HEART OF THE SEAIN THE HEART OF SEA 4/5 STARS
“Hikayat Monster Para Pemburu Paus‎”

Dikutip dari wikipedia, Moby Dick, adalah novel epik karya‎ penulis Amerika Serikat, Herman Melville, yang diambil dari julukan seekor paus putih yang sebelumnya telah menggigit putus kaki sang Kapten Ahab. Disulut dendam membara, Kapten Ahab didampingi kelasi Ishmael berpetualang samudera untuk mencari, lalu membunuh Moby Dick. Fiksi yang Melville tulis tahun 1851 tersebut diinspirasi dari kisah‎ nyata Kapal Essex yang karam akibat serangan paus putih raksasa.

Penceritaan bermula dari Melville (Ben Whishaw) yang berniat menulis novel dari sudut pandang Thomas Nickerson (Brendan Gleeson), bocah yang ikut pelayaran Kapal Essex tahun 1820. Narasi mengisahkan wilayah Nantucket merupakan pusat armada‎ kapal penangkap paus. Jenis Paus yang diburu adalah paus sperma yang menyimpan minyak (zat cairan berwarna putih seperti sperma) bernilai ekonomis tinggi.

Pada tahun 1820, kapal penangkap paus, Essex berangkat dengan konflik yang sudah meruncing, terutama antara Sang Kapten versus Kelasi Pertama. Owen Chase‎ (Chris Hemsworth) yang sebelumnya dijanjikan akan menjadi Kapten, merasa kecewa karena justru anak kemarin sore, George Pollack Jr (Benjamin Walker) yang terpilih menjadi Kapten. Pollack terpilih jelas karena pengaruh nepotisme: sang ayah adalah mantan kapten kapal ternama, sekaligus sponsor penyandang dana perjalanan kapal Essex.

Perbedaan pendapat Chase dan Pollack‎ kian menukik tatkala badai menghadang Essex. Chase berpikir untuk segera mengubah haluan, namun Pollack sengaja hendak memberi ujian mental kepada para anak buahnya. Ketidaksinkronan ini seolah-olah ada 2 kapten yang berseberangan dalam 1 kapal dan berujung pada instruksi Pollack agar Chase meminta maaf lalu mengundurkan diri.

Alur plot kian seru ketika Essex telah bertemu, kemudian diserang oleh Paus Putih yang tidak hanya berukuran raksasa, namun juga memiliki kecerdasan. Essex pun hancur bahkan karam akibat ulah Paus Putih. Pollack, Chase dan seluruh awak kapal segera menyelamatkan diri dengan 3 sekoci. Dengan perlengkapan seadanya, mereka terlunta-lunta mengembara samudera.

Kondisi yang terombang-ambing mengingatkan kami akan kisah nyata lainnya Unbroken. Bedanya, selama 90 hari‎ mereka berupaya bertahan hidup dengan cara-cara yang tidak pernah duga dilakukan mereka sebelumnya. Dapat dipandang sebagai suatu aib atau mungkin sah-sah saja dalam kondisi ekstrim.

Film kedua kerjasama sutradara pemenang Oscar Ron Howard (A Beautiful Mind, Apollo 13) dengan aktor Chris Hemsworth setelah Rush ini menyajikan efek visual yang menawan. Ron Howard yang juga bertindak sebagai salah satu produser membawa penonton berpetualang memburu ikan paus dengan tidak berlebihan. Ia tahu kapan harus menampilkan adegan aksi di tengah badai atau saat diserang paus, dan kapan harus menampilkan drama terdampar di laut lepas dengan kadar yang cukup pas.

Penampakan ikan paus bukan ditampilkan seperti monster, walau memang aksinya mengacaukan rencana para pelaut ambisius. Justru mungkin, keserakahan manusianya sendiri-lah yang menjadikan mereka monster melebihi makhluk buruannya.

Pada akhirnya, manusia yang konon makhluk ciptaan Gusti Allah yang paling sempurna ini justru beraksi pongah dan mendapatkan konsekuensi dari alam atas sifatnya tersebut. Naluri manusia untuk bertahan hidup ini mau tidak mau harus dijalani dengan sekuat tenaga‎. Sementara perut kosong pun membuat mereka memutar otak, termasuk opsi kanibalisme jasad rekan mereka sendiri.

Walaupun bukan film terbaik karyanya, namun Ron Howard telah dapat menyampaikan pesan moral kepada penonton. Terlepas dari alur cerita yang mungkin didramatisir demi kebutuhan, film yang dapat ditonton semua umur dengan bimbingan orangtua ini memberi nilai tambah pada kisah di balik penciptaan karya klasik “Moby Dick”.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan