KARTINI 4.8/5 Stars
“Relevan, Signifikan nan Menyesakkan”

Diterangi cahaya matahari yang melintas di sela pepohonan di luar rumah, terjadilah dialog yang nantinya akan berakhir penuh emosi antara Kartini alias Trinil (Dian Sastrowardoyo) dan Ngasirah (Christine Hakim):

Ngasirah: “Ilmu apa yang kamu pelajari dari aksara londo?”
Jawab Kartini: “Kebebasan”
Ngasirah pun menjawab: “Dan aksara apa yang tidak ada dalam aksara londo?”
Kartini: “Bakti”

Arti yang kontras antara bakti dan kebebasan menjadi benang merah tak terputus di sepanjang film arahan Hanung Bramantyo ini. Sebenarnya, Ngasirah adalah ibu kandung Kartini. Namun status Ngasirah yang rakyat jelata, membuatnya harus menjadi (dan diperlakukan sebagai) Yu (pembantu) di rumahnya sendiri. Simak adegan di awal film yang menggambarkan bagaimana Kartini kecil merengek ketika harus dipisahkan tidurnya dengan sang ibu kandung, Ngasirah muda (Nova Eliza).

Ayah Kartini, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo) yang juga menjabat sebagai Bupati Jepara sesungguhnya mencintai Ngasirah. Namun perbedaan strata kebangsawanan membawa Sosroningrat juga menikahi Moeryam (Djenar Maesa Ayu).

Atas nama bakti pulalah, Ngasirah rela dimadu, diperlakukan sebagai pembantu, hingga hanya mampu menatap nanar dari kejauhan tatkala anak-anaknya diperlakukan tanpa hati oleh Moeryam. Pengorbanan Ngasirah terbelenggu tradisi, sekaligus makan hati menahun agar putri-putrinya kelak dapat menyandang gelar terhormat: Raden Ajeng.

Berkat jasa awal Sang Kakak, Kartono (Reza Rahadian)lah, Kartini yang sedang jenuh menjalani pingitan bertahun-tahun lamanya mampu menemukan dunia baru. Wawasan yang kian terbuka menjadi modal Kartini menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan, yang mencuri perhatian publik, terutama bangsa Belanda.

Tak hanya bernyali menentang adat yang menempatkan perempuan sekedar dipingit untuk lalu menunggu dipinang tanpa cinta di usia belasan, Kartini mencoba merubah kondisi menyedihkan tersebut dengan berbagai cara. Dimulai dengan menginspirasi para adik, Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita), memberdayakan pengrajin ukir, mengadakan kelas baca-tulis hingga menyampaikan isi tulisan dengan redaktur Belanda. Karya goresan tangan Kartini pun menjajaki tingkat internasional, meski mendapat tentangan yang ironisnya, justru dari kerabat terdekat.

Film yang skenarionya juga ditulis oleh Hanung dan Bagus Bramanti ini menjadi salah satu contoh baik bagaimana sebuah biopik diwujudkan ke bidang  sinema. Sosok Kartini digambarkan manusiawi dengan mengambil rentang waktu yang sesuai. Nyaris setiap tokoh yang ada, meski peran pendukung sekalipun mampu diberikan momen untuk bersinar pada adegan mereka masing-masing. Tokoh Roekmini dan Kardinah jelas bukan hanya sekedar sidekick atau yang parah: tempelan semata.

Kedewasaan jajaran aktor Kelas A yang memerankan terlihat menyatu utuh, saling mendukung menjadi sebuah ensemble solid. Tengok kebesaran Reza Rahadian yang misalnya hanya muncul dalam 2 adegan awal film tetapi mampu berenergi, berkontribusi signifikan pada plot. Kemunculan singkat Nova Eliza sebagai Ngasirah muda atau kehadiran Adinia Wirasti sebagai Soelastri, kakak tiri Kartini, memegang peran minimalis namun tetap berperan genting.

Sang pemeran utama, Dian Sastrowardoyo secara meyakinkan mampu melepaskan diri dari bayang-bayang karakter Cinta (dwilogi AADC). Meski secara garis besar, tokoh Kartini pun juga berkeinginan teguh nan tangguh. Di sisi lain, puluhan dialog dalam Bahasa Belanda diucapkan Dian seolah tanpa kesulitan berarti. Tak hanya hafal, tetapi terasa seolah paham benar maknanya.

Di antara deretan pemain yang menampilkan performa terbaiknya, Christine Hakim menjadi jawaranya. Berakting dengan bijak dan nyaris terlihat tanpa usaha, beroleh hasil maksimal. Wanita yang pernah bekerjasama dengan Dian Sastrowardoyo juga sebagai ibu-anak di Pasir Berbisik ini, cerdas dalam menggambarkan “bakti” sekaligus beban pada sosok Ngasirah. Tengok ketika ia tampil memendam emosi saat adegan mensetrika baju hingga arangnya tumpah berserakan. Chemistry-nya dengan Dian Sastrowardoyo di adegan terakhir dan pembicaraan intim keduanya di luar rumah, menjadi salah dua adegan terbaik dari keseluruhan film.

Kelebihan lain film yang banyak disebut pihak menjadi calon kuat Film Terbaik 2017 ini juga tak adanya karakter yang murni antagonis ataupun sebaliknya. Tokoh kakak Kartini, Slamet (Denny Sumargo) dan Moeryam diberikan pondasi kokoh mengapa mereka terkesan tak sudi memuluskan jalan Kartini. Memang masih manusiawi, meski terlihat menyebalkan.

Film yang dirilis 19 April lalu ini menjadi bukti kematangan Hanung Bramantyo. Harus diakui ini sebagai karya terbaiknya sebagai sutradara, sejauh ini. Alasannya sangat mudah. Ia mampu membangun suasana, menampilkan para pemain dengan kapasitas terbaiknya sesuai peran hingga menyatukan seluruh elemen teknis sehingga terlihat menyatu. Begitu juga tugas lainnya sebagai salah satu penulis skenario dituturkan dengan berisi. Dialog dapat mudah dipahami, sekaligus memiliki nafas, roh, ketika dilafalkan oleh para pemeran yang juga dengan kapasitas tingkat tinggi.

Kelincahan mengatur plot dan skenario tak akan lancar jika tak ditopang oleh peran departemen editing yang mulus. Langsung tepat sasaran dalam bertutur namun berjalan mengiringi penonton memaknai tiap adegan. Tak boleh dilupakan juga desain produksi yang detil, kostum menawan ala Belanda hingga daerah, sampai ilustrasi musik gubahan Andi Rianto yang menjadi nyawa tambahan saat adegan-adegan tertentu. Magis!

Kekurangan film yang diproduseri oleh Robert Ronny ini masih terasa kecil bila dibandingkan seluruh pencapaian non teknis dan teknis. Hingga ketika credit title ditampilkan dan terdengar suara diet Gita Gutawa dan Melly Goeslaw yang mengisi OST, rasa sesak bercampur kagum dan air mata, masih terbayang jelas.

Adaptasi sosok emansipasi wanita ini menjadi relevan dan masuk akal mengingat isu penting kesetaraan yang perlu diangkat, sekaligus sebagai salah satu karya sinema terbaik anak bangsa. Bukan saja selama tahun ini, namun juga dalam sejarah perfilman Indonesia. Bravo untuk seluruh anggota tim yang terlibat!

Text by Pikukuh
Photo by @kartinifilm

Tinggalkan Balasan