dirty-grandpa-movie-bannerDIRTY GRANDPA 1.8/5 STARS
“Balada Komedi Cabul yang Sia-Sia “

Di usia ke-73 yang sudah tidak terbilang muda lagi‎, Robert DeNiro masih laris manis membintangi film yang membutuhkan peran dengan karakteristik tertentu. Di tangan sutradara yang andal, ia dapat bersinar di masa senja. Tengok gimana ia luwes menjadi seorang pekerja magang kepada sang bos, yang berusia jauh di bawahnya, Anne Hathaway (The Intern). Atau saat diarahkan oleh David O Russel di Silver Linings Playbook (mendapat nominasi Oscar) dan Joy.

Kini, komedi masih menjadi genre nyaman bagi DeNiro di saat kondisi fisiknya tidak memungkinkan lagi berlaga aksi di lapangan. Tapi komedi anyarnya, Dirty Grandpa jauh dari kata menghibur, apalagi layak dikenang. Plot tidak kuat, skenario dipenuhi kata-kata (menjadi kalimat) sampah, hingga adegan kekonyolan nan vulgar yang justru membosankan.

Plotnya sederhana. Setelah kematian istrinya,‎ Dick Kelly (Robert DeNiro) mengajukan permintaan agar sang cucu (yang dulu dikisahkan dekat dengannya) Jason Kelly (Zac Efron) menemaninya dalam perjalanan darat (road trip) ke Cabo. Alasan Dick, SIM-nya telah dicabut karena menderita penyakit katarak. Di sisi lain, Jason sedang repot menyiapkan pernikahan dan bekerja sebagai pengacara di firma bentukan sang ayah.

Road trip yang seharusnya mendekatkan hubungan keduanya berubah menjadi misi memuluskan tujuan tersembunyi Dick: segera bercinta dengan wanita lain! Langkah apapun ditempuh, termasuk berbohong menjadi Profesor, mengejar sang gadis muda impian. Ini melenceng dari tujuan semula.

Film khusus dewasa ini memang mengumbar seksualitas yang bermaksud untuk lucu tapi berulang kali gagal membuat penonton tertawa. Fisik Efron tetap menjadi jualan utama seperti film-filmnya sebelumnya, dan jujur saja, ini nggak memberi pengaruh signifikan.

DeNiro justru membuang talentanya dengan berperan sebagai kakek cabul yang keras kepala dan kasar, namun (mudah ditebak) sebenarnya berhati lembut. Menonton DeNiro di Dirty Grandpa sungguh menjadi keprihatinan tersendiri. Penggambaran banyak karakter yang hanya 2 dimensi membuat film ini tambah dangkal saja. Penonton merasa tidak perlu memberikan empatinya kepada Dick ataupun Jason.

Komedi khusus dewasa sebelumnya lumayan mulus dieksekusi lewat Hangover jilid 1 ataupun‎ Bridemaids. Dirty Grandpa jelas gagal di(nyaris) semua lini. Bahkan penampakan alat kelamin pria yang entah mengapa ada di layar (terlewat sensor?) menambah rasa jengah yang sebenarnya sudah dialami sejak menit-menit awal. DeNiro perlu benar-benar memperbaiki portofolio perfilman di masa-masa senjanya ini.

Text by @pikukuh22
Photo by forbes[dot]com

Tinggalkan Balasan