loganLOGAN 4/5 Stars
“Ajang Perpisahan yang Mengesankan”

Berlatar tahun 2029, film ketiga yang bercerita pada tokoh utama Wolverine (Hugh Jackman) ini mengambil pendekatan berbeda. Sang sutradara, James Mangold (sebelumnya telah mengarahkan Hugh Jackman 2 kali di Kate and Leopold, The Wolverine) terlihat piawai menyajikan sebuah tribute terakhir Hugh Jackman dalam memerankan karakter khas ini.

Dikisahkan para mutan sudah mulai punah. Keberadaannya yang tinggal segelintir mulai terpinggirkan. Logan, nama asli Wolverine, menyambung hidup dengan menjadi sopir limousine. Tinggal dekat dengan perbatasan Meksico, di tempat tandus bersama Prof Charles Xavier (Patrick Stewart) dan seorang albino mutan, Caliban.

Logan yang sekarang sudah menua, kondisi fisiknya menurun, cakarnya pun tak sepanjang dulu. Terlebih secara psikis, ia mengalami tekanan, depresi dan nyaris putus asa. Hugh Jackman pun menggambarkannya dengan versi terbaik sepanjang sejarah memerankan karakter tersebut.

Masalah mulai muncul ketika Logan didatangi Gabriela, seorang perawat misterius, dengan anak perempuannya Laura (Dafne Keen). Gabriela meminta Logan mengantarkan mereka ke tempat perlindungan karena nyawanya terancam. Di bawah komando Pierce (Boyd Holbrook), bukan hanya nyawa ibu-anak ini yang menjadi incaran, Logan pun juga.

Film berdurasi 137 menit ini bukan film superhero pada umumnya. Memang karakter-karakternya memiliki kekuatan super, namun konflik yang mereka hadapi terasa nyata. Tak butuh efek visual dramatis untuk menyajikan keseruan berlapis. Kekuatan film road movie ini bersumber pada pengembangan karakter sekaligus interaksi di antara mereka.

Jackman yang paling bertanggungjawab dalam merebut empati penonton. Performa Stewart menawan saat menampilkan peran Xavier yang tak biasa. Sosok tenang dan bijaksana yang selama ini dicitrakan diputar jauh berbeda. Limbung, resah, menyimpan perasaan bersalah sekaligus berhasil mengundang sisi komedi adalah sekian banyak hal baru yang segar dipertontonkan Stewart.

Yang menjadi pencuri perhatian jelas penampilan pendatang baru, Keen. Hasil audisi yang ketat membuktikan keberhasilan Dafne Keen dalam memerankan Laura yang mematikan dalam sekali tatap. Sekalinya Laura beraksi, semua tokoh pun dibuat tak berdaya. Penonton pun terkesima. Chemistry Stewart-Jackman-Keen menjadi salah satu ensemble yang terbaik di awal tahun ini.

Sinematografi yang ditampilkan di film yang konon juga menjadi penampilan Stewart terakhir ini, berhasil membangun atmosfer sejiwa dengan konflik batin para karakternya. Gersang, terasing, sekaligus rasa lelah bercampur menjadi satu dan sukses dirasakan juga oleh penonton.

Ketika babak final dituntaskan, begitu pun perpisahan Jackman terhadap tokoh yang telah diperankannya selama 17 tahun. Sungguh sebuah tampilan perpisahan yang pantas, berjiwa nan mengesankan.

Text by Pikukuh
Photo by filmmisery[dot]com

Tinggalkan Balasan