaya diri ketika bekerja dan menjadi pembicara.

Hal lain yang memotivasi saya untuk terus konsisten menerapkan pola hidup sehat adalah dengan mengamati publik figur dari dalam maupun luar negeri yang bisa terus aktif dan “laku” hingga saat ini. Keberhasilan menjaga bentuk tubuh dan kesehatan berbanding lurus dengan derasnya pekerjaan yang diterima. Aktif berkunjung ke DokterSehat sangat membantu saya memeroleh info terkini tentang cara menerapkan pola hidup sehat.

Tapi ada 1 hal yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi saya: belum berani menjadi pendonor darah (karena takut jarum hehe). Padahal sudah beberapa kali saya mengetahui banyaknya manfaat donor darah dari Dokter Sehat.

Saya berjanji dengan diri sendiri, dalam waktu dekat akan segera merealisasikan PR saya ini. Selain tubuh menjadi sehat, donor darah juga bermanfaat bagi orang sekitar. Sama seperti tujuan awal saya menjadi pembicara adalah ingin berbagi ilmu dengan orang sekitar. Jadi, berbagi darah, kenapa tidak?

Text by Octian Anugeraha

Tinggalkan Balasan