Eye in The Sky

EYE IN THE SKY 4.1/5 STARS
“Di Balik Layar Keputusan Genting”

Teroris dikisahkan semakin merajalela. Tren film kekinian, sepak terjang teroris pun kalau memungkinkan ditumpas sejak fase awal. Aksi proaktif, bukan reaktif, sebelum memakan korban jiwa tak bersalah (lagi) yang semakin bertambah.

Kali ini penonton dibawa ke Kenya, dimana organisasi teroris sedang merekrut anggota-anggota terbarunya, yang kemudian dipersenjatai sebelum menyebar aksi anarkis. Tokoh sentral kita kali ini bukanlah jagoan tentara yang sibuk berkejaran atau menembak memburu teroris. Kolonel Katherine Powell (Helen Mirren) memimpin operasi drone (mata-mata tak berawak, yang sekilas berupa robot berbentuk kumbang) untuk mengintip kegiatan para teroris.

Dibantu oleh krunya, terutama pilot eksekutor, Steve Watts (Aaron Paul) dan ‎sang agen rahasia sekaligus penduduk lokal, Jama Farah (Barkhad Abdi), Powell berupaya menumpas para teroris sebelum mereka keluar dari markas untuk memulai teror. Misi yang semula berjalan sederhana, mulai menemui kendala ketika hal yang tidak diduga terjadi: ada seorang gadis yang muncul dan berjualan roti di sekitar area pemusnahan teroris.

Konflik menjadi pelik ketika ada anak perempuan tidak bersalah itu. Kalau ia menjadi salah satu korban eksekusi itu, maka pihak teroris unggul 1 poin dibanding para jagoan kita. Bahkan bisa menjadi blunder yang menyerang balik para penjaga perdamaian dunia ini.

Sementara jika harus menunggu hingga anak perempuan itu meninggalkan tempat, sangat dikuatirkan, para teroris telah keluar dari markas dan kemungkinan besar akan ada korban yang lebih dashyat lagi. Dilema yang dihadapi Powell itu dikomunikasikan dengan LetJen Frank Benson (Alan Rickman) hingga ke pihak petinggi di Amerika dan Inggris.

Di bagian ini, penonton diajak berada di posisi yang serupa dengan Powell dalam memahami situasi politis yang kompleks dalam caranya tersendiri. Keputusan yang diambil tidak boleh asal-asalan karena melibatkan banyak pihak, sekaligus akan berpengaruh kepada kelangsungan banyak umat dunia dan posisi politis setiap negara yang terlibat.

Yang menjadi dasar keputusan Powell pun sempat mengalami beberapa perubahan, sebelum ‎disepakati apakah perlu dilakukan eksekusi peluncuran rudal atau tidak? Kalaupun dijalankan, kapan waktu yang ideal secara politis dan strategi lainnya, sebelum segala sesuatunya menjadi terlambat. Genting dan penting menjadi isu, sementara waktu menjadi sumber daya yang terbatas dan sangat berharga.

Pengambilan gambar dan editing yang seolah-olah sesuai dengan rentang waktu yang dihadapi memudahkan penonton terlibat dalam film berdurasi‎ 102 menit ini. Karya Gavin Hood ini adalah film terakhir Alan Rickman, Sang Severus Snape di seri Harry Potter. Penampilan pamungkas yang tidak mengecewakan. Performa sang pemenang Oscar, Helen Mirren dan peraih nominasi Oscar, Barkhad Abdi juga sesuai dengan peran dan memberi nilai lebih dari sisi ketegangan.‎ Meski sebenarnya peran awal Powell diperuntukkan sebagai karakter pria, bukan dimainkan oleh aktris, apalagi sekelas Mirren.

Rahasia dapur upaya tim militer saat menumpas teroris diulik sedikit namun cukup mendalam. Ini bukanlah aksi militer biasa. Film yang termasuk kategori R (Restriced, Terbatas) ini telah membawa ketegangan drama thriller militer ke tingkat baru. Sebuah keputusan strategis diambil dengan berbagai perspektif yang tidak sederhana. Harus diambil pada momen yang tepat, tanpa ada kecuali, karena banyak yang dipertaruhkan.

Text by Pikukuh
Photo imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan