InsideOutINSIDE OUT 4.8/5 Stars
“Kelincahan Bermain Emosi yang Menggugah”

Sudah sejak lama, tidak menonton suatu karya film yang rasanya penulis hendak memberikan standing ovation sebagai bentuk penghargaan setelah credit title bergulir. Dan kini, Inside Out memberikan energi lebih untuk penulis berdiri memberikan applause tepat setelah film berakhir. Sebelum beranjak ke banyak hal yang membuat Inside Out spesial, seperti film Disney lainnya, kisah Inside Out dibuka dengan film pendek Pixar bertajuk Lava. Temanya sederhana, tentang cerita gunung berapi bernyanyi yang kesepian. Namun tak disangka, ia menemukan “pasangannya”. Berakhir manis dan kemudian kita kenal istilah yang cukup catchy “I LAVA U”!

Masuk ke sajian inti, para penonton diperkenalkan dengan tokoh utama, Riley (Kaitlyn Dias), sosok bayi yang baru lahir di hadapan Mom (Diane Lane) dan Dad (Kyle MacLachlan). Emosi Riley dikontrol di dalam otaknya (baca: headquarter / kantor pusat), di mana terdapat 5 tipe karakter emosi: Joy (Amy Poehler), Sadness (Phyllis Smith), Fear (Bill Hader), Anger (Lewis Black) dan Disgust (Mindy Kaling). Kelima emosi inilah yang setia senantiasa mengatur kepribadian Riley.

Diceritakan Riley tumbuh di kota Minnesota, hobi bermain hoki, dilingkupi kasih sayang keluarga dan teman, bersifat jujur dan terkadang konyol. Kelima sifat ini membentuk watak Riley yang dimanifestasikan dalam wujud 5 pulau kepribadian di dalam otak Riley: Family (Keluarga), Honesty (Kejujuran), Hockey (Hoki), Friends (Sahabat) dan Goofball (Kekonyolan). Kelima pulau tersebut terbentuk saat memori inti Riley terbentuk sedari kecil dan terus menerus berkembang seiring memori Riley yang terekam setiap harinya melalui bola-bola memori yang berwarna sesuai jenis emosinya.

Alkisah di usia 11 tahun, Riley harus menghadapi kenyataan mengejutkan: pindah domisili ke San Fransisco! Bertempat tinggal di apartemen yang berbeda jauh dengan rumahnya terdahulu di Minnesota menimbulkan bermacam emosi yang berkecamuk di benak Riley. Pada saat yang bersamaan, Sadness pun mulai berulah aneh dan menimbulkan kekacauan di markas besar. Joy dan Sadness terhisap dan terdampar jauh ke lokasi penyimpanan Memori Jangka Panjang. Apa jadinya nasib hidup Riley tanpa adanya Joy? Satu per satu pulau stasiun yang dimiliki Riley pun runtuh. Kini menjadi tugas Joy dan Sadness untuk segera kembali ke pusat kontrol untuk mengembalikan kondisi Riley sebelum segala sesuatunya menjadi terlambat untuk diselamatkan.

Proyek berdurasi 5,5 tahun ini hanya dikerjakan hanya 45 animator saja, berkisar separuh dari jumlah tenaga animator film-film Pixar sebelumnya. Namun pengerjaannya benar-benar maksimal. Staf produksi juga berisi psikologis dan ahli lainnya bekerjasama dengan tim penulis untuk menghasilkan alur yang lebih nyata dan secara sains dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya, benar dikisahkan bahwa memori jangka pendek direkam pada siang hari dan akan dikonversikan menjadi memori jangka panjang pada malam hari, terutama saat Riley sedang tidur. Bahkan awalnya sempat dibuat 27 jenis emosi. Namun demi alasan simplicity, maka hanya diringkas cukup menjadi 5 karakter saja.

Sang sutradara, Pete Docter adalah sosok yang bertanggungjawab atas animasi Pixar mengagumkan lainnya Monster, Inc (2001) dan Up (2009). Inspirasi film Inside Out bermula dari Pete, saat anak perempuannya melalui saat-saat sulit dalam fase pertumbuhannya. Dari sanalah ide Pete muncul tentang bagaimana kondisi yang dialami seorang anak gadis, simultan dengan penggambaran yang ada di dalam otaknya. Selain itu, Pete juga menambahkan unsur pribadi lainnya, bahwa pada masa kecilnya, ia sempat pindah domisili, yang semula di Minnesota lalu migrasi ke California (domisili Riley yang baru di San Fransisco, ada di Negara Bagian California, sangat personal!)

Dibangun dalam kerangka bercerita yang mudah dicerna semua umur dan dirasakan nyata, Inside Out berhasil dari sisi struktur plot yang rapi, penuh humor dan nilai tambah moral untuk dibawa pulang para penonton. Bagaimana seorang anak dapat mengerti diri mereka sendiri dan orangtua bisa berusaha memahami apa yang sedang terjadi di dalam benak anak mereka. Dalam hal ini Disney-Pixar unggul jauh dari produksi studio animasi lain, bahkan karya-karya mereka sebelumnya! Penggambaran dunia imajiner (Imagination Land) Riley, teman khayalannya yang bernama Bing Bong (yang dirahasiakan pada sesi promo sebelum Inside Out dirilis), alam bawah sadar, hingga dunia mimpi (Dream Productions) Riley digarap secara konsep dan visual yang mengesankan. Tim desain produksi patut mendapat kredit tambahan.

Pada akhirnya, Inside Out adalah bukti nyata film animasi yang digarap serius dapat berbuah luar biasa. Secara tidak sadar, para penonton pun dibawa selama 94 menit (yang efektif!) untuk mengalami transformasi emosi, ikut bersimpati kepada Riley, seiring durasi film berjalan. Tidak usah heran jika di antara penonton terdapat yang tertawa dan menangis bergantian berulang kali. Sayangnya belum ada lagu tema yang berkarakter dan benar-benar dapat menyempurnakan atmosfer emosi Riley.

Secara pundi-pundi pun, IO telah meraih US$ 90 juta di pekan perdana peredarannya di USA, hanya kalah dari Toy Story 3 untuk kategori Film Animasi berpendapatan terbesar di pekan pertama rilisnya. Meski sempat menjadi nomor 2 Film Terlaris di belakang Jurassic World Juni lalu, namun IO berhasil naik merebut tahta dari Indominus Rex di minggu ke-3 peredarannya.

Berkat keunggulan dari sisi teknis visual terutama emosi, besar kemungkinan Inside Out akan meraih Piala Oscar kategori “Best Animated Feature” tahun depan. Tidak menutup kemungkinan juga, Inside Out akan menjadi salah satu kandidat peraih Oscar kategori tertinggi “Best Picture”, menyamai rekor The Beauty and The Beast yang menjadi salah satu nominator “Best Picture” di Oscar (1991)?

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan