galih dan ratnaGALIH DAN RATNA 4/5 Stars
“Versi Kekinian yang Terasa Nyata”

Lucky Kuswandi, sutradara yang sukses di Selamat Pagi, Malam, mencoba menggarap ulang kisah kasih Galih dan Ratna. Beresiko! Karena tokoh ikonik yang diperankan Rano Karno dan Yessy Gusman begitu lekat meski telah puluhan dekade berlalu. Selain itu, kedua bintang utama yang memerankan juga relatif baru. Sheryl Sheinafia sebagai Ratna, masih memiliki rekam jejak meski sedikit, itupun hanya menjadi peran pendukung sejak tahun lalu. Apalagi Refal Hady yang memerankan Galih. Publik belum terlalu mengenal pria bercambang ini.

Dikisahkan Ratna mewakili kaum berada namun minim kasih sayang, dan Galih sebaliknya. Sang ayah yang akan dinas di luar negeri menitipkan Ratna di rumah sang tante (Marissa Anita) di Bogor. Sebagai anak baru di SMA, Ratna langsung terpikat pada sosok Galih yang tak biasa (baca: tak punya akun Instagram).

Keberadaan satu sama lain makin menguatkan keduanya. Ratna, gadis yang merasa tak ada seorang pun yang menyayanginya: ayah tak mau mendengar, ibu meninggalkannya sejak kecil. Sementara itu, Galih mengalami masalah keuangan: toko kaset peninggalan almarhum ayahnya terancam dijual sang ibunda (Ayu Dyah Pasha).

Keberanian untuk membuat ulang salah satu kisah cinta paling mengesankan di perfilman Indonesia ini tak dieksekusi Lucky dengan sembarangan. Ia mampu menghadirkan suasana SMA yang jauh lebih “nyata” seperti keadaan sebenarnya. Banyaknya karakter pendukung justru melengkapi, terasa seperti sekolah keseharian pada umumnya. Mulai dari teman yang narsis alias nyentrik, anak pintar kesayangan guru hingga rasa rendah hati ketika ada anak SMA lain yang lebih keren atau jago. Keseluruhannya membuat film berdurasi 112 menit ini terasa “dekat” dan tak mengawang.

Resiko yang diambil Lucky terasa impas ketika chemistry Refal dan Sheryl mampu menyatu dengan cukup lancar. Sebagai pendatang baru, nyawa tokoh Galih dan Ratna mampu digambarkan dengan nilai di atas rata-rata. Penonton dapat dibuat percaya akan rasa menggila yang membuat para tokoh utama melakukan tindakannya.

Dengan masa lalu para karakter utama yang jauh dari kata sempurna, penokohan mereka seiring film berjalan pun kian berkembang. Konflik yang dihadapi saat mereka harus terpaksa menjauh pun masih tak melukai logika. Maksud baik yang sebenarnya dilakukan atas dasar rasa kasih pun dapat diterima berbeda dan berakhir luka.

Ilustrasi musik dan lagu tema yang bertebaran di sepanjang film tak hanya menjadi pemanis. Nyawa sekaligus mood film dibangun dengan indah berkat tim musik yang sangat mendukung. Tengok bagaimana lagu ‘Hampir Sempurna’ dapat diperdengarkan dengan anti mainstream sekaligus romantis di angkot yang disupiri Indra Birowo!

Tak ketinggalan penampilan Marissa Anita (kesayangan sang sutradara yang mengajaknya main kembali) sebagai scene stealer. Ia menjiwai tokoh Tante yang konsisten ceria namun mampu menjadi penyeimbang hidup Ratna. Nyali Lucky juga digambarkan dengan menyisipkan sekilas dua pasang tokoh LGBT sebagai salah satu signature khasnya.

Adaptasi kekinian film bertajuk Gita Cinta Dari SMA ini berhasil membangun cerita keseharian dengan cinta dan konflik yang berjalan seiring. Keberhasilan lain dari Lucky Kuswandi. Resiko yang patut diambil. Menonton hasilnya menjawab keraguan banyak pihak. Adaptasi kekinian yang berjiwa dan natural.

Text by Pikukuh
Photo by imansulaiman[dot]com

Tinggalkan Balasan