goosebumpsGOOSEBUMPS 3.5/5 STARS
“Ironi Cerdik Mempermainkan Sang Pengarang”

Bagi yang besar di era 90-an akhir (atau awal 2000-an), minimal pernah mendengar novel seri bergenre horor remaja Goosebumps. Kisah-kisah monster (lama dan kreasi baru) dituturkan ulang oleh R.L. Stine dengan ringan dan luwes tepat sesuai segmen pasarnya: remaja. Lalu, bagaimana bila dicoba diadaptasi menjadi versi layar lebar, dengan durasi kurang
dari 2 jam? Apa saja penyesuaian yg harus dilakukan?

Isu pertama adalah menentukan plot cerita versi bioskopnya. Alih-alih bingung memilih salah satu atau beberapa cerita yang diangkat dari novelnya, duo Mike White – Darren Lemke sebagai penulis skenario dan pertimbangan Sony Pictures, maka disepakatilah plot yang benar-benar berbeda: “bagaimana jika seluruh monster yang ditulis Stine muncul ke kehidupan nyata dan justru mengejar, menyerang dan hendak membunuh sang pengarang?”. Ironis bukan, yang menulis justru kini dipermainkan dan diserang balik (nyaris) menjadi korban kebuasan ciptaannya?

Terlepas dari plot yang berbeda dari buku-bukunya, memang terdengar dejavu saat teror monster keluar dari buku. Mengingatkan penulis akan Jumanji (1991, Robin Williams). Tapi untungnya tidak terjatuh berkelanjutan dalam pola yang serupa.

Ceritanya sangat sederhana. Zach Cooper (Dylan Minnette) terpaksa pindah domisili ke Madison, Delaware, karena mengikuti sang bunda yang diterima kerja sebagai wakil kepala sekolah di sana. Setelah wafatnya sang ayah, Dylan menutup diri, termasuk terhadap sang ibu. Satu-satunya hal yang mencerahkan kehidupan Zach adalah perkenalannya dengan gadis tetangga sebelah rumah Hannah (Odeya Rush), yang mengalami perlakuan misterius dari sang ayah, R.L. Stine (Jack Black).

Tidak butuh waktu lama bagi Zach dan sahabat barunya, Champ (Ryan Scott Lee) untuk menyelidiki rumah Stine yang menyimpan segudang tanda tanya. Hingga akhirnya tanpa sengaja Zach membuka salah satu buku karangan Stine, yang berakibat fatal. Kini tugas mereka untuk membereskan kekacauan yang berimbas kepada penduduk seisi kota.

Sebagian besar humor yang diceletukkan berhasil dan film ini mampu mengambil slot genre horor komedi yang family-friendly. Setelah era James Wan (Insidious, Conjuring), film-film horor mengalami kemerosotan tajam dari sisi kualitas dan komersil. Bahkan selama 2 tahun ini, nyaris tidak (atau belum) ada horor yang patut dikenang selain It Follows atau The Barbadook. Horor yang awalnya dikhususkan untuk segmen dewasa, mulai bergeser ke arah family-friendly lewat film
ini. Selain memperluas cakupan penonton, genre ini masih terbilang jarang dan potensial untuk digarap.

Sang sutradara, Rob Letterman yang sebelumnya pernah bekerjasama dengan Jack Black di Gulliver’s Travel memperbaiki kinerjanya dalam membesut film dari hasil adaptasi. Walaupun tidak akan bersaing di ajang penghargaan kelas Oscar, namun film ini telah menjalankan tugasnya dengan baik sebagai horor komedi yang ringan dan ramah bagi seluruh keluarga, menegangkan untuk remaja, sekaligus masih dalam kadar yang dapat ditolerir bagi dewasa.

Trivia: Jangan sampai dilewatkan munculnya sosok asli R.L. Stine sebagai cameo di bagian menjelang ending film ini, berperan sebagai apakah dia?
a. Guru Bahasa Inggris
b. Guru Drama
c. Guru Olahraga

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan