Civil_War_Final_Poster
CAPTAIN AMERICA: CIVIL WAR  4.4/5 Stars
“Tak Butuh Superhero untuk Memecah Belah Superhero”

Baru saja bulan lalu kita disuguhi duel dahsyat antar 2 superhero di alam semesta perdana DC Batman ‎v Superman: Dawn of Justice, kini seterunya, Marvel Comics merilis pertempuran antara (tidak tanggung-tanggung) 12 superhero yang berseteru. Dengan dipimpin masing-masing oleh (sesuai judul filmnya) Captain America (Chris Evans) versus Iron Man (Robert Downey Jr).

Pasca banyaknya korban jiwa dan kerusakan yang ditimbulkan oleh tim Avengers semenjak di New York, Washington DC, Sokovia, (dan yg terbaru) Lagos‎ (Nigeria), pemerintah dari berbagai negara tidak tinggal diam. (Lagi-lagi) serupa dengan Batman ‎v Superman: Dawn of JusticeCaptain America: Civil War mengambil benang merah berupa sebuah pertanyaan: “Apakah superhero dengan segala kekuatannya yang maha dashyat boleh dibiarkan bertindak bebas yang dianggapnya benar (tanpa perlu berpikir dulu dampak negatifnya)? Ataukah superhero dapat dibatasi oleh suatu aturan jelas sehingga mampu menimimalkan kerusakan yang tidak bisa dihindari?”

Jika tim Iron Man berpikir logis mencoba mengikuti kesepakatan antar negara (baca: PBB) yang diatur dalam ‘Perjanjian Sokovia’, maka tim Captain America berpikir sebaliknya. Avengers akan menjadi tumpul dan tidak obyektif lagi jika dikendalikan oleh pihak lain. Dua kubu yang tidak sepenuhnya benar dan tidak 100% salah. Masing-masing pihak berargumen sesuai dasar nalar yang dianutnya. Hal ini menjadi salah satu keunggulan Captain America: Civil War, bahwa (hampir) setiap karakter diberi bekal dasar pemahaman masing-masing dalam menyikapi isu ini dan mengapa mereka mengambil opsi tertentu menjadi cukup beralasan.

Keunggulan Captain America: Civil War ini: (hampir) setiap tokoh superhero diberikan‎ momen untuk tampil “bersinar” di beberapa adegan. Memang tokoh sentral tetap bertumpu pada Captain America vs Iron Man, namun tengok bagaimana rasa bersalah Wanda (Elizabeth Olsen), penampilan Vision (Paul Bettany), “drama” Rhodes (Don Cheadle), hingga kemunculan ikonik duo serangga Spider-Man (Tom Holland) dan Ant-Man (Paul Rudd) yang secara mengejutkan menyegarkan! Ciri khas karakter mereka tetap muncul dan memberi warna yang kaya di sela-sela pertempuran.

Tidak seperti Batman ‎v Superman: Dawn of Justice, Captain America: Civil War mengambil pendekatan seperti piramida. Jika Batman ‎v Superman: Dawn of Justice diawali dengan kekecewaan dan dendam pribadi Batman, lalu melebar global hingga munculnya monster raksasa Doomsday yang mau tidak mau “menyatukan” kolaborasi Batman dan Superman, maka Captain America: Civil War berarah sebaliknya. Diinisiasi oleh efek global kehancuran yang tidak sengaja diakibatkan tim Avengers hingga semakin lama menyempit hingga pertarungan konflik pribadi antar tokohnya. Cerdasnya, tidak membutuhkan monster maha mengerikan untuk membuat para Avengers kembali bertarung menjelang akhir.

Kecerdasan lain ialah, satu-satunya tokoh antagonis dibawakan dengan dingin oleh Daniel Bruhl (sebelumnya tampil cemerlang di Rush), yang notabene ‎hanya manusia biasa namun dengan caranya sendiri mampu memporakporandakan soliditas tim Avengers. Fakta yang diungkap menjelang ending pun cukup meyakinkan penonton mengapa para tokoh jagoan kita akhirnya saling bertarung dan berhenti tanpa perlu ada kesamaan Martha, nama ibu kandung mereka.

Atas pencapaian emosi dan motif para tokoh yang ditampilkan, Captain America: Civil War memiliki nilai lebih dibanding dua seri Captain America sebelumnya. Walau sebenarnya, film ini lebih cocok diberi judul “Avengers: Civil War”. Absennya Thor dan Hulk dapat digantikan oleh beberapa tokoh lain yang justru lebih dinamis dan jauh dari kata membosankan. Setelah Captain America: Civil War, sambungan ceritanya akan disiapkan langsung 2 film Avengers: Infinity War Part 1 dan Avengers: Infinity War Part 2. Bersiaplah!

PS: Seperti adaptasi Marvel Comics lainnya, jangan buru-buru tinggalkan kursi bioskop, ada 2 tambahan adegan di tengah-tengah credit title dan setelah credit title berakhir

Trivia: di usia senjanya, Stan Lee masih saja tampil eksis mencuri perhatian, berperan sebagai apakah dia?
A. Tamu hotel
B. Kurir
C. Pelayan restoran

Text by Pikukuh
Photo imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan