LionLION 4.2/5 Stars
“Putra yang Tersesat”

Jangan mudah tertipu dengan judulnya. Tak ada penampakan satu ekor singa pun di film berdurasi 118 menit ini. Alih-alih binatang buas, bintang utama film ini adalah seorang bocah India, yang kemudian beranjak dewasa. Di usia 5 tahun, Saroo (Sunny Pawar) terpisah dari kakak kandungnya, Guddu (Abishek Bharate), yang bekerja serabutan di stasiun kereta api. Saat terbangun, Saroo sudah berada di atas kereta api yang membawanya semakin jauh dari Guddu dan ibunya, yang bekerja sebagai pencari batu.

Petualangan Saroo hanya sebatang kara mulai menemukan tiik cerah ketika ia akan diadopsi oleh suami istri asal Australia, John Brierley (David Wenham) dan Sue Brierley (Nicole Kidman). Saroo (Dev Patel) yang sudah beranjak dewasa mulai gelisah mencari identitas diri, sekaligus keberadaan ibu kandung, dan saudaranya. Dengan bantuan teknologi, Saroo mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya.

Diadaptasi dari buku karya Sarloo Brierley bertajuk ‘A Long Way Home’, film ini mampu bercerita dengan sederhana namun memikat. Garth Davis (yang mendapat nominasi di Director Guild Awards tetapi gagal mencuri perhatian Juri Oscar) menyusun alur perjalanan panjang Saroo tanpa harus jatuh ke drama penuh penderitaan berair mata. Perjuangan Saroo kecil jelas mengundang empati yang menyentuh perasaan. Hebatnya, tak ada kesan cengeng sama sekali. Ketika Saroo dewasa berkonflik dan menemui kenyataan pun ditampilkan dengan elegan.

Keberhasilan Garth Davis membawa film ini meraih 6 nominasi Oscar yang akan diumumkan pemenangnya pada 27 Februari. Sinematografi yang cukup nyata (sekaligus mengingatkan penonton akan kondisi yang sering luput disimak dari keseharian) dan ilustrasi musik film ini pantas mendapat nominasi. Lagu tema ‘Never Give Up’ (Sia) yang tampil di credit title juga mengusung roh yang selaras, begitu juga performa Dev Patel dan Nicole Kidman yang mendapat porsi sebagai peran pendukung. Bahkan Patel pun sempat meraih Trofi Aktor Pendukung Terbaik di gelaran BAFTA beberapa minggu lalu.

Kisah non fiksi Saroo sudah memiliki elemen drama yang kuat, juga menginspirasi dengan caranya sendiri. Tak butuh dramatisasi berlebihan adalah treatment yang tepat. Davis telah menjalankan tugasnya dengan lebih dari cukup. Hingga penonton pun tak sadar, bahwa mata kita bisa saja dibuatnya (hampir) berkaca-kaca.

Text by Pikukuh
Photo by filmmisery[dot]com

Tinggalkan Balasan