gods-of-egypt2GODS OF EGYPT 2.9/5 STARS
“Hikayat Kericuhan Para Dewa”
Setelah 300, Gerard Butler belum menemukan film lain dengan peran identik. Gagal di beberapa komedi romantis dan tampil komersil di Olympic Has Fallen, Gerard Butler masih belum bisa memilah peran yang membuatnya bersinar kembali, seperti di film bertema legenda Gods of Egypt. Perbedaannya kali ini, Dewa Set yang diperankannya berkarakter antagonis, gila kekuasaan, bahkan cenderung mengarah ke perilaku megalomania.Menceritakan Dewa Matahari Ra (Geoffrey Rush), memiliki 2 putra yang bertolak belakang: Osiris (Bryan Brown), penguasa Mesir juga Sungai Nil dan Set (Gerard Butler), penjelajah padang pasir. Lelah dengan perbedaan perlakuan dari sang ayah, Set datang bersama pasukannya mengkudeta proses pelantikan putra Osiris, Horus (Nikolaj Coster-Wandau). Lebih parah lagi, Set membunuh kakak kandungnya sendiri dan membutakan Horus. Mata Horus konon disimpan di tempat persembunyian rahasia Horus. Istri Osiris sangat sedih, kemudian bunuh diri, sementara Horus dalam kondisi buta mengungsi dan mengurung diri.

Ketika para dewa sibuk dengan konfliknya, sepasang anak manusia yang jatuh cinta, Bek (Brenton Thwaites) dan Zaya (Courtney Eaton) terjebak di tengah pertempuran para dewa. Tragis, Zaya tewas terpanah ketika melarikan diri dari sang bos, Urshu (Rufus Sewell), arsitek Set. Bek pun membuat kesepakatan dengan Horus. Jika Bek berhasil membantu Horus merebut tahtanya kembali dari Set, maka Horus yang akan menjadi Raja akan memanggil Anubis untuk membangkitkan Zaya kembali. Perjalanan mereka bersama cinta lama Horus, Hathor (Elodie Yung) tidak mudah.

Layaknya film bertema kolosal (timur tengah) lainnya, visual megah menjadi menu utamanya. Sayangnya banyak tampilan animasi grafis yang nggak tersaji mulus, kasar dan terkesan tempelan. Padahal total biaya produksi mencapai USD 140 juta tapi nggak dioptimalkan. Skenario dan alur yang terkesan suka-suka, lalu berakhir bahagia seolah meminta pemakluman penonton atas pakem yang terbilang umum, standar, dan minim kejutan.

Meski nggak seburuk Pompeii, tapi film kolosal yang disutradarai dan ditulis oleh Alex Proyas (I, Robot, Knowing) ini tetap sebagai kesia-siaan dan tidak membawa hal yang baru. Riuhnya pertempuran para dewa, karakter yang 2 dimensional dan tidak mengundang empati, serta disisipi kisah cinta manusia minim greget membuat kami lelah sebagai penonton. Durasi 2 jam 7 menit terasa lebih lama dari seharusnya, apalagi dipenuhi oleh ricuhnya visual efek dan absennya kehangatan hati dari para karakternya.

Text by @pikukuh22
Photo by collider[dot]com

Tinggalkan Balasan