Sedari lahir, saya tumbuh sebagai pemuda yang pemalu dan tidak berani tampil di depan umum. Seluruh ide yang sudah disiapkan sejak semalam, bisa hilang dalam hitungan detik sebelum “on stage”. Bersiar di radio menjadi titik awal perubahan saya. Rasa malu dan tidak berani tampil perlahan berubah menjadi rasa percaya diri.

Tidak Ada yang Instan

Tahun 2007. Diterima menjadi penyiar di Radio Tritara, radio kelas dua di Malang. Sadar hanya bermodal pengalaman kursus singkat penyiar selama 2 bulan, saya memaksakan diri untuk belajar lebih, dengan cara mendengar siaran radio yang populer dengan sumber daya penyiar yang berkualitas. Koko Savaraz, penyiar Radio Makobu menjadi inpirasi sekaligus “guru” pilihan saya. Sebenarnya tidak kenal secara langsung, tapi saya sering mendengar suara dan gaya siaran Koko di udara. Karena saya belajar dengan metode ATM (Amati, Tiru, Modidifikasi), maka saya dan Koko terdengar serupa tapi tak sama, dan akhirnya banyak orang yang menyebut saya sebagai seorang “copy cat”. Predikat negatif itu yang membuat saya berusaha keras untuk mengubah gaya siaran. Belajar dari beberapa literatur tentang pembangunan karakter, menyadarkan saya supaya menjadi diri sendiri. Perlahan saya mulai menemukan karakter sendiri, dan perlu proses panjang untuk menuju ke arah itu.

Tahun 2008. Diterima menjadi penyiar di radio nomor satu Kota Malang saat itu, Radio Makobu. Punya pengalaman setahun bersiar, saya memberanikan diri untuk mengirim lamaran ke Radio Makobu (dan diterima!) which is radio yang sama dengan tempat Koko bekerja. Berada dalam 1 frekuensi radio yang sama dengan Koko, membuat saya menerima “pujian” dari pendengar maupun rekan kerja: punya gaya on air yang  mirip dengan penyiar senior, Koko. Jujur bagi saya itu tidak lebih dari kritik membangun yang harus segera direspon.

Tantangan yang luar biasa, karena mau tidak mau saya harus melakukan percepatan untuk menemukan karakter siaran yang berbeda. Sebagian orang menganggap saya “follower” penyiar senior. Sebaliknya, Koko malah secara langsung membantu saya untuk menemukan karakter “Be Your Self”. Memang belum sepenuhnya berhasil, tapi paling tidak saya mengarah ke jalur yang tepat.

Tidak hanya berbagi ilmu siaran, tapi Koko juga mengajari saya untuk menjadi pembawa acara (MC) dan pembicara. Tidak hanya teori, bahkan juga praktek, dan itu cuma-cuma alias gratis. Di beberapa kesempatan, Koko mengajak saya menjadi partner MC di mal dan pusat keramaian lainnya, juga memberi kesempatan saya speech beberapa menit ketika Koko diundang sebagai pembicara di kampus. Cukup beresiko sebenarnya, mengajak seorang newbie sebagai partner kerja di atas panggung. Semangat berbagi ilmu yang terlampau tinggi dari Koko itu mengesampingkan pikiran negatif (resiko).

Akhir tahun 2009. Berbarengan dengan selesainya studi, saya memutuskan mundur dari Radio Makobu. Kemudian hijrah ke Surabaya, untuk mencari pengalaman baru. Di kota tetangga itu, saya berkerja sebagai tim legal sesuai bidang kuliah dan tetap menekuni karir sebagai penyiar radio selepas jam kantor. Meskipun berpisah kota, kami tetap saling bertukar kabar, juga sesekali menyempatkan untuk bertemu.

Jaga Silaturahmi dengan Sosok yang Menginspirasi

Tahun 2016. Permintaan menjadi pembicara datang dari kantor pemerintahan. Tidak hanya sekali pertemuan, bahkan saya diminta mengisi kelas komunikasi selama sebulan sekaligus. Dan ini akan jadi pengalaman pertama saya sebagai pembicara. Tidak punya kemampuan berlebih selain pengalaman bersiar sejak 2007, wajar kalau saya meragukan kemampuan diri sendiri. Jelas saya butuh mentor yang ahli di bidangnya. Koko adalah orang pertama yang terbesit di pikiran saya. Saat itu, selain masih aktif bersiar, Koko juga mengajar sebagai dosen komunikasi di salah satu kampus negeri Kota Malang. Jemari saya segera mengetik percakapan online ke Koko, untuk konsultasi melalui smartphone saja sebenarnya. Sungguh jawaban yang tidak disangka, Koko menawarkan diri untuk datang dan ngobrol di Surabaya, karena kebetulan ada agenda lain di Surabaya. Hari telah ditentukan, dan kami pun bertemu di tempat makan yang merupakan merchant TCASH, alasannya sederhana supaya lebih hemat karena diskon #pakeTCASH. Yang membuat haru, ternyata pertemuan dengan saya adalah agenda tunggal Koko, karena meeting dengan Agency Surabaya ternyata ditunda. Koko sengaja tidak cerita sebelumnya, karena bisa dipastikan saya akan meminta Koko supaya tidak datang ke Surabaya. Benar-benar kawan yang rela berkorban!

Cukup suksesnya kelas komunikasi di kantor pemerintahan itu menjadi turning poin. Sejak saat itu, saya menyadari kalau aktivitas mengajar/berbagi ilmu adalah passion utama, bukan broadcasting atau public speaking. Di tahun yang sama, saya bersama 1 kawan lain mendirikan komunitas belajar public speaking secara gratis di Surabaya, bernama SING YOUR MIND, yang masih eksis sampai saat ini.

Sampai sekarang silaturahmi kami terus terjalin. Ketika Koko mendapat job MC di Surabaya, kami saling berkabar, bahkan bertemu meski hanya sebentar. Biasanya kami ngopi atau makan sambil bertukar cerita. Sebagai rasa terimakasih ke Koko yang tidak bisa dinilai dengan rupiah, sekaligus tugas sebagai tuan rumah, saya selalu berusaha menjamu Koko dengan cara yang terbaik. Sebagai penganut cashless, saya memilih coffee shop atau restoran yang menjadi merchant TCASH. Beruntung sekali bayar #pakeTCASH, karena banyak promo spesial untuk kami juga #BuatKamu, mulai diskon sampai cashback.

Secara langsung atau tidak langsung, Koko adalah salah satu sosok yang membantu saya menemukan passion. Selalu menjaga silaturahmi dengan sosok yang menginspirasi, adalah cara saya untuk menghargai. Menjamu Koko dengan baik di Surabaya adalah cara saya untuk berterimakasih. Tentu saja menjamu tamu #pakeTCASH menjadi pilihan utama saya.

Text by Octian Anugeraha

One comment on “#BuatKamu: Jaga Silaturahmi dengan Sosok yang Menginspirasi #pakeTCASH

Tinggalkan Balasan