deadpool
DEADPOOL 3.7/5 STARS
“(Akhirnya!) Formula Superhero Anti Mainstream”

Jenuh dengan film superhero ‎yang gitu-gitu aja? Minim hal baru yang bikin kita terhenyak? Atau ngerasa film superhero sangat tidak ‘realis’, karena pertarungan di layar lebar yang cenderung “main aman” (baca: cemen)?

Marvel Studio melihatnya sebagai peluang untuk mengisi celah potensial. Jelas, film yang juga diproduseri oleh aktor utama‎, Ryan Reynolds ini mendapat rating R (Restricted), ditayangkan terbatas untuk orang dewasa. Anak-anak, bahkan remaja tanggung dilarang keras nonton. Terakhir, film superhero yang juga mendapatkan rating R adalah Watchmen.

Nah, ini penjelasan kenapa Deadpool layak diberi label R:
  • Latar belakang hidup Wade Wilson (Ryan Reynolds)‎ dan pekerjaan sehari-harinya sudah cukup keras, melibatkan tekanan dan fisik. Bar tempatnya berkumpul menjadi sarang orang yang berburu pekerjaan serupa. Di sana pula Wade bertemu dengan gadis, yang kemudian hari menjadi pujaan hatinya, Vanessa (Morena Baccarin). Ceritanya, Wilson mendadak divonis menderita kanker di sekujur tubuh, bahkan sampai menjalar ke otaknya! Tiba-tiba (lagi)‎ datanglah agen misterius yang menawarinya kesempatan kedua, sembuh sekaligus memulai kehidupan baru. Bukan! Agen itu bukan utusan Prof Xavier dari Sekolah Mutant X-Men (disebutkan dan ditampilkan juga di sini). Dalam keadaan linglung, Wilson menerima tawaran itu dan hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
  • Dialog yang lugas, sekaligus disisipi umpatan kasar bahkan penyebutan hal-hal berkonotasi seksual.
  • Berbeda dengan adegan film superhero yang family friendly, Deadpool berisi transformasi Wilson dan pertarungan yang dapat membuat penonton bergidik. Perubahan fisik Wilson di sekujur tubuhnya dapat membuat penonton tidak nyaman melihatnya. Wilson yang memiliki kemampuan menyembuhkan diri sekaligus meregenerasi sel dalam tubuhnya itu, berusaha mengejar dan membalas dendam kepada pelaku yang mengacaukan hidupnya. Kalau adegan tembak-tembakan sudah biasa, Deadpool menampilkan pertarungan penuh darah, isi otak tercerai berai, kepala terpenggal, tangan (sengaja) diputus, dan adegan sadis lainnya. Seluruh adegan yang tidak pernah muncul di film Marvel digarap sesuai kebutuhan, tanpa harus bergenit-genit ria atau menjadi gore-fest seperti Saw.
  • Saat adegan awal saja sudah tampil sekelebat tulisan perkenalan yang dipastikan mengundang senyum (tipis). Dan tidak berhenti di situ aja, film ini justru secara lantang mengolok-olok banyak hal dan sindiran terhadap:
  1. Kostum (dan cincin) The Green Lantern (tokoh superhero DC Comics yang gagal total diperankan Reynolds sebelumnya).
  2. Trilogi Taken (Liam Neeson).
  3. Minimnya budget film ini,‎ dibuktikan dengan (hanya) munculnya 2 tokoh superhero di Sekolah Mutant X-Men.
  4. Mengolok-olok tokoh X-Men, mulai Prof X sampai Wolverine (baca: Hugh Jackman).
  5. Menertawakan kemampuan akting Ryan Reynolds sendiri!!
  6. Adegan tambahan setelah credit title (seperti layaknya film Marvel lainnya) yang justru mengejek penonton.
  • Di balik (segala) ke-sembrono-annya me‎ncerca banyak hal, Deadpool justru terasa segar dan “baru” dibanding film superhero lain yang terasa generik.
  • Deadpool bukan sosok superhero yang berniat mulia dengan visi menegakkan kebenaran dan mengirim sang penjahat ke bui. Ia lebih memilih melakukan segala cara untuk memburu dan membalas dendam kesumatnya. Kalau perlu, membunuh dengan cara yang tidak indah. Ia bukan sosok jagoan penduduk kota, ia hanya manusia biasa yang dipaksa menjadi mutant dan menggunakan “kemampuannya” untuk kepentingan pribadi, sangat manusiawi! Kalau seperti itu, (masih) layakkah ia menyandang predikat superhero?
  • Musik pendukung yang tidak lazim, tabrak lari sekaligus menghibur. Selain Guardians of The Galaxy sepertinya hanya Deadpool yang sukses meracik “ramuan” musik seperti “You’re The Inspiration” (Chicago), “Careless Whisper” (George Michael) dan musik Wham! y‎ang justru dimainkan di momen-momen genting.
Sebagai salah satu produser, Ryan Reynolds tampak jelas lebih total‎ mengembangkan karakter superhero Wilson, daripada ketika berperan serba tanggung sebagai Green Lantern. Chemistry Wade-Vanessa lumayan dapat ditangkap penonton. Tokoh antagonis yang (sayangnya) kurang bengis dan meneror, dibawakan Ed Skrein yang terakhir memerankan regenerasi‎ Jason Statham di seri terakhir Transporter.

Terlepas dari formula anti mainstreamnya, Deadpool masih menggelar plot usang: telat menyelamatkan‎ sang gadis yang kemudian disandera musuh. Juga vonis multi kanker dan kehadiran agen perekrut yang mendadak muncul terasa janggal sekaligus lemah. Tapi at least secara keseluruhan, walau berbeda dari film sejenis, Deadpool tidak norak dan tetap kekinian.

Karena sukses di awal peredarannya, Deadpool (dipastikan) akan dibuatkan sekuelnya. Bahkan dapat bergabung menjadi salah satu tim X-Men di seri berikutnya, karena X-Men dan Deadpool berasal dari studio yang sama: 20th Century Fox. Kita tunggu saja!

Trivia: Kreator Marvel, Stan Lee pun muncul sekilas di film ini, berperan sebagai apakah dia?
A. Penjual Narkoba
B. DJ Club Penari Telanjang
C. M‎utant Hasil Percobaan yang Gagal

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan