Krampus_posterKRAMPUS 2.8/5 STARS
“Lagi, Menakut-nakuti Anak dengan Dongeng”

Siklus di Desember, kisah dongeng yang (agak) memiliki relevansi dengan tema Natal coba diangkat ke medium layar lebar. Jika Santa Claus yang membawa keceriaan sudah dirasa membosankan, maka alternatif‎nya adalah meramu kisah klasik yang diceritakan ulang (yang kebetulan bernuansa gelap), contohnya: si antagonis ‘The Grinch’ atau ‘A Christmas Carol’ dengan tokoh Uncle Scrooge yang bergiliran dihantui.

Opsi lainnya ialah mengangkat fiksi semisal Elf atau The‎ Polar Express. Kali ini yang mendapat kehormatan difilmkan adalah legenda asal Jerman tentang sisi gelap Natal. Konon jika semangat kasih sukacita Natal padam, maka (secara tidak sengaja) akan mengundang makhluk monster bertanduk pembawa bencana pencabut nyawa: Krampus! Dan ternyata Krampus punya antek-antek penjahat juga, mulai peri, gingerbread man, badut, hingga robot!

Alkisah bocah bernama Max punya pengalaman Natal yang menyebalkan. Mulai dari pentas drama yang berbuntut kekacauan, hingga kedatangan rombongan, om, tante dan kakak-kakak sepupu yang hobi mem-bully dirinya. Puncak kekesalannya diwujudkan dengan merobek-robek surat permohonan yang awalnya ditujukan kepada Santa Clause.

Listrik dan sinyal pun mendadak mati menahun. Lalu tidak butuh waktu lama bagi ke-12 orang anggota keluarga tersebut mengalami teror dari Krampus dan antek-anteknya.‎ Satu per satu dari mereka divisualisasikan diculik bahkan ditelan bulat-bulat oleh Krampus and the gang.

Tema horor dan family friendly coba ditawarkan film ini, sekaligus mempopulerkan dongeng‎ yang masih awam bagi publik. Rating PG-13 diharapkan menjadi solusi tengah. Sayangnya justru berakhir tanggung. Cukup mengerikan bagi konsumsi anak-anak namun sungguh tampak cupu untuk penonton dewasa.

Minimnya aktor dan aktris ternama (yang cukup agak dikenal publik hanyalah pemeran orangtua, Adam Scott dan‎ Toni Colette) membuat film hanya berfokus pada sang makhluk Krampus, dengan biaya produksi yang minim, hanya $15 juta. Terbukti di 3 hari akhir pekan perdana pemutarannya, Krampus sudah balik modal! Genre yang cukup nyeleneh menemukan celahnya secara komersil.

Juga bagian ending yang tidak biasa dapat menimbulkan beberapa interpretasi yang berbeda. Sayangnya hal tersebut tetap tidak mampu menjadi penopang faktor-faktor lemah film ini: berbagai karakter yang karikatural alias 2 dimensi, alur yang bodoh (kedua orang tua membolehkan anak gadisnya menembus ‎badai salju 4 blok, hanya untuk menengok kekasihnya yang tiada kabar?!?!), dan plot yang tertebak (satu per satu karakter hilang, menjadi korban monster, hingga tersisa tokoh utama).

Pesan moral legenda monster Krampus yang bertujuan untuk ‘menakut-nakuti’ anak agar memiliki sukacita Natal dan selalu bersyukur bisa jadi‎ justru gagal diterima dengan baik, tidak diingat oleh para penonton. Selain hiperbolik, penonton cilik justru akan lebih berfokus terngiang pada teror yang ditebar Krampus. Sementara penonton dewasa mungkin akan berusaha agar matanya tetap terjaga atau tidak bosan selama 97 menit durasi film ini.


Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan