beauty and the beast
BEAUTY AND THE BEAST 3.6/5 Stars
“Adaptasi Kekinian Yang Lekang Oleh Waktu”

Setelah kesuksesan Alice in Wonderland, Maleficent, dan Cinderella, kini giliran dongeng Beauty and The Beast yang diadaptasi versi live action-nya oleh Disney. Kisah kasih pangeran yang (dikutuk menjadi) buruk rupa dengan gadis biasa ini pernah dibuat animasinya tahun 1991. Capaian yang sulit ditandingi mengingat versi pendahulunya masuk nominasi Film Terbaik Oscar 1992, sekaligus memenangkan trofi Lagu Tema dan Ilustrasi Musik Terbaik. Akankah pencapaian yang sama dapat ditorehkan kembali oleh karya Bill Condon ini?

Adegan sang pangeran (Dan Stevens) yang dikutuk penyihir misterius menjadi The Beast berlangsung di awal film. Hanya rasa cinta yang mampu mengembalikan kutukan The Beast beserta seluruh penghuni istana, sebelum kelopak bunga mawar terakhir jatuh, lalu membusuk. Jika sampai terjadi, maka kutukan akan permanen.

Film ini menyoroti kehidupan Belle (Emma Watson, bukan Stone ya) sebagai gadis belia di tengah pedesaan kecil di Perancis. Ia dianggap tidak normal karena berbeda dengan gadis kebanyakan. Hobi membaca membuatnya dijuluki kutu buku. Inovatif tapi justru disebut aneh. Belle resah, merasa dirinya lebih dari sekedar hanya ditakdirkan untuk menetap di pedesaan dan menerima pinangan Gaston (Luke Evans).

Maurice, ayah Belle (Kevin Kline), tertangkap basah oleh The Beast saat berusaha mengambil mawar, yang akan diberikan kepada putri tunggalnya. Janji rutin Maurice untuk Belle tersebut membawanya ditawan di kastil megah The Beast. Belle pun mengambil inisiatif mengambil tempat sang ayah untuk ditahan The Beast. Sosok The Beast yang kasar nan egois berbenturan dengan karakter Belle yang lantang, sekaligus lembut.

Faktanya, plot cinta segitiga tak menampilkan hal baru yang greget. Begitu juga alur datar yang nyaris membosankan. Untungnya karakter para pendamping The Beast, Lumiere (Ewan McGregor), Cogsworth (Ian McKellen), Mrs Potts (Emma Thompson) bersama anaknya Chip, memberi unsur humor menyegarkan.

Film berdurasi 129 menit ini hanya memberikan nilai tambah di beberapa bagian. Misteri keberadaan ibu Belle dijelaskan di film yang menghabiskan estimasi budget $US 160 juta. Anggaran sedemikian fantastis itu dioptimalkan untuk menggambarkan tampilan fisik The Beast dengan teknologi CGI dan capture-motion. Termasuk efek visual Lumiere dan para kawannya yang terkadang menggemaskan.

Ariana Grande-John Mayer mendapat kehormatan menyanyikan ulang lagu tema klasik pemenang Oscar ikonik. Sayangnya aransemen yang lemah membuat versi barunya terdengar dinyanyikan tanpa jiwa. Di luar kehampaan versi terkini lagu tema utama, deretan lagu baru dan lama lainnya masih menarik. Walau di beberapa lagu, porsinya tampak berlebihan dan memenuhi durasi.

Jika saja sedari awal Emma Watson boleh memilih, sebaiknya dahulu ia menjatuhkan pilihan pada peran Mia di La La Land. Karakter yang hampir diperankannya sebelum Emma Stone masuk. Tak berjodoh memang. Berkat pilihan yang telah dibuat, piala Oscar Aktris Terbaik pun telah diraih Stone, bukan Watson.

Keberadaan tokoh Josh Gad, pemeran LeFou, karakter LGBT pertama dalam film Disney tampil belum optimal. Sebagai pendamping Gaston yang hanya berfungsi sebagai pengundang senyum simpul atau membuat penonton mengernyitkan dahi. Tanpa efek pada plot cerita yang seharusnya dapat lebih signifikan. Perbedaan beberapa karakter sampingan coba diperkenalkan Disney terhadap potret masyarakat yang memang bermacam-macam.

London bukanlah Chazelle. Film bergenre drama musikal ini masih jauh tertinggal dari film peraih 6 Piala Oscar, La La Land. Juga sulit menyaingi versi animasi klasiknya. Alhasil film ini hanya menjadi sebatas penceritaan ulang dongeng lawas, dengan 2 pangsa pasar utama: generasi milenial, sekaligus para senior yang hendak menengok kisahnya kembali. Strategi komersil yang cukup berhasil namun ironisnya adaptasi kekinian ini akan lekang oleh waktu.

Text by Pikukuh
Photo by disney[dot]au

Tinggalkan Balasan