la-la-landLA LA LAND 4.7/5 Stars
“Surat Cinta Untuk Para Pemimpi”

Perkenalkan pasangan pemimpi, Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling). Mia bekerja part time sebagai pelayan di coffee shop dekat studio perfilman Hollywood, Los Angeles. Minat Mia sebenarnya menjadi aktris profesional. Ia hanya mampu memandang sambil berkhayal ketika ada aktris yang membeli kopinya. Bahkan ketika diberi gratis oleh sang manajer kedai pun, sang aktris ngotot tetap membayar kopi itu. Perjuangan dari satu audisi ke audisi lain, yang selalu berakhir buntu menjadi kegalauan menahun Mia.

Sebastian, juga masih berjuang di dunia seni. Berawal dari pianis idealis yang bermimpi memiliki klub musik jazz sendiri. Baginya, jazz bukan cuma musik, namun mengakar ke filosofi, bahkan pandangan hidup. Ironisnya, Sebastian harus mengais rejeki menjadi pianis restoran, yang tak memerlukan bakat secemerlang dirinya. Ketika sudah tak tahan karena tidak bisa berimprovisasi, maka ia pun harus merelakan pekerjaannya.

Mia dan Sebastian berpas-pasan beberapa kali secara tidak sengaja. Dengan gelora dan ambisi seni yang meletup-letup, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk saling memahami keresahan masing-masing. Kekasih Mia saat itu, Greg pun tak segan ditinggalkannya. Berjuang tertatih, sedih senang, direguk Mia dan Sebastian bersama.

Sampai suatu ketika, datanglah teman semasa sekolah Sebastian dulu, Keith (John Legend). Keith menawarkan kepastian pekerjaan yang memberikan penghasilan tetap bagi Sebastian. Hal yang selama ini menjadi syarat utama dari ibunda Mia. Keputusan Sebastian berimbas banyak hal berikutnya yang tak pernah diduganya.

Di film ketiganya, penulis sekaligus sutradara, Damien Chazelle kembali menghadirkan karya yang sarat dengan musikal, drama bahkan percikan komedi yang tak terduga lebih kocak dibanding keseluruhan film Hangout! Masih hangat dalam ingatan ketika Chazelle mengarahkan J.K. Simmons menggila tentang tempo, sekaligus mengantarkannya meraih Aktor Pendukung Terbaik di Whiplash (2013). Belum lagi 2 Oscar lain yang telah didapat film itu dari departemen teknis.

Film yang didistribusikan Lionsgate ini meraih pencapaian di atas Whiplash. Bukti nyatanya jelas puluhan penghargaan di dunia perfilman dan yang terbaru, sapu bersih di 7 kategori Golden Globe 2017! Sekaligus memecahkan rekor sebagai Film dengan Piala Globe terbanyak sepanjang sejarah! Rekor yang akan amat sangat sulit dipecahkan di masa mendatang.

Ryan Gosling khusus belajar piano secara intensif demi peran Sebastian. John Legend, yang di film ini juga harus belajar bergitar, konon memuji kecepatan Ryan Gosling bisa menguasai piano dalam waktu yang tak lama. Nyanyian Ryan Gosling dan Emma pun menggunakan suara mereka sendiri. Latihan nyanyi dan koreografi yang membutuhkan kerja keras, ternyata berujung manis. Untungnya pertemuan ketiga mereka di film ini (setelah Crazy Stupid Love & Gangster Squad) mudah membentuk chemistry yang dengan jelas tampak hangat di depan layar.

Editing yang cekatan dan sinematografi yang indah membuat film berdurasi 128 menit ini tak membosankan, sekaligus menawan. Dramaturgi kisah berlangsung menanjak. Beberapa momen penting dibuat perlahan agar pesan yang dikirim Chazelle mampu sampai ke benak penonton. Dengan mulus, adegan dapat beralih ke fase berikutnya dengan tetap mampu membuat penonton terdiam menyimak.

Banyak dialog bermakna yang dapat dicermati. Tak cuma pergulatan batin kedua tokoh utama. Bagaimana kondisi dari luar (misalnya pengaruh Keith) yang tak dapat dihindari jelas mempengaruhi hubungan Mia dan Sebastian. Penonton tak cuma empati ataupun peduli, tapi juga jatuh hati terhadap kedua karakter itu.

Rasa melayang penuh cinta sekaligus hempasan konflik yang tersaji di sepanjang film tak akan dirasakan mendalam jika tidak diperkuat dengan ilustrasi musik atau lagu tema yang indah. Sosok Justin Hurwitz di departemen musik berperan besar untuk mengatur mood penonton. Musik tak hanya sebagai pengiring, tapi sekaligus tokoh utama ketiga yang menjadi nafas selama durasi film bergulir.

Film ini akan menjadi Calon Kuat Piala Oscar 2017, yang akan digelar akhir Februari mendatang. Terlepas dari hasilnya, film ini telah menetapkan standar baru dan tinggi untuk film musikal. Terlebih menggabungkan seluruh elemen artistik menjadi satu kesatuan seni yang lengkap, nyaris tanpa cacat.

Keberhasilan film dengan masa produksi 6 tahun ini juga dapat dinilai dalam menggerakkan nurani penonton. Terlebih di 10 menit terakhir, film ini mampu membuat saya tertegun… lama.. Hingga ketika credit title muncul pun saya nyaris tak bisa berucap kata selain bersyukur, bahwa film tipikal ini termasuk satu-satunya maha karya dan memang perlu untuk dibuat. Bukan saja demi alasan komersil, namun esensinya perlu digambarkan dengan mempesona kepada publik.

Film yang akan dirilis resmi di Indonesia 10 Januari 2017 ini ibarat sebuah tribute, berupa sepucuk surat cinta untuk para artis alias pemimpi. Sosok seniman yang rindu bebas mencari identitas, berekspresi tanpa batas, namun tetap mampu berpenghidupan dari passion-nya. Hal yang jelas tak semudah mengedipkan mata.

La La Land jelas mendedikasikan dirinya untuk seluruh para pemimpi, yang tetap berjuang, tak mengenal patah arang. Memberi inspirasi, motivasi sekaligus alasan untuk berpengharapan. Selamat bermimpi dan berjuang mewujudkannya!

Text by Pikukuh
Photo by clotureclub[dot]com

Tinggalkan Balasan