ScorchTrialsMaze Runner: The Scorch Trials: 3.3/5 STARS

“Semacam Menyantap Gado-Gado Tanpa Ciri Khas”

Tema zaman pasca kiamat (post-apocalypse) berlanjut bagi Thomas (Dylan O’Brien) dan kawan-kawannya setelah berhasil keluar dari labirin di film pertamanya. Petualangan mereka berlanjut di dalam naungan fasilitas yang dikelola Janson (Aidan Gillen). Di sana mereka bertemu dengan banyak remaja yang juga sukses melarikan diri dari labirin masing-masing. Secara rutin, Janson memanggil beberapa remaja terpilih dan setelahnya, mereka tidak pernah kembali lagi.

Tidak butuh lama bagi Thomas, dengan dibantu oleh Aris (Jacob Lofland), penghuni paling senior di sana, mengetahui bahwa tempat mereka berlindung tidak seperti yang dibayangkan awalnya. Organisasi yang mereka lawan, WCKD (World in Catastrophe: Killzone Department) diwakili oleh Ava Paige (Patricia Clarkson) yang memiliki misi rahasia terhadap nasib para remaja survivor tersebut. Salah satu remaja yang heroik pun sudah bisa tertebak harus merelakan nyawanya agar para temannya selamat.

Ibarat makanan, seri keduanya ini ibarat gado-gado yang sayangnya tanpa ciri khas rasa tertentu. Disebut gado-gado karena semacam dejavu, mencampuradukkan ingatan penonton akan banyak elemen dari film-film bertema serupa sebelumnya: ‘The Hunger Games’, ‘Divergent’ bahkan ‘World War Z’ dan ‘The Resident Evil’. Benar, banyak adegan makhluk semacam zombie berkeliaran entah dari mana mendadak hendak menghabisi para remaja jagoan.

Jika ‘The Hunger Games’ memiliki daya tarik permainan reality show maut sebagai ironi hiburan kaum tirani, serta ‘Divergent’ bercirikan 5 fraksi yang justru diadakan demi terciptanya keteraturan dan kepatuhan semu, maka seri kedua ‘Maze Runner’ hadir tanpa pondasi kekuatan kokoh yang memikat. Seharusnya Wes Ball (yang sebelumnya duduk di kursi sutradara film pertamanya kembali mengarahkan sekuelnya ini) dapat tetap mempertahankan keunikan yang telah dicapai dari seri pendahulunya.

Terlalu banyaknya film sejenis yang hadir lebih dulu, membuat film ini kurang orisinil dari banyak lini. Dapat dikategorikan sangat generik bahkan. Walaupun tidak ada labirin secara eksplisit, namun pengaturan strategi dan kerjasama mengungkap misteri minim muncul di sekuelnya ini. Hampir di sepanjang film, Thomas sebagai pemimpin dalam membawa teman-temannya, hanya berlari menghindar dari kejaran pihak WCKD dan makhluk jejadian, tanpa ada konsep yang cermat. Durasi 131 menit pun menjadi terasa kian lama.

Terlalu banyaknya tokoh yang ditampilkan juga membuat film ini agak kehilangan fokus bertuturnya. Bahkan beberapa tokoh hanya dihadirkan secara 2 dimensi tanpa mengundang empati. Kemunculan tokoh-tokoh pendukung ada yang terbilang singkat, sayang karena sebenarnya berpotensi dapat digali secara lebih menarik.

Lemahnya penokohan agak dibantu dengan hadirnya karakter baru, Brenda (Rosa Salazar) yang spontan sekaligus tangguh. Dapat diduga juga, dari sekawanan remaja tersebut ada salah satu yang “berkhianat” (dengan alasannya sendiri) justru memanggil pihak WCKD ketika mereka telah merasa aman.

Banyaknya adegan berlari, kejar mengejar menjadi sajian aksi utama. Atmosfer distopia disajikan gersang dengan lanskap kota berselimutkan padang pasir dengan bongkahan pondasi gedung beserta puing-puingnya. Walaupun seri keduanya ini tidak membawa sesuatu hal baru yang menyegarkan, namun seri ketiga ‘Maze Runner’ masih layak ditunggu: para remaja versus WCKD.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan