jack-reacher-never-go-backJACK REACHER NEVER GO BACK 2.7/5 Stars
“Melempem, Bahkan Mencederai ‎Logika Penonton”

Setelah seri perdananya di tahun 2012 (dianggap) sukses secara komersil, kisah Jack Reacher dirasa perlu untuk dibuat sekuelnya. Tom Cruise yang juga menjabat sebagai salah satu produsernya tetap menjadikan karakter Jack, mantan mayor Angkatan Darat, sebagai tokoh sentral yang jagoan. Tanpa kemampuan super, ia mampu baku hantam sekaligus membuat strategi jitu.

Di awal film dikisahkan ia sudah lama berhubungan melalui surat-menyurat dengan Mayor Turner (‎Cobie Smulders). Tapi, saat Jack mengunjungi kantor Turner, ternyata keadaan sudah berubah. Turner sudah dicopot dari jabatannya, dan saat itu sedang dipenjara untuk menunggu pengadilan militer. Kata hati Jack menuntunnya untuk membebaskan dan memperjuangkan Turner dengan segala macam resiko menanti.

Proses mencari keadilan Jack dikemas dengan subplot isu munculnya anak perempuan 15 tahun yang tak pernah dikenalnya, Samantha (Danika Yarosh). Tidak butuh waktu lama bagi Samantha untuk ikut pelarian Jack dan Turner yang mempertaruhkan nyawa mereka.

Sekuel Jack Reacher diceritakan tidak serumit atau tidak seserius pendahulunya. Jika seri pertamanya cenderung membosankan karena tidak seperti film aksi pada umumnya, maka jilid keduanya menggunakan pendekatan berbeda: mengambil “rumus” film aksi kebanyakan. Pilihan ini membuat film berbudget US$ 68 juta ini tidak memiliki identitas unik alias terlupakan.

Adegan aksinya tidak seluruhnya buruk, tapi secara kerangka ‎keseluruhan nyaris tidak ada bedanya dibanding film aksi mainstream yang sudah banyak di pasaran. Faktor utama yang mengundang penonton jelas nama besar Tom Cruise saja. Jika bintang utamanya bukanlah dia, maka bisa dipastikan film ini akan kesulitan mendapat banyak penonton. Sama seperti kharisma Jason Statham di tiap filmnya sebagai daya tarik utama.

Penjahat yang mengejar Jack, Turner dan Samantha hanya dikenal sebagai The Hunter. Perannya sebagai tukang pukul justru mengalahkan porsi sang dalang antagonis utama, Jenderal Harkness (Robert Knepper). ‎Knepper yang sesungguhnya berbakat dan dikenal berkat peran bad guy-nya di serial Prison Break ini tampak loyo karena tidak diberikan durasi yang cukup banyak untuk menampilkan karakternya. Porsinya sepintas hanya muncul tampil sambil lewat, sedangkan waktu on-screen The Hunter jauh lebih menyita perhatian penonton.

Logika bercerita ‎Jack Reacher Never Go Back juga sungguhlah mencederai nalar penonton, beberapa di antaranya (tanpa memberi bocoran ceritanya):

– Anak usia 15 tahun bisa memiliki 3 kartu kredit (bukan hasil curian)?
– Disebutkan‎ anak buah Turner tewas ditembak di belakang kepala mereka di Afganistan, padahal jelas, pada adegan flashback ditampilkan ditembak dari depan.
– Beberapa adegan bodoh‎ yang membuat konflik berkepanjangan, sehinga durasi melebar menjadi 118 menit.
– Penentuan apakah benar Jack adalah Ayah Samantha atau bukan, diputuskan secara sederhana namun anehnya melawan penampilan awal‎.

Diperparah lagi dengan subplot hubungan ayah-anak Jack-Samantha‎ malah mengambil porsi jauh lebih banyak daripada konflik utamanya. Isu utama diselesaikan dengan cepat dan ringkas, sedangkan subplot tambahan Jack-Samantha memakan waktu lebih lama dari yang seharusnya. Hubungan mereka pun sama sekali tidak mengundang empati penonton, terlepas dari mereka benar ayah-anak atau tidak.

Sesuai dengan judulnya Never Go Back, seri Jack Reacher seharusnya tidak perlu dibuat jika berakhir seperti yang ini. Cruise berusaha menciptakan franchise lagi selain Mission Impossible yang sudah sukses sebelumnya dan jauh lebih seru dibandingkan Jack Reacher. Jack Reacher Never Go Back tidak hanya melempem, tapi juga mencederai logika penonton.

Text by Pikukuh
Photo by comingsoon[dot]net

Tinggalkan Balasan