IMG_20151203_233718LEGEND 4.3/5 STARS
“Kisah Destruktif Duo Kembar Disfungsional”

Tom Hardy, aktor bersuara berat yang (hampir) selalu tampil mengesankan kembali hadir! Tidak hanya satu peran, tapi tampil sebagai 2 tokoh yang berbeda! Bukan, ini bukanlah sinetron picisan yang memunculkan sang aktris dalam 2 tokoh kembar yang hanya berbeda sekilas secara fisik dengan balutan karakter dangkal introvert versus extrovert.

Hardy berperan sebagai Kray bersaudara kembar: Ronald dan Reginald, alias Ronny dan Reggy. Selain kacamata dan gaya rambut, perbedaan fisiknya memang tidak terlalu mencolok‎. Namun perbedaan karakter (dan orientasi seksual) menjadi hal unik bagi keduanya. Tidak sebatas introvert atau extrovert semata, karena kompleksitas karakter masing-masing peran tersaji sepanjang film. Semakin lama mereka berinteraksi, penonton menjadi kian mengenal sisi gelap dan terang dari masing-masing Ronny dan Reggy.

Duo kembar bersaudara Kray berprofesi‎ sebagai gangster di wilayah East End, London di sekitar era 1950-1960-an. Polisi yang berusaha menyelidiki mereka selalu ketinggalan langkah, bahkan sering di-bully oleh Reggy. Semenjak kriminal pesaing mereka, Richardson Bersaudara, diringkus pihak berwajib, langkah Kray Bersaudara kian ringan. Ditambah dengan kepemilikan klub dan “akuisisi” kasino secara paksa, yang pada akhirnya turut disponsori oleh mafia asal Amerika semakin menambah kerajaan kekuasaan Kray. Ironinya pada saat itu banyak masyarakat justru segan dan respek terhadap mereka.

Film ini juga berupaya memanusiakan Kray Bersaudara dengan mengulik personal Reggy dan Ronny. Reggy menaruh hati kepada Frances Shea (Emily Browning),yang sayangnya ditentang oleh ibunda Frances. Reggy yang berkali-kali terlibat masalah hukum hampir menggoyahkan keyakinan Frances akan kesungguhan Reggy. Reggy pun berjanji untuk mulai meninggalkan kelamnya kehidupan gangster seringkali ingkar janji dan sayangnya harus berakhir dengan penyesalan yang amat sangat.

Dikisahkan Reggy sedari kecil berupaya selalu melindungi Ronny, tapi tidak selamanya berhasil. Ronny, yang seorang gay, cenderung memiliki kelainan jiwa, ketergantungan obat, tidak mampu mengontrol tindakannya, bahkan jika itu menyinggung atau menyakiti pihak lain. Sisi emosional Ronny tidak jarang justru mengundang masalah yang jauh lebih besar.

Interaksi bahkan chemistry antara Kray Bersaudara menjadi faktor pemikat tersendiri. Memang, darah lebih kental dari apapun juga. Hal tersebut yang mampu memicu rasa benci-benci namun tetap sayang dan tidak bisa lepas dari antara keduanya. Terdapat momen-momen emas ketika Kray Bersaudara duel penuh kebencian di klub milik mereka. Adegan lain yang mengesankan adalah saat Reggy “terpaksa” menghabisi salah satu anak buah me‎reka dengan sadis, hanya karena sebenarnya ia sangat ingin membunuh Ronny namun tidak akan pernah bisa, karena jelas mereka saling mengasihi sebagai saudara kembar. Kasih yang tragisnya berujung kehancuran bagi semua.

Terdapat perkembangan akting Hardy bila dibandingkan saat ia melakukan solo di sepanjang film Locke atau ketika ia menjadi musuh manusia kelelawar di The Dark Knight Rises. Seluruh pemeran lain terlihat menjadi pendukung yang baik demi kecemerlangan Hardy dalam memainkan 2 peran sekaligus yang melelahkan dan tidak mudah.

Film yang diadaptasi dari buku karangan John Pearson ini mengisahkan naik turunnya kehidupan Kray Bersaudara yang kelam selama 131 menit. Sayangnya durasi yang cukup lama ini tampaknya kurang dimanfaatkan dengan cermat. Penulis dan sekaligus sutradara, Brian Helgeland terlihat belum mulus menjalankan tugasnya. Sering terlihat cepat di beberapa adegan yang rapat dengan berbagai tokoh yang gantian bermunculan. Hal ini cenderung membingungkan penonton. Dari sisi adaptasi sebuah buku, sebaiknya ada beberapa hal yang dapat disesuaikan dengan medium penyampaiannya.

Sementara di sisi lain kedalaman karakter masing-masing Kray Bersaudara masih belum optimal. Penonton lebih diajak menyimak sepak terjang destruktif mereka tanpa diberikan pijakan yang mencerahkan mengapa Kray Bersaudara berlaku dan berwatak seperti itu.

Tahun ini pun ada tema serupa yang ‎berkisah tentang ‘persaudaraan’ mafia dengan polisi lewat Black Mass (Johnny Depp – Joel Edgerton) yang secara kualitas memang lebih unggul dibanding Legend. Namun berkat konsistensi akting Tom Hardy dalam menginterpretasikan kembar Kray yang disfungsional ini, Legend menjadi sebuah tontonan yang asik dengan dramaturgi yang cukup seru.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan