John Wick 2JOHN WICK CHAPTER 2 3.5/5 Stars
“(Masih Menjual) Formula Aksi Brutal”

Setelah kesuksesan seri pendahulu secara komersil (modal budget USD 20 juta dan berhasil meraup pendapatan kotor USD 43 juta di Amerika Utara dan Kanada saja), para produser langsung tancap gas membuat lanjutannya. Terbukti sejak sepekan pertama peredarannya di negara asalnya saja, sekuel yang disutradarai Chad Stahelski ini telah balik modal, dengan biaya USD 40 juta. Lionsgate pun tak segan mengucurkan budget 2 kali lipat lebih banyak dari seri pertamanya demi memproduksi film dengan formula setipe namun dosis lebih tinggi.

Pahlawan kita, John Wick (Keanu Reeves) kali ini harus berhadapan dengan Santino D’Antonio (Riccardo Scamarcio) yang memintanya kembali bertugas. Permintaan Santino adalah mengeksekusi, alias menghilangkan nyawa sang kakak kandungnya, Gianna (Claudia Gerini), atas nama kekuasaan. John sempat menolak, namun terlambat. Rumahnya yang apik sudah kadung dimusnahkan Santino. Yang tersisa hanyalah kain yang membalut tubuh dan anjing setia peliharaannya. John pun terpaksa berangkat ke Roma untuk menyelesaikan instruksi Santino, kemudian membalas dendam.

Keanu Reeves masih menampilkan karakter John Wick yang dingin, terampil baku hantam, namun menyimpan emosi. Mayoritas khas peran Keanu Reeves. Nyaris tak ada bedanya karakter Keanu Reeves di sini dengan di banyak filmnya yang lain. Seperti halnya Tom Cruise dan Brad Pitt, Keanu Reeves adalah aktor yang memainkan banyak karakter di berbagai film, ia tampil seolah-olah tokoh yang sama (sama seperti Jason Statham/Vin Diesel untuk di genre aksi). Kelebihan, sekaligus kekurangannya ini diperoleh berkat “stempel” aktor berkharisma tinggi.

Tokoh-tokoh lain tampil  sekedarnya secara bergantian untuk bergiliran dihabisi John. Common dan Ruby Rose (lagi-lagi dalam hattrick penampilannya selama 3 minggu berturut-turut setelah X-Men: The Return of Xander Cage dan Resident Evil: The Last Chapter) yang paling mencuri perhatian. Nyaris tak ada yang patut dikenang lebih dalam.

Alur film berjalan datar, sangat mudah dipahami (sekaligus ditebak) penonton. Sementara naskah yang tipis dan penokohan yang kurang berkembang agak tertutupi berkat rentetan adegan aksi yang bergantian menjejali layar. Sekilas mengingatkan penonton akan dwilogi The Raid. Adegan kekerasan tingkat dewasa menjadi “hiburan” tersendiri di sepanjang durasi, minim emosi sekaligus nalar.

Dramaturgi dibuat menanjak di bagian akhir film ini, tampaknya sengaja disiapkan untuk menjadi jembatan menuju film ketiganya beberapa tahun mendatang. Diperkirakan bisa saja lebih seru dari seri-seri pendahulunya dengan intensitas ketegangan yang jauh memuncak.

Text by Pikukuh
Photo by teaser-trailer[dot]com

Tinggalkan Balasan