cek-toko-sebelahCEK TOKO SEBELAH 4/5 Stars
“Menebar Tawa, Menghangatkan Renungan”

Toko. Suatu wujud yang ternyata tak hanya menjadi setting dalam film berdurasi 104 menit ini. Toko juga menggambarkan wujud sederhana tapi penting bernama rumah, bahkan sebagai keluarga. Rumah yang menjadi kediaman orang-orang yang berteduh dan beristirahat di dalamnya. Atau bisa dipandang sebagai keluarga, tempat berpulang penuh kehangatan yang diharapkan selalu dapat menerima kondisi terburuk kita sekalipun.

Konsep itulah yang coba ditawarkan komika multi talenta, Ernest Prakasa. Bagaimana jika konsep toko atau rumah atau keluarga yang selama ini berusaha dijaga dengan sekuat tenaga tapi ternyata berubah menjadi tidak berfungsi? Sirnakah kehangatan itu? Ernest Prakasa berusaha keluar sedikit dari zona nyamannya dengan merancang cerita (yang terinspirasi dari banyak kisah serupa), tetap dengan elemen Tionghoa seperti film karya pertamanya, Ngenest.

Setelah wafatnya sosok satu-satunya wanita dalam keluarga inti, sang ayah Koh Afuk (Chew Kin Wah) berupaya tetap mempertahankan Toko Sembakonya. Kedua putranya memilih jalan hidup berbeda. Sang kakak, Yohan (Dion Wiyoko), mantan narapidana sekaligus pengguna narkoba, hidup pas-pas-an sebagai fotografer freelancer. Yohan pun masih harus mengemis dana kepada ayahnyaa ketika mengalami kesulitan finansial. Ia beristrikan Ayu (Adinia Wirasti), wanita Jawa sabar dan telaten, yang pernikahan mereka sebenarnya tidak direstui Koh Afuk.

Sangat bertolak belakang dengan jalan hidup yang ditempuh Sang Adik, Erwin (Ernest Prakasa). Hidup mapan, tinggal di apartemen dengan pemandangan yang sangat instagram-able dan berkarir cemerlang. Erwin sedang dalam proses promosi untuk menjabat sebagai pimpinan regional kantornya di Singapura. Erwin menemukan pasangannya, Natalie (Gisella Anastasia) yang juga bergaya hidup di atas rata-rata. Frekuensi mereka fancy dining tak ubahnya seperti seringnya rakyat jelata makan di warteg.

Kondisi kesehatan Koh Afuk yang melemah mengharuskannya mulai berpikir untuk menyerahkan usahanya pada salah satu anak. Pilihan jatuh ke Erwin, karena Yohan dinilai masih belum becus. “Mengurus hidup sendiri saja belum benar, apalagi bertanggungjawab terhadap hidup orang lain, seluruh pegawai toko?” celoteh Sang Ayah.

Jika bukan Chew Kin Wah yang memerankan, kemungkinan besar mayoritas penonton tidak akan berempati pada sosok ayah. Selain celotehannya yang tak dipikir matang itu mampu menggores luka pada batin sang anak, Koh Afuk secara langsung memberi beban kepada Erwin untuk memilih: meneruskan usaha keluarga atau tetap mengejar karir yang sedang ngehits? Rasa bersalah Erwin pun tak terkira jika ia keliru mengambil keputusan.

Dibanding perannya di My Stupid Boss, peran beraksen Hokian ini mampu dibawakan Chew Kin Wah dengan tingkat kematangan yang pas. Tengok adegan ketika malam hari ia termenung sendiri di toko, diiringi lantunan ‘Berlari Tanpa Kaki’ (GAC). Momen terbaik kedua Cek Toko Sebelah!

Yang menjadi kejutan juga ialah performa Dion Wiyoko. Setelah gagal bermain di Ngenest karena bentroknya jadwal, ia kembali diajak Ernest di film produksi Starvision ini. Ia mampu menerjemahkan peran dengan berbagai emosi: kecewa, kesal, sedih bahkan tatapan kosong dengan tampilan sempurna. Chemistry-nya dengan Chew Kin Wah menjadi penguat yang mampu menyampaikan pesan, sekaligus merebut empati penonton. Dengan lantunan ‘I Still Love You’ (The Overtunes), adegan interaksi keduanya di kuburan menjadi emosi puncak yang terbebaskan, sekaligus momen terbaik Cek Toko Sebelah!

Keseluruhan ensemble film ini berjalan sesuai fungsinya. Adinia Wirasti yang tak pernah salah pilih peran, mengambil peran penyeimbang Yohan, sekaligus keluarganya yang timpang. Ia mampu menempatkan dirinya dengan benar sebagai pemeran pendukung untuk mendukung keselarasan cerita, walau sebenarnya Adinia mampu beraksi jauh melebihi karakternya. Konon, Ernest sendiri paling jiper saat mengarahkan aktris sekelas Adinia (pemenang 2 Piala Citra) dalam perannya ini.

Sementara itu, sang pendatang baru di dunia akting layar lebar, Gisella, berusaha masuk ke peran perdananya. Karakternya bukan hitam, ataupun putih. Ia menjadi sosok realistis yang enggan beradapatasi, jika harus keluar dari zona nyamannya, seperti banyak gadis di era sosial media saat ini. Jika akhirnya, perannya lebih mengarah ke annoying b*tch, itupun tak dapat sepenuhnya disalahkan juga. Performa debut (penyanyi lalu menjadi aktris) Gisella masih jauh di bawah Lala Karmela yang sebelumnya juga diorbitkan Ernest.

Yang mengganggu justru tampilnya karakter Robert (Tora Sudiro). Dalam Cek Toko Sebelah, sebenarnya tidak ada yang murni antagonis atau protagonis sekalipun. Dimaksudkan sebagai tokoh yang (nantinya) akan menjadi common enemy sekaligus pemersatu Yohan dan Erwin, kehadiran Robert malah mengkhianati mood film ini yang sudah capek-capek dijaga dari awal. Peran Robert jatuh menjadi “karikatur”: 2 dimensi dan tumpul. Solusi yang sitawarkan pun terbilang sungguh klise.

Cek Toko Sebelah tak sepenuhnya bergenre drama. Sisi komedi sangat kental, terutama di paruh pertama durasi. Peran puluhan komik (plus tambahan Asri Welas yang sungguh kocak) coba dioptimalkan Ernest di kemunculan mereka masing-masing. Banyak yang berhasil, namun beberapa gagal menjadi mesin pengundang tawa. Kaesang, putra Presiden kita pun menjadi cameo yang menyegarkan!

Sisi komedi Cek Toko Sebelah untungnya tidak mencederai drama yang sudah susah payah disusun dramaturginya oleh Ernest (dibantu istrinya, Meira sebagai pengembang penulisan skenario dan Jenny Jusuf sebagai konsultan skenario). Ernest sangat paham kapan waktunya “menginjak pedal gas dan rem”, bermain-main dengan lelucon, untuk selanjutnya “berpindah gigi” ke segmen drama yang menyesakkan. Para penonton pun dapat seketika diajak tertawa, untuk selanjutnya (secara tak diduga) dibuat berkaca-kaca.

Faktor desain produksi seperti pelesetan berbagai produk yang dijual toko Koh Afuk hingga OST yang selaras benar-benar dikonsepkan dengan jelas. Keduanya menjadi elemen pendukung yang melengkapi dengan indah. Tanpa adanya kedua faktor tersebut, dipastikan Cek Toko Sebelah tak akan seoptimal ini.

Film ini sendiri juga layaknya sebuah wujuf bernama rumah, toko atau keluarga. Ernest berfungsi laksana arsitek, kontraktor bahkan tulang punggungnya. Ia yang merancang blue print, sekaligus mengeksekusi pembangunannya. Terlihat hasil karyanya lebih dari rata-rata film Indonesia di pasaran kini. Feel-nya dapat, tanpa harus jatuh ke level picisan.

Tiang pancang yang kokoh serta bahan bangunan kualitas premium merupakan jalinan kisah multi-plot yang jujur dituturkan. Keseluruhannya berlandasan skenario solid, kumpulan akting yang mengesankan dengan berbagai karakter yang relatable.
Penonton dapat dengan mudah merasa dekat dengan beberapa karakter inti, atau paling tidak mengingatkan mereka akan sosok orangtua atau saudara.

Peran puluhan komik menjadi penyeimbang penghias wujud rumah atau toko tersebut sehingga jauh terlihat menarik (baca: komersil). Amunisi yang nyaris lengkap telah ditangani dengan cermat oleh Ernest. Tak heran jika nantinya Cek Toko Sebelah mampu menembus 1 juta penonton lebih.

Terlepas perbedaan yang ada, ketika Yohan dan Erwin bersatu padu mempertahankan toko, sesungguhnya yang sedang diperjuangkan adalah keluarga. Keluarga sekali lagi ialah wujud nyata, lebih dari sebatas tampilan toko.

Wujud toko alias film bertajuk Cek Toko Sebelah terlihat jelas dibuat dengan hati. Cek Toko Sebelah tak hanya mampu menebar tawa, namun memberi perenungan yang hangat akan pentingnya sebuah keluarga, seberapapun tidak berfungsi.

Trivia: berperan sebagai apakah Kaesang (putra Presiden Jokowi)?
A. Sopir taksi
B. Sopir ojek online
C. Tukang kayu
D. Tukang bangunan
E. Pedagang Roti

Text by Pikukuh
Photo by filmbor[dot]com

Tinggalkan Balasan