knock knockKNOCK KNOCK 2/5 STARS
“Ketika Godaan Terbesar Mengetuk Pintu Rumah”

Perkenalkan Evan Webber (,), pria mapan yg memiliki (hampir) segalanya: pekerjaan hebat, istri dan sepasang anak yang menggemaskan, rumah gedongan serta kehidupan keluarga yang tampak harmonis. Adegan pembuka saat perayaan Father’s Day dimaksudkan menjadi potret kebahagiaan keluarga Webber. Nyaris tanpa cacat!

Plot pun bergulir ketika di suatu akhir pekan, sang isteri harus pergi mengikuti eksebisi di luar kota sembari mengajak sepasang anak mereka bermain di pantai. Evan terpaksa tidak ikut untuk menyelesaikan pekerjaan di rumah. Di suatu malam yang dipenuhi deras hujan, pintu rumah mewah Keluarga Webber pun diketuk. Muncullah 2 gadis dengan tampilan molek berbasah ria, Bel (Ana de Armas) dan Genesis (Lorenza Izzo). Dengan alibi salah alamat dan ponsel basah, mereka yang mengaku sebagai pramugari pun akhirnya diperkenankan masuk ke rumah.

Sambil menunggu taksi dipesankan, momen perkenalan dua gadis misterius dan Evan pun dibangun. Evan yang mantan DJ pun dipuji masih tampil awet muda layaknya pria berusia hampir 30 tahun. Pertahanan Evan lengah ketika memanggil para gadis di kamar mandi saat taksi telah datang. Evan yang sudah sekian lama tidak bercinta karena kesibukan sang isteri, menemukan kejutan saat digerayangi para gadis. Adegan threesome pun tidak terelakkan dan pastinya dibabat gunting sensor LSF.

Pagi menjelang, Evan tersadar dan rasa bersalah pun memuncak. Sementara itu para gadis masih sibuk bermain-main dan tak hendak ingin pulang. Evan yang kemudian memaksa mengantarkan mereka mendapati teror dan mimpi buruknya masih berlanjut.

Ditulis, diproduseri, dan disutradarai oleh Eli Roth (Hostel), thriller erotis ini tidak menemukan momentumnya sama sekali. Tidak hanya dialognya terdengar kacangan dan adegan yang dangkal, isu terbesar film ini adalah kurangnya motif yang kuat dan penyelesaian yang tidak jelas. Para pelaku yang sudah mengincar Evan sejak lama tidak diberikan landasan motivasi yang mendasari aksi mereka. Sungguh terlihat bodoh dan seluruh film tampak seperti kekacauan belaka.

Reeves yang terakhir cukup mengesankan sebagai John Wick benar-benar tampil tak berdaya sebagai aktor. Apalagi namanya pun muncul sebagai salah satu produser. Sebagai thriller yang dimaksudkan menegangkan, film ini gagal menyelesaikan misinya. Beberapa unsur jatuh ke sisi komedik, itupun dieksekusi dengan tanggung, jika tidak mau dibilang payah. Penulis pun kesulitan menemukan satu hal berkesan dari film ini yang patut dibawa pulang seusai credit title menampakkan dirinya.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan