comic8CasinoKings“Casino 8: Comic Kings” 2.5/5 STARS

“Megah Tidak Selamanya Lebih Baik (Ala-Ala “The Hunger Games”)”

Dengan raihan Piala Antemas sebagai Film Terlaris 2014 dan konon meraup keuntungan milyaran, membuat Falcon Pictures bersama sang sutradara Anggi Umbara, tergiur menggarap sekuel kisah komedi para komika ini dalam skala yang jauh lebih besar. Dengan anggaran yang diberitakan mencapai 20 milyar, maka tampilan pun disusun lebih grande. Dengan penggunaan efek visual yang lebih meyakinkan (daripada seri pertamanya yang banyak menggunakan tone warna kekuningan), terlihat jor-joran implementasi teknologi yang sebenarnya justru berlebihan. Jumlah cast yang lebih dari 50 orang menjadi bukti kehebohan seri pertama sekuelnya ini, di mana seri ke2 akan dirilis Februari 2016.

Alkisah para komika terbangun dari tong-tong di suatu hutan,di mana para buaya (termasuk buaya seukuran dinosaurus) siap memangsa mereka. Adegan ini justru terasa berlama-lama dengan dialog & skenario kurang bermakna. Melelahkan dan membosankan!

Intinya mereka ditugaskan Indro untuk menangkap The King (Sophia Latjuba), pemilik kasino terbesar di Asia Tenggara. Sebagai penghubung, diceritakanlah tokoh bernama Bella (Hannah Al Rasyid) yang sama misteriusnya. Di luar dugaan para komika, The King telah menyiapkan pasukan pemburu (yang terdiri dari pemeran gaek Barry Prima, George Rudy, Lidya Kandau, Sascha Stevenson, Soleh Solihudin), 3 musuh lama mereka yang telah dibebaskan dari penjara (Pandji-Agung Hercules-Nikita Mirzani) dan duet maut Isa (Donny Alamsyah) – Bella untuk menguji komika bertahan hidup. Belum lagi ditambah kehadiran agen dari Singapura (Prisia Nasution) yang masih mengungkit kasus pembobolan Bank INI.

Kehadiran banyak tokoh (termasuk komika-komika lain yang numpang lewat) tanpa kejelasan peran yang signifikan membuat penonton tidak fokus, bahkan menjadi terganggu dengan banyaknya karakter yang tumpang tindih. Belum lagi berbagai sub-plot bahkan adegan yang tidak berkorelasi jelas dengan konflik utama. Adegan Ray Sahetapy memberi petunjuk via microphone dan pengakuan orientasi seksual di atas pesawat menjadi tribute (atau tiruan?) film “The Raid” dan “Almost Famous”(karya sutradara Cameron Crowe).

Pemeran yang memberi nilai kejut hanyalah Prisia Nasution dan Donny Alamsyah. Kehadiran keduanya saat di layar sungguh mencuri perhatian dibanding karakter-karakter lainnya yang hanya 2 dimensi. Absennya komika bergitar Mudy Taylor yang muncul di seri pertama, digantikan perannya oleh Ge Pamungkas yang dulu berperan sebagai asisten di RSJ. Peran Nirina Zubir pun digantikan oleh Dhea Ananda, yang juga tampaknya tidak (atau belum?) berbuat banyak. Kehadiran para tokoh yang dihadirkan super banyak sayangnya tidak mengundang simpati atau emosi penonton terhadap konflik yang mereka alami. Datar.

Yang paling mengganggu adalah ternyata plot utama “Casino Kings” mencomot konsep “Death Race” atau yang jelas-jelas “The Hunger Games”. Sungguh suatu hal yang mengecewakan, kemunduran dari seri pertama. Orisinalitas sebuah karya pun dapat diperdebatkan. Walau memang tidak ada sosok Katnis Everdeen, namun pengharapan bahwa sekuel ini akan lebih baik secara konsep dari seri pertama langsung pudar. Alur maju mundur tetap banyak dipakai seperti di seri pertama. Namun tidak banyak memberi kejutan karena memang konsep yang digunakan sungguh lemah.

Poin plus jelas diberikan kepada tim artistik serta efek visual. Namun semuanya itu hanyalah unsur pelengkap saja dalam sebuah film. Plot, alur, konsep serta skenario yang menjadi nyawa sebuah film justru diabaikan di film ini. Sayang,…

 

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan