SULLY 4.3/5 Stars
“Menggugat Sebuah Kepahlawanan”

Kisah roman terakhir yang mengharubiru para remaja (khususnya perempuan) pernah begitu nge-hits saat pasangan yang divonis kanker, mencoba menjalin kasih (secara normal layaknya remaja lain), lewat‎ The Fault in Our Stars. Menyadari ada genre potensial yang belum digarap optimal (setelah tema post apocalypse remaja seperti The Hunger Games dan Divergent mulai terasa usang), para produser pun sibuk mencari novel roman remaja untuk difilmkan. Tujuannya jelas: pundi-pundi keuntungan yang berlimpah.

#Sully 4.3/5
“Menggugat Sebuah Kepahlawanan”
Sully. Bernama lengkap Chesley Sullenberger (Tom Hanks), bersama co-pilot Jeffrey Zaslow / Jeff (Aaron Echart), telah ‘berprestasi’ melakukan pendaratan darurat pesawat US Airways Flight 1549 di atas Sungai Hudson, New York. Pesawat yang memiliki tujuan semula bandara Charlotte, Carolina Utara terpaksa berubah haluan karena kawanan burung telah membuat kedua mesin ‎pesawat gagal berfungsi.
Disebut ‘prestasi’, karena sejarah mencatat total 155 penumpang berikut awak pesawat selamat. Di sisi lain, karir Sully dan Jeff bergantung kepada hasil investigasi banyak pihak yang tentunya memiliki agenda alias kepentingan masing-masing. Bukan hal mudah bagi Sully dan istrinya (Laura Linney), mengingat karir dan reputasinya selama 42 tahun menjadi pilot, dipertaruhkan dengan luar biasa.
Sebagai sutradara sekaligus produser, Clint Eastwood bertindak sungguh sangat dewasa. Dari adegan pertama hingga penutup, terlihat bahwa Eastwood menahan diri untuk dapat bertutur secara bijak, jauh dari kata berlebihan (absennya drama yang tidak perlu), hingga mampu memberi ruang kepada Hanks & Linney mengeksplorasi karakternya sesuai kebutuhan.
Setelah berperan sebagai kapten kapal di film kelas Oscar ‘Captain Phillips’, kali ini Hanks kembali kebagian memerankan kapten (pesawat) di film biopik ini.‎ Performa Hanks juga tampak dewasa. Momen di mana ia harus berakting nge-gas dan menginjak pedal rem sungguh dapat terlihat ritmenya. Simak tatapan Hanks di beberapa adegan tertentu. Tanpa ada dialog yang terucap, semua kegundahan yang membuncah dan bercabang tersirat jelas di sorot matanya.
Film berdurasi 96 menit ini adalah salah satu dari sedikit film yang memiliki attitude sesuai rancangannya. Dengan kelugasannya, hampir semua elemen di film ini berjalan sesuai takaran. Boleh tengok departemen editing. Walaupun adegan berpindah rentang masa berulang kali, namun tujuan editingnya jelas dan tidak membawa penonton pada kebingungan, apalagi rasa bosan dan kantuk.
Keberadaan beberapa tokoh penumpang pesawat memang hanya diceritakan sekilas, namun berjalan simultan, tidak mengganggu plot utama. Sisi humanis ditampilkan, tetapi tidak menjadi jualan utama yang dimaksudkan mengundang derai air mata. Film kolaborasi pertama Eastwood&Hanks jelas bukan bertujuan itu.
Pelajaran bahwa tidak semua orang mampu (atau mau) menerima itikad baik kita memang tetap relevan di jaman setelah 7 tahun lalu, ketika insiden ‘kepahlawanan’ Sully ini terjadi. Ujian sesungguhnya baru datang ketika Sully disidik hingga mencapai klimaksnya di adegan sidang. Itu pun juga dieksekusi Eastwood dengan tenang, solid dan lancar. Gambar pun sangat jernih karena hampir seluruh adegan direkam dengan kamera Alexa IMAX 65mm.
Film yang menjadi jawara box office di negara asalnya ini meraup pendapatan $35.5 juta dengan menggeser juara sebelumnya “Don’t Breathe” ke urutan ketiga. Bukti bahwa film yang mungkin saja mendapat bakal calon nominasi Oscar ini dicintai publik. Sama halnya dengan tokoh Sully yang dipuja sebagai pahlawan, walaupun itikad baik sebenarnya masih dipertanyakan banyak pihak.

Text by Pikukuh
Photo by mebeforeyoumovie[dot]com

Tinggalkan Balasan