ibu-maafkan-akuIBU MAAFKAN AKU 3.9/5 Stars
“Drama Pekat dengan Akting Gemilang”

Setelah sang suami (Herdin Hidayat) meninggal secara ‎mendadak, Hartiningsih (Christine Hakim) sontak menangis histeris, bahkan pingsan, karena masih ada 3 tanggungan yang harus dihidupinya: Banyu, Gendis, dan Satrio. Pilihan kerja fisik menjadi kuli pemecah batu kali ikhlas dijalaninya untuk menyambung hidup. Keberadaan kakaknya, Pakde (Marwoto) sekilas dapat mengisi figur Ayah untuk ketiga anaknya, meski masih sangat terbatas.

Menginjak remaja, Banyu yang idealis, cerdas, dan keras, bercita-cita menjadi pilot. Meski keputusannya itu membuatnya harus berjauhan dengan sang ibu. Banyu jugalah yang menjadi penghalang, kisah kasih Gendis dan Pandji. Banyu beranggapan, pacaran saat muda hanya akan mengganggu jalan mencapai cita-cita Gendis untuk menjadi dokter.

Ketika Banyu kukuh pergi dari rumah di pinggiran Jogjakarta untuk nekat merantau ke Jakarta‎ mengejar impian menjadi pilot, sang Ibu mulai merasakan patah hati keduanya setelah ditinggal almarhum suami. Tak lama kemudian, Gendis pun juga ke kota untuk kuliah kedokteran. Tinggallah Satrio yang menemani hari-hari penuh kesepian sang Ibu. Adakah akhir penuh kebahagiaan bagi keluarga mereka?

Film arahan Amin Ishaq ini memang penuh drama. Tidak semua dipenuhi kesedihan, tapi memang berfokus pada kehidupan keluarga setelah hilangnya sosok ayah menimbulkan konflik yang tidak penuh. Di beberapa bagian nuansa drama begitu pekat, bahkan dosisnya terasa berlebihan. Bahkan adegan-adegan aju jotos Banyu dieksekusi klise, meski masih sesuai dengan karakternya.

Adegan-adegan drama justru dapat dimaksimalkan menjadi panggung akting Christine Hakim. Gestur, sorot mata, hingga ucapannya seolah menggambarkan kerja keras sosok ibu yang pantang menyerah bagi keluarganya meski memiliki keterbatasan dan menyimpan beberapa rahasia.

Tanpa penampilan aktris yang berulangtahun setiap 25 Desember ini, jelas film ini akan berbeda soul-nya. Ketika penganugerahan Piala Citra minggu lalu pun, sejujurnya Cut Mini telah mendapat rival seimbang.‎ Kalau Christine Hakim belum mendapat Citra ketujuhnya, tidaklah menjadi isu, karena sebenarnya puncak kesuksesan aktris itu ketika mampu memberi rasa dan pesan pada karakternya. Hal mulia itulah yang telah sukses dilakukan oleh pemeran karakter Hartiningsih ini.

Konflik yang berjalan‎ di sepanjang 120 menit ini tidak akan meresap dengan baik jika tidak didukung oleh penata suara yang ciamik. Andi Rianto berhasil membangun atmosfer syahdu secara bijak dan dewasa. Lantunan musik orkestra pengiring jauh dari kata berlebihan tapi perlahan menjadi “aktor” tambahan yang melengkapi lirih setiap adegan penting menjadi lebih megah dan berkesan.

Film yang berfokus pada drama perjuangan hidup keluarga tidak mampu ini tidak melulu menjual kesedihan dan air mata. Para penonton telah sukses diingatkan kepada sosok ibu masing-masing dan bagaimana perjuangan hidup mereka.

Sayangnya, penceritaan figur Hartiningsih seolah terlihat 1 dimensi saja, nuansanya kelam. Jika saja, penulis skenario lebih cerdik memasukkan unsur humor dan sisi lain kehidupan Hartiningsih (tanpa mengkhianati keseluruhan mood film), dijamin hasil akhir‎ film ini akan jauh lebih berwarna.

Text by Pikukuh
Photo by sinopsisfilem21[dot]com

Tinggalkan Balasan