jason bourneJASON BOURNE 3.9/5 Stars
“(Masih) Menguak Kepingan Masa Lalu”

Sejak kemunculannya di tahun 2002, tokoh mata-mata amnesia dari novel karya Robert Ludlum ini telah berkembang menjadi seri yang dapat bersaing dengan James Bond. Ya, Jason Bourne (Matt Damon) lebih “nyata”. Ia tidak perlu super keren, banyak gaya, punya alat canggih, bermobil keren hingga hobi bermain cinta dengan wanita. Dengan wajah polos kekanak-kanakannya dan karakternya yang lurus, Bourne hadir dengan membumi dan lebih mudah membuat penonton berempati.

Setelah muncul di trilogi Bourne dan sempat dibuatkan spin-off-nya The Bourne Legacy‎ (dengan aktor utama si Hawkeye, Jeremy Renner) dan tidak sesukses harapan, maka fitrah Bourne dikembalikan kepada duet Paul Greengrass-Matt Damon. Paul Greengrass, sutradara peraih nominasi Oscar (di film penyanderaan pesawat 9/11 di United 93) ini juga berperan sebagai produser dan salah satu penulis naskah. Bahkan bintang utama kita, Jason Bourne juga turut andil sebagai salah satu produser. Dengan keterlibatan yang begitu besar Greengrass-Damon, akan dibawa seru kemana lagi karakter Bourne?

Serunya jelas penuh adrenalin tinggi. Adegan kejar-kejaran di Yunani dan Las Vegas yang masing-masing berdurasi tidak sedikit, mampu mengobati kerinduan aksi yang menghentak. Terlebih, adegan aksi akhir yang juga merusak 170 mobil‎ ini penuh greget walau kurang otentik. Greengrass benar-benar gas pol dalam lini aksi.

Sayangnya keseruan tersebut kurang dilandasi oleh plot yang membuat penonton terkesima. Bourne yang‎ kini hidup sebagai petarung jalanan, didatangi Nicky Parsons (Julia Stiles) yang bermaksud memberikan sejumlah data penting dan rahasia. Keberadaan mereka diendus Direktur CIA (Tommy Lee Jones) dan anak didiknya Heather Lee (Alicia Vikander). Pengejaran yang berlangsung di Yunani hanya awal mula dari serangkaian usaha Bourne menyusun kepingan masa lalu yang berhubungan dengan kematian sang ayah.

Subplot me‎nelusuri hubungan tokoh utama dengan orangtua (terutama ayah) sudah sedemikian jamak diangkat ke layar lebar Hollywood. Masih hangat di ingatan kita Captain America: Civil War yang membuka rahasia kematian ayah Tony Stark. Atau dwilogi The Amazing Spider-Man yang sempat bertutur hubungan Peter Parker dan (lagi-lagi) misteri rekayasa meninggalnya sang ayah. Bahkan Star Trek pun sudah mengumumkan seri keempat reboot-nya dengan plot hubungan Kapten Kirk dan ayahnya (Chris Hemsworth).  Ketika subplot ini diterapkan di Jason Bourne apakah masih sesuai konteks alias tidak basi?

Kehadiran deretan pemenang Oscar Tommy Lee Jones dan‎ Alicia Vikander cukup membantu (Matt Damon sendiri juga pemenang Oscar di kategori Skenario Asli Terbaik, Good Will Hunting). Namun lawan tangguh Bourne sesungguhnya adalah Sang Aset (Vincent Cassel) yang mampu menjadi penyeimbang adegan aksi dengan Bourne.

Kali terakhir kita menyaksikan Matt Damon ialah sebagai astronot terdampar sendirian di The Martian. Kini‎ ia kembali ke genre zona nyamannya, apalagi Jason Bourne sudah keempat kalinya bekerjasama dengan Greengrass setelah The Bourne Supremacy, The Bourne Ultimatum dan Green Zone. Chemistry Damon-Greengrass di depan (dan di belakang) layar menjadi modal solid, walau dialog Damon hanya 25 baris saja di film ini. Fisik Damon yang sudah berusia kepala 4 pun memaksa dia diet dan berlatih keras untuk peran Jason Bourne ini. Hasilnya, tidak mengecewakan.

Setelah ditutup dengan The Bourne Ultimatum yang mengesankan 9 tahun‎ lalu, kini penonton “dikejutkan” dengan kehadiran lanjutannya. Masih dengan pengulangan tema penelusuran yang sama. Pengalaman kembali ke bioskop bersua dan mendampingi Bourne beraksi kali ini dapat dianalogikan semacam datang ke reuni sekolah dan berpetualang berlibur bersama. Menyenangkan, menegangkan namun tetap dirasa sebagai pengulangan yang belum mengesankan.

Text by Pikukuh
Photo by jasonbournemovie[dot]com

Tinggalkan Balasan