everestEverest: 4,3/5 STARS

“Drama Humanis Berbalut Ketegangan Menerjang Alam”

Lagi, lagi kisah nyata yang berusaha divisualisasikan Hollywood ke layar lebar. Jangan keburu pesimis dahulu ya. Tengok premisnya: bencana badai salju melanda para pendaki gunung Everest yang membawa korban jiwa. Lalu apa yang membuat film ini berbeda dengan film bencana lainnya?

  1. Kesalahan terbesar film sejenis adalah menjadikan bencana sebagai (satu-satunya) tokoh utama, karena diasumsikan para tim di belakang layar, bahwa penonton datang (hanya) untuk menonton sajian kedashyatan visual saja. Kalaupun ada tokoh manusia, karakternya hanya dibuat kerdil (bodoh, antagonis atau jagoan alias protagonis?) alias dua dimensi saja (masih segar di ingatan dengan “San Andreas” kan?). “Everest” terlihat berusaha membangun penokohan karakter2 utama dengan cermat. Walaupun banyak tokoh yang tampil, film ini tetap memilah beberapa karakter inti yang akan dikembangkan: Rob Hall (Jason Clarke), Beck (Josh Brolin), Doug (John Hawkes), Scott (Jake Gylenhall). Selain mereka, karakter pendukung lainnya (seperti Harold (Martin Henderson), Yasuko Namba (Naoko Mori), Jon Krakauer (Michael Kelly), Emily (Helen Wilton), Guy (Sam Worthington)) mendapat porsi cukup dan memberi kontribusi bermakna kepada keseluruhan kisah.
  1. Mengingat pelaku pendaki adalah para insan yang berusaha bertahan hidup di tengah keganasan alam bersetting gunung, maka sisi drama menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan begitu saja. Kehadiran para pasangan Rob-Jan (Keira Knightley) dan Beck-Peack(Robin Wright) bukan hanya sebagai tempelan belaka, tetapi justru menjadi penyokong alias pondasi, bahkan kekuatan drama. Karena berdasarkan kejadian sesungguhnya, maka sajian drama yang terjadi kian menyesakkan (dengan sendirinya), tanpa harus jatuh ke level cengeng picisan yang artifisial. Tisu pun perlu disarankan dibawa, terutama di adegan klimaks.
  1. Visual Efek. Tampilan Gunung Everest yang megah sekaligus mengundang rasa penasaran para pendaki dari seluruh dunia disajikan dengan lanskap yang keren. Sinematografi digarap dengan indah, namun di sisi lain dapat menebar teror pada adegan-adegan tertentu. Ketegangan tidak dibangun berlebihan, tetapi efektif saat momen-momen sesuai kebutuhan. Versi IMAX atau 3D dapat memberi atmosfer visual tambahan yang mencekat.
  1. Alur dan intensitas yang terjaga, di mana durasi 2 jam dimanfaatkan dengan sangat optimal. Jauh dari kata bertele-tele sekaligus mampu memilah kejadian-kejadian mana yang perlu penekanan dan mana yang dapat dilewati. Fase perkenalan para tokoh berlangsung singkat namun tetap dibangun dramaturginya di sepanjang film. Sang sutradara Baltasar Kormakur (‘Contraband’, ‘2 Guns’) telah berhasil menyampaikan pesannya dengan baik. Lagu Sheryl Crow yang ditampilkan sekilas juga telah sesuai dengan representasi musik era kekinian pada saat itu.

PS: Di akhir film akan ditampilkan foto-foto tokoh nyata yang harus kehilangan nyawa saat tragedi asli terjadi di 10 Mei 1996.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan