allegiant

DIVERGENT SERIES ALLEGIANT 3.4/5 STARS
“Lagi, Bertarung Melawan Pemerintah yang Sewenang-wenang”

Setelah 2 seri Divergent sebelumnya yang terbilang cukup sukses secara komersil (franchise young adult post apocalypse terlaris kedua setelah‎ seri The Hunger Games), ritual Maret kembali menjadi jadwal rilisan lanjutannya: Allegiant. Serupa dengan The Hunger Games, Harry Potter dan Twilight, novel ketiga alias pamungkas judul asli yang sama sengaja dipecah menjadi 2 film. Bagian pertama adalah yang bisa disaksikan eksklusif hanya di jaringan XXI mulai 17 Maret 2016 lalu. Sedangkan bagian keduanya diberi judul baru Ascendant dan mendapat jadwal rilis Juni 2017. Keseluruhan syutingnya sendiri dikabarkan telah rampung pada Agustus 2015.

Akhir film kedua, Insurgent mengungkap kehidupan 5 faksi di kota Chicago‎ adalah eksperimen. Selama ini kehidupan para penduduk diperhatikan (baca: ditonton) oleh masyarakat dunia luar dan terdapat tembok tinggi yang memisahkan mereka. Kematian Jeanine (Kate Winslet) mengakibatkan pengaturan faksi pecah dan memunculkan Evelyn (Naomi Watts), ibunda Four (Theo James) muncul sebagai pemimpin anyar, terlepas dari kontra yang berasal dari kubu Johanna (Octavia Spencer).

Tokoh utama kita, Tris (Shailene Woodley) mendapat ide bareng Four dan Tori (Maggie Q) untuk mencoba melintasi tembok dan melihat dunia luar. Usaha mereka menyelamatkan kakak Tris, Caleb (Ansel Elgort), yang dianggap pengkhianat karena di seri sebelumnya sempat membantu kiprah Jeanine, mengakibatkan mereka diburu antek-antek Evelyn. Seperti biasa, Peter (Miles Teller) yang oportunis dan Christina (Zoe Kravitz) yang tangguh pun turut serta‎.

Perjalanan mereka melewati tembok menemukan kenyataan lain. Biro Kesejahteraan Genetika yang dipimpin David (Jeff Bridges) menyambut kedatangan mereka. Mereka hadir layaknya bintang reality show yang selama ini setia ditonton oleh para penduduk di luar tembok‎. Euforia yang tidak berlangsung lama, karena David memiliki agenda tersendiri terhadap Tris yang dianggapnya Kaum Murni. Sementara penduduk Chicago lainnya dianggap Kaum Rusak. Di Chicago sendiri, ada perpecahan yang terjadi antara Evelyn versus Johanna, dan memunculkan celah tersendiri bagi David.

Tidak butuh seorang jenius untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi pada Biro Kesejahteraan Genetika, dan khususnya David. Penonton seakan dibawa mengenang (baca: dejavu) plot serupa yang sudah berulang kali dibawakan tema sejenis, misalnya Maze Runner Scorch Trials dan yang terbaru, The 5th Wave, walaupun sebenarnya tidak sehancur The 5th Wave yang super klise.

Tema usang ini diperparah dengan subplot atau kisah menyangkut teknis yang (sungguh) s‎angat instan, kebetulan atau justru bodoh. Lihatlah bagaimana Tris dapat dengan mudahnya mencuri alat transportasi David untuk kemudian menjemput Christina dan Caleb, serta kabur dari kejaran awak pesawat anak buah David yang menembakkan rudal, hingga sampai dengan cepat dan selamat kembali ke Chicago. Padahal saat itu pertama kalinya Tris (belajar) mengendarai secara manual moda transportasi super modern itu. Beginner’s Luck?

Jujur, karakter para pemainnya pun ‎tidak ada yang berkembang dan tetap pada zona (nyaman)nya masing-masing. Contohnya Caleb yang tetap canggung serta Peter yang sudah berulang kali membuat tokoh utama lainnya celaka namun tetap saja diterima dan kembali menghalalkan segala cara terutama di saat-saat kritis. Bad guy alias musuh dalam selimut yang selalu dibutuhkan penulis skenario? Jangan lupakan Four, sang jagoan yang sanggup menghabisi sendirian puluhan musuh meski jatuh dari armada udara dengan perut yang terluka tapi masih mampu beraksi dengan prima.

Tris sendiri sebagai tokoh sentral tidak memberi nilai tambah yang berbeda dibanding dua film sebelumnya. Dia hanya sempat terbuai dengan rencana David untuk kemudian meminta maaf kepada Theo karena tidak mempercayainya. Subplot pembahasan tentang memori yang ditinggalkan sang ibunda pun hanya menjadi penjelasan singkat, bukan penggugah motif yang sebenarnya dapat memperkuat dasar perjuangan Tris.

Di sisi lain konflik Evelyn versus Johanna yang sebenarnya seru untuk diulik malah menjadi tempelan semata, dangkal! Aktris kelas Oscar seperti Naomi Watts dan Octavia Spencer pun tampil tumpul, nggak dapat berbuat banyak. Sang villain, Jeff Daniels pun nggak memunculkan banyak emosi yang menggetarkan dan jauh dari kata meneror. Masih jauh lebih menarik interpretasi karakter yang diperankan Kate Winslet di 2 seri pendahulunya, walaupun sebenarnya masih termasuk karikatural juga.

Berlapisnya konflik sebenarnya berpotensi untuk dikuliti satu per satu menjadi sajian yang menarik. Yang terjadi ialah banyaknya konflik diselesaikan dengan instan, terburu-buru. Urgensi masalah yang signifikan menguap begitu saja berkat campur tangan kehebatan para tokoh pemuda pemudi.

Adaptasi novel menjadi film nggak pernah mudah, apalagi memecahnya menjadi 2 film demi alasan konsumerisme. Tetapi ketika tampilan efek visual hanya sebatas seru dipandang mata dan plot tema sudah terlanjur keduluan diangkat oleh film lain, maka paruh pertama jilid pamungkas seri Divergent ini belum menjadi tontonan yang melebihi 2 seri pendahulunya. Semoga paruh terakhirnya, Ascendant dapat menjadi klimaks yang tidak saja menarik namun dapat memberi nilai tambah bagi penonton.

Text by @pikukuh22
Photo comingsoon[dot]net

Tinggalkan Balasan