batman-v-superman

BATMAN V SUPERMAN DAWN OF JUSTICE 4.3/5 STARS
“Awal Alam Semesta DC yang Mengguncang”

Setelah kesuksesan sinematik alam semesta Marvel Comics yang mengguncang perfilman dunia, DC pun tergiur dan tidak tinggal diam. Kisah multi superhero sambung-menyambung dalam berbagai film telah disiapkan Marvel dan DC sampai tahun 2020. Langkah awal DC Comics membentuk alam semestanya dimulai dari film ini.

Dua daya tarik utama, tokoh Batman/Bruce Wayne (Ben Affleck) dan Superman/Clark Kent (Henry Cavill) dihadirkan berseteru dengan tambahan debut Wonder Woman (Gal Gadot) dan cameo beberapa superhero yang akan dimunculkan dalam seri Justice League : The Flash, Aquaman, Cyborg. Tidak hanya duel maut antara kedua jagoan kita. Mereka butuh musuh yang lebih grande alias maha dashyat lagi untuk dikalahkan. Peran antagonis tersebut bermula dari Lex Luthor (Jesse Eisenberg) yang memiliki agenda tersendiri, termasuk mengadu-domba para jagoan kita.

Di awal film, langsung dikisahkan ulang kisah masa lalu kelam Bruce Wayne yang sebagian besar penonton sudah mengetahuinya. Berlanjut saat kejadian 2 tahun lalu Man of Steel saat Superman bertarung dengan General Zod yang meluluhlantakkan Metropolis dan membawa luka bagi kehidupan Wayne. Hal itu membawa Wayne berada di pihak yang berseberangan dengan Superman.

Di sisi lain, kehadiran Superman di tengah masyarakat menjadi dualisme tersendiri, pro dan kontra. Apakah dia adalah representasi Dewa yang tidak terkalahkan oleh aturan manapun? Jika iya, maka ada kemungkinan sosok Superman dapat berlaku semaunya sendiri alias kontra-produktif terhadap lingkungan dan warga, yang ujung-ujungnya tambah membawa malapetaka untuk sekelilingnya. Dilema ini sampai menyeret ke urusan negara dan berujung teror yang dimanfaatkan pihak oportunis lainnya.

Perkelahian Batman vs Superman ini akan membuat penonton merasa dejavu saat menonton Captain America Civil War bulan depan . Bedanya di alam semesta Marvel yang terjadi adalah Captain America vs Iron Man. Sosok Superman dan Captain America pun dikisahkan sekilas identik: sama-sama bermula dari tokoh yang dipuja bangsa, namun menjadi ambigu ketika sosok tersebut tidak dibatasi aturan yang mengikat. Lalu timbul pertanyaan dan konflik yang sekilas bersisian.

Henry Cavill masih berperan manis (baca: aman) sebagai sosok Superman/Kent yang sigap menolong pujaannya, Lois Lane (Amy Adams). Untuk ukuran aktris langganan nominasi Oscar, Adams sebenarnya dapat lebih dieksplorasi lagi. Sosok Alfred, asisten setia Wayne, kali ini dipercayakan kepada Jeremy Irons, yang lebih berperan aktif dalam membantu Batman beraksi.

Pujian khusus patut diberikan kepada Affleck. Semenjak terpilihnya dia sebagai ‘The Next Batman’ dipublikasikan, penolakan dan bullying banyak ditujukan kepadanya. Bukan salah publik mengingat bagaimana histori ketika Affleck menjadi sosok Daredevil (2003) yang mengecewakan. Malah sebenarnya Affleck dikabarkan telah ditawari menjadi sutradara Man of Steel namun justru ditampiknya.

Keputusan sang sutradara, Zack Snyder (300, Watchmen, Man of Steel) yang juga turut berperan memilih Affleck terbukti tidak salah. Peraih 2 Oscar (Good Will Hunting, Argo) ini mampu menginterpretasikan sosok Wayne yang mulai memasuki masa senja dengan kegelisahan dan sorot mata yang mendukung. Affleck pun rela berlatih keras membentuk fisik sehingga mampu menambah 20 pon massa otot dan mengurangi kadar lemak sampai hanya tinggal 8% saja. Pengorbanan dan dedikasi yang setimpal! Kabarnya setelah pemutaran perdana eksklusif ke para produser, mereka justru meminta Affleck memerankan Batman di 3 film selanjutnya!

Di sisi lain Eisenberg berusaha menterjemahkan Luthor dengan versinya sendiri. Jelas memang jauh dibanding karakter Joker (Heath Ledger) dan masih di atas interpretasi Kevin Spacey saat berperan serupa di Superman Returns. Eisenberg masih tampil berusaha keji, namun belum dapat meresahkan hati penonton hingga ke level kronis.

Secara keseluruhan (sayangnya) konflik berlapis yang ditulis David S. Gouer dan Chris Terrio ini terasa padat tapi dibangun dengan kurang mulus. Begitu cepatnya interaksi antara Wayne dan Kent sehingga dapat membuat kesimpulan identitas satu sama lain yang sebenarnya belum kokoh. Ditambah lagi hubungan Luthor dan keduanya yang terasa instan untuk dapat menjadi penggerak menuju permasalahan utama. Durasi 152 menit terasa penuh namun masih goyah alias belum solid di dalamnya.

Berjejalnya hubungan antar tokoh sebenarnya termasuk mudah dimengerti, namun terasa “hanya” dijadikan alat untuk segera masuk ke adegan pertarungan demi pertarungan yang dapat membuat penonton menahan nafas dan lalu, berteriak kegirangan. Ilustrasi musik dari pemenang Oscar, Hans Zimmer dan Junkie XL menambah seru adrenalin penonton.

DC Comics bukanlah Marvel yang penuh warna dan atmosfer riang. Pilihan DC untuk (hampir) selalu tampil serius, gelap sudah menjadi ciri khas tersendiri dan tidak ada yang salah dengan itu. Sutradara trilogi The Dark Knight kini duduk menjadi salah satu produser eksekutif. Snyder bukanlah Nolan. Gaya Nolan yang sibuk berteka-teki sambil membangun dramaturgi ketegangan yang apik tidak ditemukan di sini. Meski sesungguhnya pendekatan Snyder tetap mengesankan.

Kelebihan film yang rilis di Indonesia 2 hari lebih cepat dibanding negara asalnya juga terletak pada bagian akhir cerita yang cukup mencengangkan. Dramatis dan tragis, namun dipastikan akan menjadi penyambung episode berikutnya dalam alam sinematik DC. Suicide Squad pun sudah disiapkan DC pada Agustus mendatang.

Film ber-budget sekitar $250 juta ini adalah awal yang mengguncang sebagai ice breaking. Namun butuh dari sekedar guncangan untuk membuat film superhero yang mampu menyampaikan substansi esensial sekaligus menghibur. Nolan telah terbukti berhasil mengeksekusinya, dengan nilai cemerlang. Gaya berbeda Snyder belum mampu membawa film ini ke level tersebut.

PS: DC bukanlah Marvel. Tidak akan ada adegan tambahan setelah credit title tuntas.

Text by @pikukuh22
Photo deadline[dot]com

Tinggalkan Balasan