hitman47“Hitman: Agent 47”: 2.7/5 STARS

“Aksi Pembunuh Bayaran Kelas B Ala Bintang Video Klip”

Film yang diangkat berangkat dari video game ini pernah dibuat versi pendahulunya yang dibintangi Timothy Olyphant (“Die Hard 4”). Dengan biaya produksi $24 juta, film yang dibesut tahun 2007 mampu menghasilkan pendapatan kotor $39 juta di Amerika Utara dan Kanada. Tidak terlalu sukses memang, namun pihak studio merasa masih merasa belum optimal dan perlu mencoba membuat versi kekiniannya di era saat ini. Setelah hampir 8 tahun bergulir, 20th Century Fox merilis versi gres-nya dengan memajang bintang utama Rupert Friend, yang memang masih awam. Aktor yang cukup dikenal publik adalah Zachary Quinto (serial “Heroes”, reboot “Star Trek”) yang berperan sebagai John Smith, pria yang kemunculannya memiliki agenda tersendiri.

Seri terbarunya ini bukan merupakan prekuel atau sekuel, hanya ceritanya saja yang memang berbeda. Dikisahkan Agent 47 adalah manusia yang diprogram oleh suatu organisasi, dilatih menjadi pembunuh bayaran yang tidak memiliki emosi dalam jiwanya. Tugas demi tugas dilakoni, hingga ia diminta memburu seorang wanita bernama Katia (Hannah Ware), yang juga mencari ayah kandung yang meninggalkan dirinya saat usia dini. Intinya “hak paten” penciptaan tentara pembunuh bayaran layaknya Agent 47 dicoba dikuasai oleh organisasi bernama Syndicate (sangat mengingatkan penulis akan “Mission Impossibe: Rogue Nation”!) .

Sesuai dengan judulnya, maka film ini dipenuhi adegan tembak-menembak, baku hantam dan aksi kekerasan berdarah dengan rating R (restricted). Sangat tidak disarankan untuk konsumsi anak-anak. Alih-alih keren, visualisasi yang disajikan justru terasa artifisial, jika tidak mau dikatakan lebay. Hampir di setiap action yang disajikan digarap layaknya video klip. Dengan mudahnya, Agent 47 menghabisi penjahat dengan gerakan slow motion berulang kali, musik yang bergemuruh dan gaya yang tidak alami, namun diniatkan sebagai hal yang keren. Banyaknya tampilan close up pada para pemain juga dirasa cukup mengganggu pandangan mata. Membuat penulis teringat pengaturan tata kamera saat pengambilan gambar ala sinetron kejar tayang.

Yang cukup mengganggu adalah beberapa plot yang terasa “dimudahkan” atau “membodohi” penonton. Di tengah peta dunia yang sangat luas, sangat mudah ternyata mencari keberadaan ayah Katia. Fakta bahwa kantor pusat Syndicate ada di Singapura dan (kebetulan??) ayah Katia juga berada di Singapura namun tidak diketahui oleh mereka bukankah suatu hal yang konyol? Beberapa adegan juga menyalahi akal sehat penonton awam yang mengganggu di sepanjang film.

Maksud hati 20th Century Fox mendefinisikan ulang seri tentang pembunuh bayaran ini, sayangnya dieksekusi dengan penuh klise dan dibangun di atas pondasi skenario serta plot yang lemah. Akting para pemain juga terbilang jauh dari kata luwes (kecuali Zachary Quinto yang masih agak lumayan). Aksi helikopter yang menerabas gedung rasanya sudah beberapa kali kita saksikan di film Hollywood berbudget fantastis lainnya. Sungguh tidak ada hal baru yang dibawakan oleh film karya Aleksander Bach ini. Sebuah usaha penceritaan film aksi kelas B yang tanggung dari berbagai lini.

 

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan