FantasticFour
“Fantastic Four”: 2.7/5 STARS

“Drama Konflik Sutradara Vs Studio yang Berakhir Tragis”

Josh Trank. Sutradara yang membidani reboot ini dipilih terutama berkat karyanya yang paling dikenal, “Chronicle”.  Di tangannya, kisah sekumpulan remaja yang mendadak memiliki kekuatan khusus tidak berjalan stereotipe, dieksekusi liar nan menyegarkan namun tetap dikonsep dengan matang, terutama pada paruh akhir film. Resume yang baik, sangat baik bahkan. Pola “Fantastic Four” (FF) serupa juga. Masih mengambil tema sekawanan anak muda berkekuatan unik yang seharusnya dapat diulang plot sejenis dengan lebih masif. Perlu dicatat, mereka adalah superhero Marvel berbudget fantastis yang pastinya mengundang ekspektasi tinggi penonton.

Drama yang sesungguhnya baru dimulai ketika Trank memposting tweet yang kemudian dihapusnya:

“A year ago I had a fantastic version of this. And it would’ve received great reviews. You’ll probably never see it. That’s reality though”.

Setelah sebelumnya dikabarkan mundur menyutradarai “Star Wars” seri berikutnya karena ketidakcocokan dengan studio Lucas/Disney, Trank pun kembali menjadi pembicaraan dunia berkat tweet tersebut.

Kisah perbedaan visi sutradara versus studio pernah terdengar sebelumnya. Sutradara idealis akan lebih memilih hengkang dari produksi. Opsi lainnya justru sang sutradara berkompromi dengan keinginan studio atau para penyandang dana. Akan berbeda ceritanya jika saat produksi masih dilakukan terjadi perbedaan pendapat. Yang terjadi di kasus FF ini ialah sang sutradara justru membuka “aib” di balik layar. Tim produksi pun menyelesaikan versi terakhir FF tanpa campur tangan Trank, termasuk editing final dan berbagai adegan dipotong, bahkan disyuting ulang. Sayangnya para aktor dan aktris tak dapat berbuat banyak. Versi berbeda inilah yang kemudian dipermasalahkan Trank. Bahkan terdapat beberapa adegan yang ada di trailer namun lenyap di film aslinya.

Kericuhan studio 20th Century Fox versus Trank berimbas tragis, bumerang bagi FF sendiri. Secara kualitas menjadi bahan caci maki dan bulan-bulanan para kritikus (8% overall versi rottentomatoes.com dan skor 3.9/10 dari imdb.com). Dengan biaya produksi yang mencapai $ 120 juta, FF melempem dengan memperoleh pendapatan hanya $ 25,6 juta di pekan perdananya. Sungguh tidak sebanding.

Dinilai sangat buruk dan dijauhi penonton sesungguhnya menjadi pukulan yang berat bagi seluruh pihak yang terlibat. Rencana sekuel FF yang sempat diwacanakan diedarkan tahun 2017 terancam dibatalkan. Bahkan ada petisi online yang mencetuskan agar hak produksi FF dari 20th Century Fox bergeser dikembalikan ke Marvel Studio.

Kisahnya sendiri bermula dengan lambat, namun cukup rapi dan membuat penasaran. Menceritakan persahabatan masa kecil Reed Richards (Miles Teller, ‘Whiplash’) & Ben Grimm (Jamie Bell, ‘Snowpiercer’) yang sudah lama tertarik bereksperimen teknologi bertajuk teleportasi. Berawal dari materi yang berhasil dipindahkan ke dimensi lain, membawa Reed direkrut Dr Frank Storm untuk mendapat beasiswa dari Yayasan Baxter dan berkenalan dengan anak angkat Frank, Sue (Kate Mara, ‘House of Cards’). Ikut bergabung dengan tim, Victor Von Doom (Toby Kebbell, ‘Dawn of The Planet of The Apes’) mantan anak didik Frank, dan Johnny (Michael B Jordan, ‘Fruitvale Station’), sang anak kandung Frank yang justru memiliki isu dengan sang ayah.

Percobaan mereka membawa seekor kera ke dunia lain berlangsung lancar. Kehadiran para petinggi yang ingin memanfaatkan teknologi teleportasi untuk kepentingan NASA membuat tim Reed geram. Mereka pun berniat eksis menjadi manusia-manusia perdana yang bisa diteleportasikan ke dimensi lain. Keinginan yang mengundang bencana fatal. Victor terjatuh dari jurang lautan energi hijau sementara Reed, Johnny dan Ben mengalami kesulitan saat perjalanan kembali. Sue yang tidak ikut pun mencoba membantu mengembalikan mereka secara manual namun tetap terkena imbasnya juga. Mereka pun mengalami mutasi, kemampuan ekstra yang justru menggiring mereka menjadi tahanan militer dan bahan percobaan. Hanya Reed yang mampu kabur dengan kemampuan elastisnya, sementara teman-temannya terjebak.

Plot pun kian mengendur setelah tulisan “1 Year Later” terpampang di layar. Nyaris 1 jam dibutuhkan untuk menceritakan masa-masa mereka berkenalan hingga terjadinya insiden. Cukup lama namun sayangnya tidak sebanding dengan 40 menit durasi sisanya yang digarap sekenanya. Dengan biaya produksi fantastis, sangat disayangkan teknologi yang digunakan tidak terlihat dengan optimal. Apalagi sudah ada dwilogi FF yang telah diproduksi sebelumnya sebagai pembanding. Kenyataannya justru anti klimaks. Minim adegan action, terburu-buru ke adegan ending dan penyelesaian, dialog-dialog standar, karakterisasi dangkal, chemistry antar pemain yang tidak sempat dikembangkan sehingga tidak menimbulkan empati penonton.

Dengan resume film seperti “Chronicle”, sungguh dapat dibayangkan FF versi Trank yang akan lebih seru, tidak terduga bahkan menggila. Sangat jauh bila dibandingkan dengan versi produk akhirnya ini. Pemilihan ke5 aktor remaja utama sebenarnya terjadi berkat campur tangan Trank yang ingin diisi dengan pemuda pemudi potensial yang belum terlalu dikenal publik. Pihak studio sempat tidak setuju namun akhirnya mengalah. Mereka sebenarnya memiliki talenta yang belum digarap dengan maksimal, terutama Teller dan Bell.

Sangat jarang sebuah film superhero berlangsung cukup singkat, hanya sekitar 100 menit saja. Itu pun lebih dari separuh durasi awal hanya seperti kata pengantar yang menjanjikan, namun dilanjutkan dengan eksekusi ala kadarnya. Pihak studio dan sutradara seharusnya dapat lebih mencari jalan tengah terbaik. Karena jika ada konflik seperti ini, maka pada akhirnya yang dirugikan adalah film yang mereka garap bersama. Pengalaman merugi yang sungguh amat mahal!

 

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan