athirahATHIRAH 3.8/5 Stars
“Kedewasaan Pergumulan‎ Korban Poligami”

Nama tokoh sekaligus judul pastinya menjadi sentral kisah yang menggugah, bahkan mungkin menginspirasi dengan caranya sendiri. Athirah (Cut Mini) yang kebetulan adalah ibu dari Jusuf Kalla, Wakil Presiden Indonesia dimadu oleh suami. Isu poligami bisa terjadi di keluarga manapun, hanya saja kali ini terjadi di keluarga sosok penting, yang sempat dibukukan oleh Alberthiene Endah.

Isu poligami dituturkan secara halus, rapi dengan bahasa gambar dan gestur yang memikat, tanpa ada drama berlebihan. Hal yang menjadi kelebihan sekaligus kekurangan. Minimnya dialog tertutup berkat akting Cut Mini yang kaya rasa.‎ Tidak butuh adegan berteriak atau mengumpat sebagai ungkapan rasa galau dimadu oleh pria yang begitu dipercayainya.

Bagaimana ketika ia sedang mengandung anak keempat, sang suami meninggalkannya menikah dengan perempuan lain, sedangkan seantero warga menggunjingkannya, itu ditampilkan secara elegan. Beban berat itu ia simpan sendiri, terlebih di depan anak-anaknya. Adegan di meja makan ketika semua terdiam sambil kamera menyorot piring sang kepala keluarga yang masih tertutup rapi sudah menyiratkan keheningan yang menyiksa seluruh anggota keluarga.

Di sisi lain, minimnya bahasa verbal yang menggambarkan kegelisahan Athirah‎ sekaligus membuat penonton ikut berempati sekaligus resah. Apakah Athirah sebegitu pasrahnya diduakan suami pada zaman tersebut? Terlepas dari tugas mulianya sebagai ibu dari kelima anak. Ya, setelah poligami terjadi pun, Athirah pun kemudian berbadan dua kembali! Ucapan “walaikumsalam” yang selalu diucapkannya tatkala sang suami berpamitan pergi selalu terasa lirih berbalut sendu.

‎Duo penulis skenario, Salman Aristo dan (sutradara) Riri Riza, tidak membiarkan Athirah diam bermuram durja. Ia berjuang dengan caranya sendiri. Tanpa bergantung kepada suami yang telah menduakannya, ia mulai mandiri secara ekonomi. Terlebih, saat usaha suami menemui kebuntuan, Athirah rela berbesar hati.

Cut Mini tidak gemilang tampil sendirian. Jusuf Kalla, alias Ucu (Christopher Nelwan) tampil sebagai anak sulung, pengganti sosok imam sekaligus pemimpin keluarga.‎ Chemistry ibu-anak terjalin lancar, bahkan ketika Ucu merasa kesal dengan sikap ibu yang terlihat pasrah.

Gita cinta masa SMA sempat disisipkan menjadi subplot Ucu-Ida (Indah Permatasari) yang justru tidak mengganggu, bahkan memperkuat konflik utama. Sekali lagi konflik dijelaskan secara dewasa. Penonton pastinya dibuat berempati dengan Ucu, terutama Athirah.

Film berlatar belakang Bugis, Makasar ini menggambarkan nilai personal bagi Riri yang tumbuh di budaya tersebut. Konon, gaya perfeksionis Riri pun mempengaruhi bagaimana penyajian dan rasa makanan khas‎ Makasar yang harus sama dengan sebenarnya. Tidak hanya tampilan hidangan yang diwajibkan sama, namun rasanya pun juga! Padahal penonton hanya menyaksikannya saja, tidak sampai ikut mencicipi.

Sinematografi dan desain produ‎ksi film ini sungguhlah menawan. Detil terlihat dipersiapkan dengan konsep yang baik, termasuk kostum dan keseluruhan setting lokasi yang berlokasi di daerah asalnya. Para tokoh pun tidak segan memakai bahasa daerah Bugis, ketika dibutuhkan, tidak seluruhnya menggunakan bahasa Indonesia, semata-mata karena alasan komersil saja.

Patut disayangkan, bagian akhir film ini dieksekusi dengan dramaturgi yang menukik menurun. Entah Riri terlalu terburu-buru mengakhirinya atau ingin menampilkan kesan alasan tertentu. Padahal durasi total pun tidak mencapai 90 menit. Kesimpulan yang diceritakan pun terdengar sekilas, tanpa memberi gong yang mengesankan untuk dibawa pulang penonton .

Pakem film biopik yang bertutur sepenggal kisah hidup seseorang biasanya memberi gambaran kepada penonton momen-momen hidup‎ penting nan genting dari tokoh utama, yang diharapkan memberi nilai tambah kepada penonton. Athirah telah menunaikan misi tersebut dengan mulus dari awal hingga pertengahan, namun diakhiri tanpa kesan mumpuni. Sayang…

Text by Pikukuh
Photo by movie[dot]co[dot]id

Tinggalkan Balasan