Ramadhan seringkali dipilih sebagai titik awal untuk memulai hal yang baik, begitu juga dengan kami. Tepat di bulan yang sama, dua tahun lalu, saya (Octian Anugeraha) dan satu partner (Ian Manan) memutuskan untuk membuat social movement, berupa kelas kecil untuk belajar public speaking dan broadcasting yang free alias gretong. Saat itu, kami yang sama-sama berprofesi sebagai penyiar radio, ingin melakukan hal kecil, tapi bermanfaat.

Munculah nama #FreeBroadcastingLesson, kelas kecil yang bisa diikuti oleh 6 peserta terpilih. Kami berdua tidak sendiri, ada beberapa penyiar radio, presenter TV, dan MC profesional yang kami ajak untuk menjadi facilitator (pengajar). Siapa saja boleh mendaftar, tapi demi kualitas belajar mengajar yang maksimal, kami hanya memilih beberapa saja. Isian di form pendaftaran menjadi acuan kami untuk memilih peserta. Dikemas dalam diskusi dua arah yang terstruktur, dengan studio radio dan cafe sebagai tempat belajar, kami ingin menciptakan ambience belajar menjadi fun dan menghibur.

Entah kenapa, kami ketagihan untuk mengulang aktivitas yang sama 2 bulan selepas Ramadhan. Animo calon peserta yang tinggi, membuat kami cukup kesulitan ketika harus memilih 6 orang peserta yang berhak mengikuti program dengan frekuensi 3 kali pertemuan ini.

Antusiasme tinggi, membuat kami harus membuat kelas dengan kuota yang berlebih. #FreePublicSpeakingClass, program baru di bulan berikutnya. Dengan konsep yang sedikit berbeda, hanya 1 pertemuan, dikemas lebih menghibur dengan penampilan musik akustik sebelum kelas dimulai. Formasi pengajar tidak berubah, kami berdua dibantu 1 MC Profesional sebagai guest facilitator (pengajar tamu).

Ramadhan 2017. Tidak terasa sudah setahun kami rutin menyelenggarakan kelas gratis. Dari ratusan alumni, tidak sedikit yang bekerja di media, seperti penyiar radio dan presenter TV, bahkan saat itu ada 2 alumni yang menjadi public relation perusahaan nasional.

Seketika itu, kami berinisiatif membuat Public Speaking Workshop dengan alumni yang sudah bekerja di media sebagai narasumber, dan ditutup dengan buka puasa bersama. MC Profesional yang pernah menjadi pengajar tamu pun juga kami undang untuk menyambung silaturahmi sekaligus buka puasa bareng. Satu hal yang baru, alumni menjadi pengisi acara, sedangkan kami dan para pengajar tamu menjadi penonton.

Workshop itu menjadi acara tidak gratis kami yang pertama. Tapi kami tidak mengambil keuntungan, karena seluruh rupiah yang dibayarkan oleh peserta workshop dikembalikan dalam bentuk menu buka puasa yang ditata secara buffet.

Bulan puasa tahun lalu benar-benar menjadi turning point kami, yang sepakat mundur sebagai pengajar. Kami berdua memilih untuk fokus di belakang layar dan membuat konsep kelas yang lebih menghibur demi output alumni yang lebih maksimal. Mulai saat itu, secara bergantian beberapa alumni yang bekerja di media menjadi pengajar.

Kerelaan kami berdua untuk mundur dari stage sebagai pengajar, ternyata dibayar kontan oleh Tuhan. Animo masyarakat terhadap social movement bernama SINGYOURMIND ini semakin meningkat. Benar-benar di luar ekspektasi awal kami. Sekarang, kami merasa sudah saatnya tidak hanya membagikan ilmu public speaking, tapi juga perlu menularkan ilmu how to create the event. Karena untuk membuat event gratis dengan kualitas yang tidak kalah dengan event berbayar, perlu ada people behind the scene yang super kreatif.

Tahun ini kami membuat internship, program baru bagi alumni untuk mengasah kemampuan dealing dengan sponsor dan membuat konsep event, juga meningkatkan leadership. Karena public speaking skill tidak hanya diperlukan ketika menjadi MC di atas stage, tapi juga bermanfaat untuk keseharian seperti ketika berdiskusi dengan orang lain.

Ramadhan 2018, program internship memasuki angkatan yang kedua. Terbukti, variasi event semakin berwarna dengan kehadiran alumni yang tergabung dalam program magang ini. Banyak ide segar yang datang dari anak-anak muda yang kreatif itu. Contohnya #LiveTalkshow, alumni peserta magang yang menjadi host, dan inspiring people seperti TV Host, Youtuber, atau Influencer menjadi narasumber. Saat ini, kami berdua benar-benar berada jauh di belakang layar, karena yang menjadi people on stage sampai people behind the show adalah alumni peserta magang.

Tepat di bulan puasa tahun ini, social movement kami memasuki tahun ketiga. Ada 1 hal yang tidak berubah: kami konsisten membuat event secara gratis untuk masyarakat yang membutuhkan. Kami bahkan tidak mengeluarkan sepeser pun, karena sebagian besar event didukung oleh sponsor.

Semakin ke sini, saya jadi semakin sadar bahwa saya tidak dapat mencapai titik ini jika berjalan sendiri. Satu partner yang saya punya ketika membangun social movement ini 2 tahun lalu, sekarang tidak hanya menjadi rekan kerja, tapi juga keluarga baru saya. Bahkan, pasangan dan anak-anak kami saling mengenal dengan baik. Lebaran yang identik dengan berbagi galak gampil (angpao), juga saya terapkan kepada anak-anak dari partner saya.

Tahun ini saya ingin memberikan yang berbeda untuk mereka. Bukan fresh money, tapi saya mengisikan paket data melalui aplikasi TCASH yang ter-install di smartphone saya. Pasti jauh lebih bermanfaat untuk anak dari partner saya yang sedang hobi upload konten kreatif di akun youtube-nya. Tidak hanya memanfaatkan TCASH untuk anak-anak, tapi di beberapa meeting dengan partner, saya juga sering bertransaksi #pakeTCASH, karena banyak diskon di banyak merchant pilihan. Cara pakainya pun sangat praktis. Kemudahan transaksi melalui TCASH sangat membantu mimpi saya untuk #JadiBaik dan lebih bermanfaat di Ramadhan tahun ini.

Text by Octian Anugeraha

Tinggalkan Balasan