finding-doryFINDING DORY 4.2/5 Stars
“Mengatasi Keterbatasan dengan Tekad Kuat”

13 tahun setelah ikan badut Marlin (Albert Brooks) berhasil menemukan Nemo, anaknya yang hilang,‎ kini sekuelnya dirilis dengan setting waktu 1 tahun setelah film pertamanya. Sedari awal film Finding Dory, penonton telah diperkenalkan dengan Dory kecil bersama orangtuanya, Jenny (Diane Keaton) dan Charlie (Eugene Levy). Penyakit lupa ingatan jangka pendek yang diderita Dory sejak belia membuat orang tuanya memberi lebih banyak peringatan sekaligus cemas akan masa depan Dory.

Karena suatu kejadian, Dory kecil terpisah dengan orang tuanya, dan sejak saat itu terus berupaya mencari keluarganya, hingga bertemu Marlin di film pertamanya. Di seri lanjutannya, Dory masih memiliki PR besar, yaitu mencari asal usulnya hingga beberapa kilasan memori mulai muncul kembali.‎ Marlin yang awalnya trauma dan menolak berpetualang jauh, tidak memiliki pilihan lain untuk kembali menemani dan mencari Dory saat ia terangkut secara tidak sengaja. Kemunculan beberapa tokoh baru, seperti gurita dengan 7 tentakel Hank, duo paus Destiny dan Bailey menyuntik energi tambahan kesegaran dan keseruan petualangan Dory.

Ada alasan kuat kenapa kisah pencarian jati diri Dory layak dilanjutkan. Dengan total “like” di facebook lebih dari 25 juta, tokoh Dory menjadi tokoh yang paling disukai alias dirindukan kemunculannya. Apalagi tokoh utama di sekuelnya ini memasang plot Dory yang mencoba mengingat dan kembali ke keluarganya.

Angka pun berbicara. Di hari pemutarannya di wilayah Amerika Utara, Finding Dory berhasil memecahkan rekor sebagai Animasi Terlaris di Hari Perdana Rilisnya dengan pendapatan USD 54.9 juta! Perolehan weekend perdananya di Amerika pun menjadi pemecah rekor Animasi Terlaris di Weekend Perdana, mengalahkan pemegang rekor sebelumnya, Shrek The Third.

Secara kualitas gambar pun, Finding Dory mengalami perkembangan yang jauh mempesona dibanding pendahulunya. Detail biota laut yang lebih jernih dan tampilan format 3D dan IMAX 3D menjadi suguhan yang belum nampak di seri perdananya‎.

Dari seri cerita, penelusuran Dory akan kampung halamannya menjadi petualangan yang cukup seru namun belum terbilang mengesankan‎. Masih minim kejutan yang luar biasa. Secara keseluruhan, Finding Dory masih dibawah pencapaian animasi Pixar tahun lalu Inside Out yang konsepnya mengguncang. Ending Finding Dory yang bahagia dan melegakan sudah menjadi jaminan mutu.

DisneyPixar tahun ini merilis sekaligus 2 animasi Zootopia dan Finding Dory. Keduanya layak menyabet Animasi Oscar Terbaik tahun depan. Disney sendiri tahun ini berpredikat studio tercepat yang mengumpulkan pundi-pundi uang USD 1 juta selama tahun 2016 berkat pencapaian Zootopia, Captain America: Civil War, The Jungle Book dan siap ditambah secara signifikan oleh Finding Dory.

Menjelang akhir durasi, moral cerita pun disampaikan kepada Dory, bahwa meski hidup dalam keterbatasan, ia mampu mengatasi segala rintangan dengan tekad yang kuat. Pemahaman yang tak lekang oleh waktu dan mudah dicerna segala usia.

Finding Dory ialah contoh sekuel yang layak dibuat, meski belum mengalahkan akhir yang membuat air mata menetes haru seperti di Toy Story 3 dan syukurnya, masih jauh lebih baik dibanding Cars 2 sebagai sekuel DisneyPixar yang paling lemah.

P.S.:
  • Jangan lewatkan film pendek yang diputar sebelum Finding Dory, Piper, yang berkisah tentang anak binatang lainnya yang belajar mencari makan sendiri hingga mengatasi ketakutannya. Layak juga jadi nominator Animasi Pendek Terbaik di Oscar tahun depan.
  • Jangan buru-buru meninggalkan kursi bioskop. Setelah credit title usai, masih akan ada adegan tambahan, yang juga masih berhubungan dengan Finding Nemo.

Text by Pikukuh
Photo by metro[dot]co[dot]uk

Tinggalkan Balasan