GUARDIANS OF THE GALAXY VOL.2: 4.2/5 Stars
“Barisan Anak yang Sakit Hati”

Pada pemutaran seri perdananya tahun 2014, Guardians of The Galaxy tak disangka mendapat sambutan hangat. Sekelompok superhero penjaga alam ruang angkasa dalam beraneka wujud tak lazim (kecuali Star Lord yang penampilan fisiknya kian sempurna) ini mampu menggabungkan keseruan aksi dengan rasa humor segar. Ditambah musik lawas yang tak cuma menjadi latar belakang, tetapi juga memberi jiwa di sepanjang film. Marvel Studios pun segera melanjutkan aksi Peter Quill dkk dengan merilis sekuelnya 3 tahun kemudian.

Selain Groot (Vin Diesel) yang kini berubah menjadi “bayi” menggemaskan, kawanan jagoan kita masih diperkuat Star Lord (Chris Pratt), Gamora (Zoe Saldana), Drake (Dave Bautista) dan si rubah Rocket (Bradley Cooper). Namanya saja sekuel, jadi perlu ditambahkan lagi para karakter baru yang diharapkan membawa konflik baru. Atau minimal menghadirkan kehebohan yang lebih hebat.

Karakter baru justru datang dari ayah kandung Peter, Ego (Kurt Russel). Bersama sang asisten Mantis (Pom Klementieff), Ego hadir di saat yang tepat menyelamatkan para penjaga dari serangan bangsa Sovereign. Peter pun girang maksimal ketika ayahanda yang telah lama dirindukannya, sontak muncul di depan mata. Ternyata, kekuatan yang dimiliki Ego juga menurun ke Peter.

Di sisi lain, sosok yang membesarkan Peter, Yondu (Michael Rooker) punya agenda lain. Begitu juga saudara kandung Gamora, Nebula (Karen Gillan) hadir menambah rusuh ketika ada isu rivalitas sekaligus luka batin menahun sebagai sub konfliknya. Keseluruhan konflik membawa ke hal yang tak pernah disangka oleh Peter sebelumnya di klimaks film.

Masih ditulis dan disutradarai oleh James Gunn, seri kedua ini masih membawa semangat, cita rasa, dan formula yang tak jauh berbeda dengan pendahulunya. Meski dipenuhi dengan riuhnya efek visual, Gunn masih berupaya menghadirkan elemen drama yang digarap ringan.

Sebagian besar konflik di film berdurasi 136 menit ini berpusat pada daddy’s issues yang dialami beberapa tokohnya sebagai para anak. Tema yang justru umum ini untungnya tak sampai berujung picisan. Lagu ‘Father & Son’ (Cat Stevens) yang digaungkan di akhir babak ketiga justru menjadi pengiring yang sempurna.

Film yang lebih dulu dirilis di Indonesia daripada negara asalnya ini unggul tipis dibanding seri pertamanya. Keseruan yang menghibur secara visual dan (berusaha) hangat, meski berakhir dengan sangat mudah ditebak.

Ssst…!! Jangan buru-buru meninggalkan kursi bioskop, karena tidak hanya 1 atau 2, tapi ada 5 adegan ekstra selama credit title!

Text by Pikukuh
Photo by spacer114[dot]deviantart[dot]com

Tinggalkan Balasan