bridget-jonesBRIDGET JONES’S BABY 3.6/5 Stars
“Menebak-Nebak Sang Ayah Biologis”

Pasca dwilogi Bridget Jones’s Diary (2001) dan‎ Bridget Jones: The Edge of Reason (2004), para produser merasa masih ada yang perlu disampaikan dari kelanjutan kisah cinta gadis yang menginjak usia 43 tahun ini. 12 tahun berselang sejak sekuel terakhirnya, masihkah ceritanya memikat dan ditunggu para penggemar?

Di hari ulang tahunnya, Bridget harus menghadiri pemakaman Daniel Cleaver (Hugh Grant) yang diceritakan tewas dalam kecelakaan pesawat meski jasadnya tak ditemukan. Kesibukan para sahabat dan‎ rekan kerja membuatnya terpaksa merayakan ulang tahunnya, sendirian lagi. Kondisi hidup yang “garing” ini tidak jauh berbeda sejak ia berpisah dengan Mark Darcy (Colin Firth).

Penat dengan hidupnya, Bridget bersama temannya datang ke festival musik. Dalam keadaan konyol dan ceroboh (seperti biasa),‎ ia berkenalan dengan pria tampan asal Amerika, Jack Qwant (Patrick Dempsey). Hal berlanjut hingga insiden salah masuk tenda, dan Bridget-Jack mengalami cinta satu malam.

Sekembalinya ke rutinitas hidup, Bridget secara tidak sengaja dipertemukan kembali (dua kali) dengan Mark. Berawal dari curhat tentang istrinya yang sedang bermasalah, Mark pun terlibat hubungan singkat satu malam dengan Bridget.

Masalah muncul ketika di usianya yang tidak lagi muda, Bridget menyadari dirinya hamil. Ia pun pusing memperkirakan siapakah ayah anaknya: Mark atau Jack? Dokter kandungan (Emma Thompson) pun tak berani menentukan.

Separuh durasi film dihabiskan dengan hubungan segitiga Mark-Bridget-Jack yang terjalin selama usia kehamilan hingga pasca melahirkan. Tema yang di atas kertas terdengar menggelikan mampu diterjemahkan sang sutradara, Sharon Maguire menjadi kocak dan luwes nyaris di sepanjang film.

Skenario yang dikerjakan keroyokan oleh Helen Fielding, Dan‎ Mazer, dan Emma Thompson membuat jembatan dialog antar tokoh terasa halus. Dalam hal ini tidak hanya mengundang senyum (bahkan tawa), tapi juga berisi drama di beberapa adegan yang memang diperlukan. Meski berdurasi sekitar 2 jam, namun perjalanan Bridget mencari kejelasan ayah biologis janinnya berlangsung tak membosankan.

Pemenang Oscar seperti Zellweger dan Firth yang memang sudah memerankan karakter mereka semenjak tahun 2001, mudah saja membangun chemistry. Khusus di film ketiganya ini, Zellweger diminta tidak perlu menambah bobot badannya karena karakter Bridget yang dikisahkan ini memang sedang mengalami kondisi fisik proporsional, meski usia sudah menginjak kepala 4. Sementara Dempsey berhasil memerankan Jack yang tidak hanya mempesona, tetapi juga layak menjadi saingan berat Mark yang patut diperhitungkan.

Sayangnya menjelang ending, penulis skenario memilih jalur aman. Tidak butuh seorang jenius untuk mampu menebak siapakah ayah sesungguhnya dari janin yang dikandung Bridget. Seperti prekuelnya, film ini masih ‎tampil manis berkat oleh beberapa lagu tema yang menghibur (Ellie Goulding, misalnya), bahkan Ed Sheeran yang tampil sebagai cameo ini mampu mencuri perhatian.

Tidak menutup kemungkinan akan ada seri keempatnya, tersirat di ending film.‎ Menonton seri ketiga ini hanya sebagai hiburan ringan yang menyenangkan hati. Tak kurang dan tak lebih.

Text by Pikukuh
Photo by womensvoicesforchange[dot]org

Tinggalkan Balasan