london has fallen
LONDON HAS FALLEN 3/5 STARS
“Superman itu Masih Berwujud Danpaspampres‎”

Kesuksesan komersil film jelas mengundang para produsernya untuk segera membuat jilid selanjutnya, yang mungkin nggak pernah direncanakan sebelumnya. Pada tahun 2013, hadir 2 film dengan tema mirip: drama aksi penyelamatan Presiden oleh staf kepercayaannya. Olympus Has Fallen dibintangi duet Gerard Butler-Aaron Eckhart dan White House Down, Channing Tatum-Jamie Foxx. Keduanya menampilkan aksi heroik sang pengawal mempertahankan nyawa Presiden sekaligus menghabisi nyawa musuh alias teroris yang menyerang.

Pendapatan yang diraih di Amerika Utara dan Kanada saja berturut-turut adalah $98.8 juta dan $73.1 juta. Sementara ‎perkiraan biaya produksinya saja masing-masing $70juta dan $140juta. Bila dibandingkan pendapatan versus biaya produksi, Olympus Has Fallen jelas lebih menguntungkan. Faktor inilah yang membawa penonton disuguhkan kelanjutan aksi Mike Banning (Gerard Butler) dalam menyelamatkan (lagi dan lagi) Presiden Benjamin Asher (Aaron Eckhart), yang kali ini ber-setting di London.

Layaknya sekuel, harus memenuhi syarat: lebih dashyat dari seri pendahulunya. Apalagi ini genre aksi. Maka harapan penonton akan aksi ledakan terorisme, tembak-tembakan, dan kejar-kejaran akan terpenuhi dengan paripurna. Kota London diamuk teroris dengan aksi serentak yang ternyata Scotland Yard pun telah disusupi pemberontak.

Sistem teror yang sangat rapi dan terorganisir sudah‎ dirancang sedemikian rupa oleh sang otak yang rupanya telah diceritakan sedari awal durasi film. Penonton nggak perlu memikirkan misteri siapa sebenarnya dalang kejahatan, sengaja dibuat transparan rupanya. ‎Keterlibatan orang dalam Scotland Yard pun mudah ditebak dan tampak tidak sulit diselesaikan menjelang akhir film.

Menceritakan meninggalnya salah satu pejabat penting Inggris yang membawa keterlibatan logis datangnya para kepala negara dari berbagai penjuru dunia. Target empuk yang telah diincar penonton dan pastinya mengguncang dunia internasional. Sang jagoan kita, Banning menyelamatkan mati-matian satu-satunya kepala negara strategis, Asher, dari satu lokasi London hingga ke markas MI6 dan gorong-gorong, tempat dimana tidak terbaca satelit.

Banning sebagai komandan Pasukan Pengawalan Presiden (Danpaspampres) masih ditampilkan bak superman yang sanggup menghabisi puluhan, bahkan mungkin ratusan teroris tanpa luka penting! Apalagi ketika dikisahkan ia menyerbu markas teroris. Kedigjayaannya yang sungguh berlebihan sekaligus melelahkan.

Namun aksi yang disajikan sepanjang film tetap dalam kategori menghibur. Walau Asher dan Banning yang lagi-lagi masih selamat saat helikopter jatuh ditembak rudal teroris tetap ‎terasa mengada-ada demi kebutuhan konflik cerita saja.

Jenis film aksi lebay ini menjadi genre popcorn movie yang renyah disantap namun kopong dari segi karakterisasi dan kedalaman cerita. Tokoh-tokoh pendukung yang disposable (mudah dibuang) pun gampang diperkirakan akan menemui ajalnya kecuali 2 tokoh utama. Isu Banning yang hendak resign, mempersiapkan kelahiran‎ anak pertamanya, hingga obrolan tentang fatherhood dengan Asher menjadi latar belakang yang belum cukup kuat untuk mengundang empati penonton.

Sekuel ini layak diproduksi untuk keseruan semata. Demi pangsa pasarnya sebagai hiburan tanpa pemikiran berlebih. Enjoy the ride and have fun!

Text by @pikukuh22
Photo moviepilot[dot]com

Tinggalkan Balasan