Alice Through The Looking Glass
ALICE THROUGH THE LOOKING GLASS 2.8/5 Stars
“Daya Magis Itu Telah Sirna”

6 tahun setelah Alice in Wonderland mengejutkan dunia dengan visual yang menawan dan pendapatan total lebih dari US$‎ 1 milyar dollar dari seluruh dunia, kini sekuelnya dirilis dengan semangat yang sama oleh Disney Pictures. Masih menampilkan karakter-karakter lama, dengan tema persahabatan dan persaudaraan antar tokoh utamanya.

Alice (Mia Wasikowska) yang kini berprofesi sebagai kapten kapal merasa kecewa. Sepulang dari berlayar, ia menemukan sang ibu telah menggadaikan rumahnya kepada pria yang dulu pernah ditolak lamarannya, Hamish (Leo Bill). Untuk dapat menebus rumahnya, Alice diberikan pilihan agar menyerahkan kapal yang dibangga-banggakannya.

Di tengah kegalauan terhadap nasib kapal yang dicintanya, Alice secara tidak sengaja menembus kaca di dinding rumah‎ Hamish. Ia kembali dibawa ke dunia yang pernah dikunjunginya. Kali ini masalah menimpa Mad Hatter (Johnny Depp) yang mendadak murung, berbanding terbalik dengan karakter normalnya. Anomali Hatter yang drop bahkan jatuh sakit, bermula dari ditemukannya topi pertama yang dibuatnya. Rasa merindu terhadap keluarga membawa Hatter ke titik terendah.

Ratu Mirana (Anne Hathaway) bersama para sahabatnya menyarankan agar Alice menemui Time (Sasha Baron Cohen), sosok pengatur waktu (dan pencabut nyawa) yang memiliki alat penjelajah waktu sehingga kemuraman Hatter dapat dicegah.‎ Hubungan khusus Time dan Iracebeth (Helena Bonham Carter) memperkeruh konflik dengan Alice, Hatter dan Mirana.

Disney yang tergoda membuat sekuel untuk mengulang kesuksesan, rupanya harus menelan banyak kekecewaan. Pendapatan yang diperoleh Alice Through The Looking Glass turun signifikan dibanding pendahulunya. Bahkan untuk mencapai separuhnya saja sangat sulit. Bisa jadi penyebab turunnya film ini karena jadwal rilis perdananya Alice Through The Looking Glass di pekan yang bersamaan dengan munculnya isu KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) Johnny Depp dengan sang istri, Amber Heard. Publik masih mempertimbangkan isu di luar film seperti ini sebagai penilaian mereka.

Plotnya sendiri terbilang memaksakan. Repotnya mengembalikan kewarasan Hatter dan pengorbanan Alice masih lemah‎, cenderung membosankan. Penampilan Time yang dimaksudkan eksentrik justru mengganggu. Yang menarik justru sejarah hubungan persaudaraan Mirana-Iracebeth yang dikisahkan dalam kilas balik.

Sutradara jilid pertamanya, Tim Burton, mantan suami ‎pemeran Iracebeth (Helena Bonham Carter) kini hanya duduk di kursi produser. Penyutradaraan yang kini diambil alih James Bobin ini berusaha menangkap suasana film pertamanya. Namun yang tampak digambarkan hanya tampilan kemasannya saja. Sama seperti James Wan, sosok Tim Burton di bidang penyutradaraan sekuel lanjutan di genre ini belum tergantikan.

Secara visual memang masih bermain-main dengan warna kontras cerah atau kelam, namun film ini lemah dari plot dan minim kedekatan dengan penonton. Sosok Alice atau Hatter anehnya tidak mengundang empati penonton. Aktris kelas Oscar macam Anne Hathaway bahkan Johnny Depp berakting komikal yang kaku tanpa jiwa. Secara keseluruhan Alice Through The Looking Glass telah kehilangan daya magisnya untuk membawa penonton ke dunia lain yang penuh pesona.

Text by Pikukuh
Photo by forbes[dot]com

Tinggalkan Balasan